Kita semua tentu mengharapkan kisah cinta yang manis, penuh kebahagiaan, dan saling mendukung satu sama lain. Tapi realitanya kadang lebih mirip film indie budget minim, banyak adegannya penuh keringat, air mata, dan perasaan lelah tak bertepi.
Nah, kalau hubungan yang kamu jalani bikin kamu lebih sering sesak napas ketimbang senyum, kamu harus mulai aware nih, HEALMates. Bisa jadi kamu sedang berada dalam toxic relationship, sebuah hubungan yang bukan lagi tempat bertumbuh, tapi medan perang batin.
Tapi tenang saja HEALMates, kamu nggak sendirian. Banyak orang terjebak dalam hubungan toxic ini tanpa mereka sadari. Biasanya butuh waktu untuk memahami bahwa sebenarnya mereka sedang ada dalam hubungan yang nggak sehat ini saat mereka sudah merasa lelah.
Lalu, apa itu toxic relationship? Bagaimana membangun hubungan sehat agar keluar dari hubungan toxic ini? Yuk HEALMates, kita bahas dalam artikel berikut ini!
Apa Itu Toxic Relationship?
Secara psikologi, toxic relationship adalah sebuah hubungan yang di dalamnya ada pola perilaku negatif, manipulatif, merendahkan, dan melemahkan mental atau rasa aman salah satu pihak (atau bahkan dua-duanya). Menurut teori relasi interpersonal, hubungan sehat adalah yang memberi:
- rasa aman,
- dukungan emosional,
- ruang berkembang,
- komunikasi yang terbuka, dan
- saling percaya.
Namun sebaliknya, hubungan toxic biasanya ditandai dengan:
- kontrol yang berlebihan,
- cemburu tidak wajar,
- manipulasi (gaslighting, guilt–tripping),
- emosional abuse,
- sering merasa “nggak cukup”, hingga
- perasaan hidup seperti sedang ikut lomba siapa yang paling sering mengalah sampai lupa diri.
Seseorang yang jadi korban toxic relationship ini nggak berarti kurang baik atau lemah. Tapi seringkali mereka bertahan karena cinta, karena terbiasa, atau karena takut sendirian. Pada dasarnya itu wajar-wajar saja ya, HEALMates. Tapi, kita perlu sadar bahwa cinta nggak seharusnya bikin hidup kita hancur pelan-pelan.
Biar lebih jelas, kamu bisa cek beberapa tanda kalau kamu sedang ada dalam hubungan yang nggak sehat ini.
- Dia ngatur kamu mulai dari pakaian, temen, aktivitas, bahkan mood.
- Dia bikin kamu sering merasa bersalah tanpa alasan jelas.
- Setiap ada masalah, kamu selalu disalahkan.
- Kamu takut ngomong jujur karena takut jadi pertengkaran dan drama yang menguras energi.
- Capek secara emosional tiap hari.
- Nggak pernah merasa cukup dan selalu salah.
- Dia selalu jadi korban dalam semua cerita (playing victim).
- Merasa sayang tapi nggak pernah menghargai keberadaanmu.
- Menyembunyikan banyak hal dari kamu.
Nah, kalau hubunganmu ada salah satu atau beberapa tanda-tanda ini, kamu mungkin perlu menyadari bahwa hubungan ini sudah nggak sehat dan harus diperbaiki sama-sama, nggak cuma kamu tapi juga sama pasanganmu.
Tips Membangun Hubungan Sehat
Mengenali hubungan toxic adalah langkah pertama untuk memulai sebuah hubungan yang sehat. Selanjutnya, kita perlu menciptakan ruang baru yang lebih aman, penuh respect, dan saling dukung. Yuk, kita bahas cara menata ulang fondasi hubungan agar lebih sehat dan dewasa. Siap bangkit pelan-pelan? Let’s go.
1. Akui Dulu Kalau Hubunganmu Nggak Sehat
Pada awalnya, kita mungkin akan merasa sulit untuk mengakui bahwa hubungan kita nggak sehat. Kadang lebih gampang untuk mengatakan “Dia sebenernya baik kok, cuma lagi capek.” Padahal capek bukan alasan buat nyakitin orang lain, apalagi orang terdekat. Oleh karena itu, untuk membangun hubungan yang sehat, kita perlu memvalidasi dulu bahwa kita sedang berada pada sebuah toxic relationship.
