Logo Heal

ART, MONEY & TECHNOLOGY

Art, Money & Technology

Wajah Baru Kekerasan di Era Digital, Ketika Komentar Jahat Lebih Tajam dari Pisau

Dampak Cyberbullying

Oleh :

Perundungan atau bullying memang bukan lagi hal baru. Apalagi, perkembangan teknologi seakan membuat ruang-ruang bullying ini menjadi lebih terbuka lebar, bahkan di dunia pendidikan. 

Baru-baru ini, salah satu kasus bullying yang berujung hilangnya nyawa seakan menjadi kisah getir ya, HEALMates. Timothy Anugerah Saputra, seorang mahasiswa Universitas Udayana ditemukan tak bernyawa di depan gedung kampusnya pada Rabu, 15 Oktober 2025. Kepergian Timothy meninggalkan jejak sunyi yang menggema lebih keras dari pesan terakhir apa pun. 

Di balik kabar duka itu, mulai beredar potongan percakapan grup chat yang justru semakin menambah ironi, ejekan, tawa, dan komentar yang tak pantas. Kalimat-kalimat yang mungkin dianggap lucu oleh sebagian orang, tapi ternyata cukup tajam untuk melukai bahkan memotong sisa semangat hidup seseorang.

Kisah Timothy barangkali hanya segelintir dari banyaknya kasus bullying dan cyberbullying yang saat ini terjadi. Pertanyaannya adalah sejak kapan dunia maya yang seharusnya jadi tempat berbagi justru menjadi arena saling menyakiti? Sejak kapan komentar bisa lebih tajam dari pisau? Kapan tepatnya kita mulai menganggap luka psikologis sebagai sesuatu yang sepele? Pertanyaan-pertanyaan ini  seakan menjadi gaung yang mengingatkan kita betapa pentingnya menjaga diri dari kekerasan “kata-kata” di era digital. 

Komentar Jadi Pisau yang Tak Kasat Mata

Komentar ejekan, sinis, atau guyonan di media sosial sering dianggap “hal kecil”,  semacam bumbu percakapan agar terlihat lucu, spontan, dan relatable. Tapi di balik tawa dan emoji itu, tersimpan potensi luka yang dalam. Itulah mengapa, komentar-komentar seperti itu bisa jadi pisau bermata dua. Di satu sisi tampak ringan tapi di sisi lain bisa mengiris kepercayaan diri seseorang sampai habis.

Ada sebuah kasus ketika seorang remaja menerima tangkapan layar (screenshot) berupa olokan di grup chat; video pendek yang mempermalukan di-tag berulang-ulang atau serangkaian reply sinis di unggahan yang semula hanya ingin ia bagikan. Reaksi publik seringkali sepele, “Masa iya sampai begitu?”, “Biarin aja, yang penting viral.” Padahal korban merasakan hal berbeda, pengucilan, malu, rasa tidak berharga, bahkan kepercayaan diri yang runtuh perlahan. Dampaknya jadi lebih parah karena sulitnya kontrol atas penyebaran konten. 

Kalimat sinis di dunia nyata mungkin hanya terdengar oleh beberapa orang. Tapi di media sosial? Ia bisa dibaca ribuan, bahkan jutaan, di-screenshot, disebarkan ulang, jadi meme, bahkan jadi bahan tertawaan massal. Tanpa kita sadari, hal ini juga berarti luka korban ikut berulang, setiap kali orang lain menertawakan atau mengingat postingan itu.

Lebih rumit lagi, algoritma media sosial cenderung mendorong konten yang provokatif. Komentar pedas, debat kusir, atau ejekan ramai sering dianggap “engagement tinggi”. Akibatnya, makin banyak orang yang terdorong berkomentar ekstrem hanya agar didengar atau viral. Pisau itu pun jadi sistemik, bukan hanya di tangan individu, tapi diatur oleh sistem yang lebih besar. 

Dampak Cyberbullying pada Kesehatan Mental

Dampak nyata dari komentar pedas di media sosial atau cyberbullying terhadap kesehatan mental sering kali jauh lebih serius daripada yang terlihat.

1. Luka yang Tak Terlihat 

Ketika seseorang terus-menerus menjadi sasaran komentar jahat, baik itu soal fisik, gaya hidup, atau pendapatnya, tubuh dan otaknya akan bereaksi seolah sedang berada dalam bahaya. Tekanan psikologis itu memicu reaksi stres kronis, jantung berdebar, sulit tidur, pola makan terganggu, dan muncul rasa cemas berlebih. Menurut laporan UNICEF (2021), hampir 45% anak muda di Indonesia mengaku pernah mengalami bentuk cyberbullying dan dari mereka yang menjadi korban, sebagian besar menunjukkan gejala depresi ringan hingga berat. Mulai dari menarik diri, kehilangan minat, hingga pikiran untuk mengakhiri hidup.

