Logo Heal

ART, MONEY & TECHNOLOGY

Art, Money & Technology

Kreativitas sebagai Bahasa Kedua Anak,  Ketika Seni Jadi Cara Bicara yang Lebih Jujur

Kreativitas sebagai Bahasa Kedua Anak

Oleh :

Saat berbicara tentang anak-anak, ada banyak bahasa yang bisa disampaikan oleh mereka saat ingin mengungkapkan perasaannya ya, HEALMates. Ada anak yang langsung cerita saat sedih dan ada juga yang hanya menunduk, menarik napas panjang, lalu menaruh rasa itu di lubang kecil di dadanya. Sebagian dari anak-anak kita mungkin tidak tahu bagaimana cara mengungkapkan emosinya. 

Nah untuk kelompok kedua ini, seni seringkali muncul bukan sekadar sebagai hobi, tapi sebagai bahasa kedua, yakni cara aman untuk menumpahkan apa yang tak bisa diungkapkan lewat kata-kata. 

Anak-anak yang kesulitan mengeja perasaannya ini bisa menemukan ruang ekspresi lewat lukisan, musik, atau seni bermain peran. Kok bisa begitu? Agar tidak penasaran, yuk kita kupas selengkapnya dalam artikel berikut!

Kenapa Seni Bisa Jadi Bahasa Kedua Bagi Anak?

Menurut sejumlah literatur, seni disebut bisa menurunkan tekanan bahasa. Artinya, lewat medium ini, anak tidak perlu “menyusun kalimat yang benar” sehingga beban komunikasi pun otomatis berkurang. 

Sebuah kuas, selembar kertas, atau alat musik bisa jadi medium yang membiarkan perasaan muncul dalam bentuk warna, garis, ritme, atau gerak. Proses ini membantu anak menamai pengalaman internalnya, Nah, ini adalah salah satu langkah awal yang penting untuk regulasi emosi. 

Penelitian tentang art therapy juga menunjukkan ada efek positif pada kemampuan anak mengekspresikan kecemasan, kesedihan, atau ketakutan lewat media visual. 

Selain itu, seni juga disebut sebagai ruang aman bagi anak untuk mengeksplorasi berbagai hal. Misalnya, di panggung drama atau permainan peran, anak bisa “mencoba” jadi orang lain, mengulang adegan yang sesungguhnya sulit di kehidupan nyata, lalu bereksperimen sesuai dengan apa yang ada di hati mereka. 

Dalam sebuah jurnal tentang kekuatan terapi musik pada ekspresi emosi anak, seni juga dikatakan bisa membangun koneksi sosial. Musik bahkan dinilai punya kekuatan kolektif yang bisa meningkatkan ikatan dan mempermudah anak merasakan dukungan sosial. 

Membiasakan Anak untuk Berkreasi

Membiasakan anak menjadikan seni sebagai “bahasa kedua” bukan berarti memaksa mereka menjadi seniman ya, HEALMates? Namun, kita bisa membantu mereka menumbuhkan cara lain untuk mengekspresikan apa yang sulit mereka ucapkan dengan kata-kata. Anak-anak sering kali belum mampu mengidentifikasi atau mengartikulasikan perasaannya secara verbal, mereka tahu sedang sedih, marah, atau takut, tapi tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Di sinilah seni bisa menjadi jembatan.

Menurut Dr. Cathy Malchiodi, psikolog dan peneliti seni terapi asal AS, kegiatan kreatif seperti menggambar, bermain musik, atau bermain peran memberi ruang aman bagi anak untuk menyalurkan emosi tanpa takut dihakimi. “Seni memungkinkan anak berbicara dalam bahasa simbol dan warna yang kadang lebih jujur daripada kata-kata,” tulisnya dalam The Art Therapy Sourcebook.

Untuk membiasakan anak menggunakan seni sebagai sarana ekspresi, orang tua atau guru bisa mulai dari hal-hal sederhana seperti menyediakan alat gambar di rumah, memberi waktu khusus untuk mendengarkan musik bersama, atau mengajak anak bermain peran dari cerita favoritnya. Kuncinya adalah memberi ruang tanpa tuntutan hasil, karena yang ingin dibangun bukan keterampilan teknis, tetapi kebiasaan menyelami dan mengekspresikan perasaan melalui medium kreatif.

Dengan pendekatan ini, seni tak lagi hanya dianggap sebagai kegiatan tambahan, tapi sebagai bagian dari proses tumbuh yang membantu anak mengenali dirinya sendiri. Ketika anak terbiasa mengekspresikan emosi lewat warna, nada, atau gerak, mereka akan belajar bahwa ada banyak cara untuk “berbicara” dan setiap cara memiliki nilai yang sama pentingnya.

Namun kita tetap harus ingat HEALMates bahwa memberi anak “bahasa kedua” bukan berarti membuat anak lupa pada pentingnya kata-kata. Sebab meski seni bisa jadi jembatan komunikasi, namun bahasa verbal tetap jadi bahasa utama yang esensial. Sehingga ketika anak belajar “berbicara” lewat warna, nada, atau gerak, kita sejatinya sedang membantu mereka menjadi manusia yang lebih utuh agar mampu berkomunikasi dan juga bisa meregulasi emosi mereka sendiri. (RIW)

Bagikan :
Kreativitas sebagai Bahasa Kedua Anak

More Like This

Logo Heal

Kamu dapat menghubungi HEAL disini:

Heal Icon

0858-9125-3018

Heal Icon

00 31 (0) 6 45 29 29 12

Heal Icon

heal@sahabatjiwa.com

Copyright © 2023 HEAL X  Sahabat Jiwa