2. Kasih Ruang untuk Diri Sendiri
Selanjutnya, cobalah untuk memberi ruang pada diri sendiri. Ambil jeda sejenak untuk menenangkan diri, mungkin dengan mengurangi intensitas chat, mengambil waktu self-care, atau fokus ke hobi. Kalau pikiran kamu mulai jernih, keputusanmu juga akan lebih rasional.
3. Tetapkan Batasan yang Jelas
Mulailah untuk menetapkan batasan yang jelas agar kamu tidak selalu menyalahkan diri sendiri. Sampaikan kepada pasangan bahwa komunikasi tidak harus merendahkan. Kalau dia menghargai kamu, berarti hubungan kalian masih ada harapan. Tapi, kalau dia malah marah dan balik menyerang, maka kamu mungkin harus berpikir ulang.
4. Bangun Self-Esteem
Toxic relationship sering kali membuat kita lupa pada nilai diri sendiri. Kita jadi kurang percaya diri, merendahkan, bahkan menyalahkan diri sendiri. Oleh karena itu, kita perlu mulai memulihkan self-esteem kita dengan afirmasi diri, melakukan hal-hal sesuai dengan passion, menulis gratitude journal, makan enak, tidur yang nyaman, dan lain-lain. Buat diri kita kembali menyadari bahwa kita berharga dan kita layak mendapatkan kenyamanan.
5. Cari Dukungan
Keluar dari hubungan toxic bukan perjalanan solo ya, HEALMates. Meski kita sering merasa “Aku bisa kok sendiri,” kenyataannya hati itu rumit dan luka emosional butuh ruang aman untuk diurai pelan-pelan. Karena itu, dukungan dari orang lain jadi kunci penting.
6. Cari Orang-Orang yang Bisa jadi Jangkar Emosimu
Bisa teman dekat, keluarga, mentor, atau bahkan komunitas yang punya pengalaman serupa. Mereka yang siap mendengar tanpa nge-judge, nggak buru-buru menyuruh kamu “yaudah tinggalin aja”, dan benar-benar hadir saat kamu rentan.
7. Rencanakan Jalan Keluar
Keluar dari hubungan toxic bukan sekadar membuka pintu dan pergi. Kadang rasanya seperti membongkar rumah yang kita bangun dengan harapan, lantas berjalan keluar sambil gemetar, takut, tapi juga diam–diam lega. Karena itu, prosesnya pun butuh rencana, bukan buru-buru, apalagi disertai kepanikan dan emosi.
Sebab, perencanaan adalah pelindung emosimu. Karena banyak orang yang gagal keluar dari hubungan toxic bukan karena mereka lemah, tapi karena mereka tidak punya strategi. Ujung-ujungnya, begitu hati goyah sedikit, mereka terpancing kembali oleh janji manis, tangisan manipulatif, atau nostalgia palsu yang sebenarnya hanya jebakan masa lalu. Jadi, cobalah untuk menyiapkan jalanmu pelan-pelan dan jangan ambil keputusan dalam keadaan emosi.
Pada akhirnya, perjalanan keluar dari hubungan toxic bukan hanya tentang meninggalkan orang lain, tapi tentang pulang pada diri sendiri. Kita tak selalu bisa mengubah bagaimana cinta datang atau bagaimana ia akan berakhir. Tapi kita selalu punya pilihan untuk menyembuhkan luka, membangun ulang, dan memilih cinta yang lebih sehat di masa depan. Pelan-pelan saja, tidak perlu terburu-buru. Sebab, setiap langkah kecil adalah kemenangan bagi diri kita. Hingga nanti ketika kamu melihat kembali perjalanan ini, kamu akan tersenyum, bukan karena perjalananmu mudah, tapi karena kamu tetap bertahan untuk menjadi dirimu yang paling utuh. Kamu pantas bahagia, HEALMates! (RIW)