2. Menurunnya Harga Diri dan Citra Diri

Komentar negatif, terutama yang menyerang aspek personal, seperti tubuh, warna kulit, gaya bicara, atau pilihan hidup, seringkali mengikis rasa percaya diri secara perlahan. Korban cyberbullying sering mulai mempertanyakan nilai dirinya, “Apa aku memang seburuk itu?”, “Mungkin mereka benar, aku nggak pantas di sini.”

Banyak studi yang menemukan bahwa remaja korban cyberbullying mengalami penurunan signifikan dalam self-esteem dan mengalami kesulitan membangun relasi sosial yang sehat. Bahkan setelah bullying berhenti, efeknya masih terasa: korban cenderung lebih mudah cemas dalam situasi sosial, takut dihakimi, dan sulit mempercayai orang lain.

3. Gangguan Tidur dan Pola Pikir Negatif

Efek domino dari stres dan depresi akibat komentar pedas biasanya berlanjut pada gangguan tidur. Korban sering terjaga hingga larut, membaca ulang komentar, atau merasa waspada setiap kali ponsel berbunyi. Lebih dari itu, otak korban mulai terperangkap dalam spiral berpikir negatif, semacam siklus di mana pikiran buruk tentang diri sendiri terus berulang sehingga menguatkan depresi dan rasa tak berdaya.

4. Rasa Isolasi Sosial dan Menarik Diri

Ironisnya, meski terjadi di dunia digital yang penuh “koneksi”, cyberbullying membuat seseorang merasa semakin sendirian. Korban mulai takut membuka media sosial, membatasi interaksi, bahkan menutup diri dari teman-teman di dunia nyata karena khawatir menjadi bahan gosip. Beberapa korban juga mengalami gejala mirip PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder) dan merasa cemas setiap kali melihat notifikasi baru atau mendengar nama pelaku disebut.

Nah, efek ini paling parah pada anak muda yang belum punya kemampuan regulasi emosi yang matang. Mereka bisa kehilangan kemampuan untuk percaya pada orang lain, termasuk pada orang tuanya.

5. Gangguan Kognitif dan Penurunan Prestasi Akademik

Tekanan mental akibat cyberbullying bisa menurunkan kemampuan otak dalam fokus, berpikir logis, dan mengingat. Anak-anak atau remaja korban seringkali menurun prestasi sekolahnya, sulit berkonsentrasi, dan kehilangan motivasi untuk beraktivitas.

6. Meningkatnya Risiko Bunuh Diri

Inilah dampak paling ekstrem dan paling menyedihkan yang bisa terjadi, HEALMates. Studi global bahkan menunjukkan bahwa korban cyberbullying dua hingga tiga kali lebih berisiko melakukan percobaan bunuh diri dibandingkan mereka yang tidak mengalami perundungan.

Di Indonesia, kasus Timothy Anugerah Saputra jadi bukti nyata. Ia diduga mengalami tekanan akibat perundungan di lingkungan kampus dan di ruang digital sebelum akhirnya memilih mengakhiri hidupnya. 

Kasus seperti ini sangat menampar kita semua ya, HEALMates? Betapa komentar pedas bukan sekadar “opini” tapi bisa menjadi peluru yang menembus batin seseorang hingga tak mampu bertahan.

Efek cyberbullying ini juga nggak hanya berdampak pada korban, tapi juga pada masyarakat digital itu sendiri. Ketika kita terbiasa menertawakan orang lain, menormalisasi ejekan, dan mencari hiburan dari aib seseorang, kita perlahan jadi kehilangan empati. Kita menjadi terbiasa pada kekerasan yang dikemas lucu, meme, roasting, thread sindiran, sampai lupa bahwa di ujung sana ada manusia yang benar-benar merasa hancur. Aduh, jangan sampai ya, HEALMates. 

Oleh karena itu, menjaga kesehatan mental di era digital bukan hanya tentang detoks media sosial atau digital minimalism, tapi juga tentang kesadaran moral bahwa kita perlu memperlakukan orang lain dengan baik. Sebelum menulis komentar, sebelum menekan tombol send, kita perlu memikirkannya dengan bijak ya, HEALMates. (RIW)

Bagikan :
Dampak Cyberbullying

More Like This

Logo Heal

Kamu dapat menghubungi HEAL disini:

Heal Icon

0858-9125-3018

Heal Icon

00 31 (0) 6 45 29 29 12

Heal Icon

heal@sahabatjiwa.com

Copyright © 2023 HEAL X  Sahabat Jiwa