Kalau dulu orang tua belajar parenting dari keluarga, buku, atau seminar, sekarang jalurnya jauh lebih luwes. Kita bisa belajar dari mana saja, termasuk dari sesama orang tua yang sedang mengalami hal yang sama. Inilah yang disebut dengan peer parenting.
Fenomena ini makin kelihatan di era digital, ketika para orang tua nggak lagi sendirian mengasuh anak, melainkan saling berbagi pengalaman, tips, sampai resep bertahan hidup lewat grup WhatsApp, Facebook, Telegram, atau komunitas online lainnya. Ternyata, dukungan dari sesama orang tua itu punya manfaat besar, lho HEALMates!
Apa Itu Peer Parenting di Era Digital?
Secara sederhana, peer parenting adalah bentuk dukungan, cerita, dan pertukaran pengalaman antar-sesama orang tua (peer atau sejawat). Lantas, apa bedanya dengan sumber profesional? Kalau ahli berbicara dari teori, orang tua lain bercerita dari pengalaman nyata.
Di era digital, bentuk peer parenting jadi makin luas. Kita bisa lihat contohnya sehari-hari:
- Grup WhatsApp ibu-ibu sekolah yang rame banget tiap ada jadwal vaksin.
- Komunitas Facebook yang isinya berbagi tips MPASI, review stroller, atau cara menghadapi tantrum.
- Akun TikTok/Instagram yang jadi tempat orang tua saling tanya jawab.
- Forum digital yang mempertemukan orang tua anak berkebutuhan khusus untuk saling support.
- Program peer support formal yang menghubungkan orang tua baru dengan mentor orang tua yang lebih berpengalaman.
Intinya, ini bukan sekadar “grup ngobrol” aja ya HEALMates, tapi ruang aman untuk mencari solusi, berbagi beban, dan mendapatkan validasi.
Kenapa Peer Parenting Jadi Penting di Era Digital?
Ada beberapa alasan mengapa peer parenting ini jadi hal yang penting di era digital, antara lain:
1. Mengurangi Rasa Sendirian
Banyak orang tua, terutama ibu baru, seringkali mengalami rasa terisolasi. Begitu punya bayi, rutinitas berubah total. Belum lagi kalau kurang tidur, bingung menghadapi tangisan bayi, atau pusing soal perkembangan anak.
Menurut sebuah studi dari Yamashita (2022), peer support online ini terbukti membantu mengurangi stres dan meningkatkan well-being ibu baru karena mereka merasa “nggak sendirian.”
2. Berbagi Pengalaman Nyata
Terkadang, yang kita butuhkan bukan teori panjang, tapi jawaban cepat dari pengalaman nyata. Misalnya:
- “Kalau anak lagi GTM, harus bagaimana?”
- “Merek diapers yang nggak bikin ruam apa ya?”
- “Cara mengajari toilet training paling efektif bagaimana?”
Banyak ahli yang menyebutkan bahwa orang tua sangat mengandalkan informasi digital dari komunitas sebaya karena terasa lebih relevan dan mudah dipraktikkan.
3. Meningkatkan Kepercayaan Diri sebagai Orang Tua
Saat membaca pengalaman orang lain yang berhasil mengatasi masalah serupa, kita jadi lebih tenang dan percaya diri. Bahkan, menurut studi yang dilakukan Leijten dkk. (2024), dukungan parenting online bisa sama efektifnya dengan dukungan tatap muka dalam mendukung proses pengasuhan.
4. Akses Informasi yang Lebih Terbuka
Nggak semua orang tua punya akses ke psikolog, konselor laktasi, atau kelas parenting. Peer parenting membuka jalur bantuan: murah, mudah, dan bisa diakses kapan saja. Peer mentor bisa membantu orang tua mendapatkan rujukan layanan profesional saat diperlukan.
5. Membangun Komunitas yang Lebih Empatik
Di tengah komentar nyinyir di media sosial, peer parenting justru menciptakan ruang empati. Orang-orang bisa curhat tanpa takut dihakimi. Dengan begitu, mereka bisa membantu membangun resilience keluarga yang mendorong model dukungan berbasis komunitas.
Meski demikian, peer parenting bukan berarti tanpa risiko. Ada beberapa hal yang mungkin saja terjadi, misalnya misinformasi di mana saran parenting populer belum tentu benar secara medis. Oleh karena itu, kita perlu selalu mengecek ulang kebenaran informasi pengasuhan yang kita dapatkan.
Pada akhirnya, kita harus memahami bahwa parenting adalah proses panjang, melelahkan, dan penuh kejutan. Tapi dengan adanya peer parenting di era digital, perjalanan ini jadi terasa lebih ringan. Kita bisa belajar, tertawa, menangis, dan berkembang bersama orang tua lain yang sedang berjuang juga. Semangat menjadi orang tua ya, HEALMates! (RIW)

