HEALMates, setelah diselingkuhi, rasanya dunia seperti berhenti, ya? Antara kecewa, marah, bingung, dan kehilangan arah. Kadang kamu ingin bicara, tapi tak tahu harus mulai dari mana. Atau malah berpura-pura kuat di luar, padahal hatimu masih berantakan.
Kalau kamu pernah di titik itu, mungkin sudah saatnya kamu mengenal satu prinsip hidup yang bisa membantu menata ulang cara berpikir. Prinsip ini disebut Stoicism. Sebuah filosofi kuno yang mengajarkan kita untuk tetap tenang di tengah badai , termasuk badai pengkhianatan.
Apa Itu Stoicism?
Stoicism (atau Stoikisme) lahir di Yunani Kuno dan berkembang lewat pemikir seperti Marcus Aurelius, Seneca, dan Epictetus. Prinsip utamanya sederhana tapi kuat:
“Kendalikan apa yang bisa kamu kendalikan, lepaskan yang tidak.”
Dalam konteks hubungan, kamu tidak bisa mengatur perilaku pasangan. Tetapi kamu bisa mengatur bagaimana kamu meresponsnya. Stoic mengajarkan bahwa kekuatan sejati tidak hanya berasal dari balas dendam. Melainkan dari kemampuan untuk tetap berdaulat atas pikiran dan perasaan sendiri.
Kenapa Stoic Relevan untuk Healing Setelah Diselingkuhi?
Karena filosofi ini menuntunmu untuk tetap anggun, bukan dingin; kuat, tapi tetap manusiawi. Stoicism membantu kamu untuk fokus pada hal-hal yang bisa dikendalikan diri sendiri, keputusanmu untuk bangkit, dan caramu memperlakukan rasa sakit dengan bermartabat.
Daripada terus menyesali, kamu belajar menerima kenyataan tanpa kehilangan nilai diri. Karena kadang, ketenangan adalah bentuk balas dendam paling elegan.
Penasaran gimana caranya menerapkan Stoicism dalam hidup setelah diselingkuhi? Yuk, HEALMates, pelan-pelan kita bahas langkah-langkahnya.
- Bedakan antara Emosi dan Kontrol.
Kamu berhak marah, kecewa, atau menangis karena itu reaksi manusiawi. Tapi di titik tertentu, kamu perlu memilih untuk tidak dikuasai oleh emosi itu.
Misalnya, setelah tahu pasanganmu berkhianat, wajar kalau kamu ingin memblokir semua akun media sosialnya, atau menulis pesan panjang yang penuh amarah. Namun, berhentilah sejenak dan tarik napas. Tulislah perasaanmu di jurnal, biarkan emosimu mengalir di sana, bukan di chat yang akan kamu sesali nanti. Lalu, beri batas waktu pada kesedihanmu dengan mengatakan:“Aku akan mengizinkan diriku bersedih hari ini, tapi besok aku belajar melepaskan”.Dengan begitu, kamu tetap menghormati perasaanmu, tapi tidak membiarkannya menjadi pengendali hidupmu.
- Jadikan Luka Sebagai Latihan Jiwa.
Filsuf Stoik Marcus Aurelius pernah berkata, “The obstacle is the way” . Artinya hambatan adalah jalan itu sendiri. Luka bukan akhir dari perjalanan, tapi bagian dari prosesmu menjadi lebih kuat. Bayangkan luka hatimu seperti latihan ketahanan jiwa. Sama seperti otot yang kuat setelah kram di hari pertama ke gym, hatimu juga sedang membangun kekuatan baru. Ketika kamu bisa memandang pengkhianatan bukan sebagai hukuman dari semesta, tapi sebagai latihan kesabaran dan kebijaksanaan, kamu sedang naik satu level dalam kedewasaan emosional.
- Fokus pada Nilai Diri, Bukan Validasi.
Ingatlah, kamu tetap berharga meski ada yang gagal melihat nilaimu. Terkadang, setelah diselingkuhi, seseorang merasa dirinya tidak cukup baik. Mereka mulai bertanya-tanya: “Kurang apa aku?”. Padahal, harga dirimu tidak diukur dari bagaimana orang lain memperlakukanmu, tapi dari bagaimana kamu memperlakukan dirimu sendiri.
Contohnya, daripada menghabiskan waktu stalking mantan yang sudah bahagia dengan orang lain, gunakan energi itu untuk hal yang membuatmu berkembang . BIsa dimulai dengan belajar hal baru, mempercantik diri, atau sekadar menikmati waktu tanpa pembuktian apa pun. Kamu tidak perlu membalas dengan kesempurnaan, cukup tunjukkan ketenanganmu. Karena ketenangan adalah bentuk elegansi yang paling tinggi.
- Latih Keteguhan Pikiran dan Tubuh.
Pikiran dan tubuh bekerja seperti dua sisi mata uang. Ketika hatimu kacau, tubuhmu ikut menegang; ketika tubuhmu tenang, pikiranmu pun perlahan ikut damai. Cobalah mulai dengan napas panjang dan afirmasi positif. Setiap kali pikiranmu mulai berlari ke masa lalu, ucapkan pelan dalam hati:“Aku tidak bisa mengubah masa lalu, tapi aku bisa memilih reaksiku.” Misalnya, saat tiba-tiba teringat kenangan lama, jangan melawan. Duduk tenang, rasakan napasmu masuk dan keluar. Biarkan kenangan itu lewat tanpa perlu kamu kejar atau usir. Dengan latihan kecil ini, kamu sedang melatih otak dan tubuhmu untuk tidak panik terhadap hal-hal di luar kendali.
- Bangun Kembali Kehidupanmu dengan Makna.
Setelah badai reda, waktunya menata ulang hidupmu. Bangun rutinitas yang membuatmu merasa hidup lagi. Mulailah dari hal sederhana seperti: berolahraga di pagi hari, berpakaian rapi walau hanya di rumah, menata kamar dengan wangi lilin favorit, atau bertemu teman-teman yang membawa energi baik. Kamu juga bisa menghidupkan kembali hobi lama, seperti: melukis, menulis, atau bahkan sekadar berjalan di taman tanpa tergesa-gesa.
Ajaran Stoicism menekankan bahwa hidup yang baik bukan tentang membalas sakit hati, tapi tentang terus bertumbuh dalam makna. Kamu tidak perlu menunjukkan apa pun pada dunia; cukup buktikan pada dirimu sendiri bahwa kamu mampu berdiri lagi, dengan tenang.
HEALMates, menjadi tenang setelah diselingkuhi bukan berarti kamu tidak terluka. Tapi kamu memilih untuk tidak membiarkan luka itu mengatur langkahmu. Stoicism bukan tentang mematikan perasaan, tapi tentang menyadari bahwa tidak semua hal pantas diperjuangkan dengan air mata.
“Kekuatan sejati bukan datang dari membalas, tapi dari kemampuan untuk tetap damai ketika kamu bisa saja marah.”
Jadi, ketika dunia menunggu reaksimu, tersenyumlah. Karena elegansi sejati adalah ketika kamu tetap berkelas, bahkan saat hatimu pernah hancur.


