HEALMates, pernah kepikiran nggak sih kenapa pakaian anak jaman dulu identik dengan warna-warna cerah?. Sementara sekarang banyak orang tua justru memilihkan baju warna putih, hitam, abu-abu, atau cream supaya terlihat clean, rapi, dan estetik? Nggak salah kok, gaya minimalis memang lagi populer. Tapi ternyata, dari sudut pandang psikologi anak, warna cerah punya peran yang jauh lebih besar daripada sekadar estetika.
Coba deh ingat, pernah nggak lihat anak yang awalnya lemas, tapi langsung terlihat lebih ceria saat memakai baju kuning, merah, atau biru terang? Atau mungkin kalian notice anak lebih tenang dan fokus ketika memakai warna pastel? Nah… itu bukan ilusi. Dunia psikologi sudah lama meneliti bagaimana warna mempengaruhi mood, energi, dan perilaku anak. Warna ternyata bisa menjadi pengalaman psikologis yang terbentuk dari cara otak memproses stimulasi visual, pengalaman sosial-budaya, serta preferensi pribadi.
Yuk, kita bahas pelan-pelan. Supaya kita makin paham kenapa memilih warna pakaian yang tepat bisa membantu anak merasa lebih bahagia, aktif, dan tetap nyaman menjadi dirinya sendiri.
Kok Bisa Warna Memengaruhi Emosi?
Pertama, penting untuk kita ketahui bahwa warna nggak bekerja seperti sulap yang langsung mengubah mood. Tapi warna bisa menciptakan asosiasi emosional, yaitu hubungan antara warna tertentu dengan perasaan tertentu.
Menurut tinjauan ilmiah oleh Andrew J. Elliot Tahun 2015, efek warna pada psikologi manusia dipengaruhi oleh tiga hal utama yaitu: konteks, kecerahan, dan saturasi. Elliot menjelaskan bahwa pengaruh warna itu kontekstual, artinya tergantung situasi dan bagaimana otak seseorang memproses warna tersebut. Namun secara umum, warna cerah dan hangat (warm tones) sering memicu respons yang lebih positif dibanding warna gelap atau kusam. Jadi, bukan berarti kalau anak pakai hitam pasti sedih ya, HEALMates. Tapi warna cerah punya kecenderungan lebih kuat dalam memicu respons positif.
Anak memang lebih suka warna cerah
Sebuah studi dari Departemen Pengembangan Anak di California State University Fullerton menunjukkan bahwa sebagian besar anak usia 5–6 tahun lebih tertarik pada warna-warna cerah. Sekitar 69% anak memilih warna seperti pink, biru, dan merah karena membuat mereka merasa senang dan berenergi. Hanya sebagian kecil yang memilih warna gelap yang biasanya terkait dengan emosi sedih atau kurang nyaman. Jadi ketika anak memilih baju merah terang atau kuning neon, kemungkinan besar itu karena otak mereka mengaitkan warna itu dengan energi dan kesenangan. Pemikiran ini terbentuk sejak usia dini karena interaksi antara pengalaman pribadi dan budaya. Anak terbiasa melihat kartun, mainan, ruang bermain, dan buku anak yang penuh dengan warna cerah.
Warna yang Tepat untuk Aktivitas yang Tepat
Nah, HEALMates, supaya makin terasa manfaatnya, pemilihan warna pakaian anak sebenarnya bisa disesuaikan aktivitas mereka. Untuk kegiatan yang butuh banyak gerak, warna cerah seperti kuning atau merah sering membantu meningkatkan semangat. Untuk momen belajar santai, warna-warna lembut seperti sky blue atau mint bikin suasana lebih tenang tanpa membuat mereka mengantuk. Sementara untuk anak yang mudah gelisah, pilihan warna pastel bernuansa hangat bisa memberi kesan aman dan stabil. Nggak ada aturan kaku kok, yang penting kita peka sama sinyal yang ditunjukkan anak. Karena setiap anak punya kecocokan warna yang berbeda dan itu gak papa.
Meski warna cerah punya banyak manfaat, terlalu banyak warna mencolok juga bisa bikin anak terstimulasi berlebihan. Ada penelitian dari Stern-Ellran yang menemukan bahwa area bermain yang terlalu penuh warna bisa bikin anak sulit fokus dan cepat terdistraksi. Prinsipnya yaitu harus tetap seimbang. Nggak semua pakaian harus neon dari kepala sampai kaki. Kombinasi antara satu baju cerah dengan celana netral akan lebih nyaman untuk mata mereka.
Tren Dopamine Dressing pada Anak
Belakangan ini, istilah “dopamine dressing” bermunculan di media sosial. Katanya, memakai warna cerah bisa memicu hormon bahagia. Secara ilmiah, efek dopamin secara langsung memang belum terbukti dari warna pakaian. Tapi dari sisi psikologi, asosiasi positif dari warna cerah jelas berdampak pada mood anak. Ketika anak memakai hal yang membuat mereka merasa keren, menyenangkan, atau nyaman, tubuh mereka merespons dengan emosi yang lebih positif. Jadi walaupun namanya terdengar seperti tren gaya hidup, konsep dasarnya tetap nyambung dengan pengalaman emosional sehari-hari.
Dalam berbagai penelitian psikologi warna, ada empat warna yang paling sering dikaitkan dengan suasana hati anak yang lebih bahagia. Kuning dan oranye dikenal sebagai warna yang ceria. Merah bisa meningkatkan energi dan rasa percaya diri meski harus digunakan dengan intensitas yang pas. Biru terang membantu menenangkan pikiran dan menjaga fokus. Sementara hijau cerah memberi kesan segar dan stabil. Intinya, bukan cuma warnanya yang penting, tapi juga seberapa cerah atau lembut warnanya.
Apakah Warna Mempengaruhi Kesehatan Mental Anak?
Warna memang punya pengaruh pada kesejahteraan emosional anak. Tidak menentukan sepenuhnya, tetapi memberikan kontribusi yang cukup signifikan. Warna cerah mendukung suasana hati yang lebih positif, membantu anak jadi lebih aktif, dan memberi dorongan kecil pada kepercayaan diri mereka. Warna cerah tertentu bahkan bisa membantu fokus jika kecerahannya tidak berlebihan. Namun yang paling penting adalah bagaimana HEALMates melihat respon anak. Setiap anak punya dunia kecil dalam dirinya. Ada yang bahagia dengan kuning, ada yang nyaman dengan biru, ada juga yang merasa “ini warnaku banget” saat memakai hijau cerah. Selama pilihan itu membantu mereka merasa aman dan dihargai, berarti itu pilihan yang tepat.
Jadi HEALMates, lain kali saat memilih baju untuk anak coba ingat bahwa warna adalah bagian kecil dari bahasa emosi anak. Sesuatu yang sederhana tapi bisa membantu mereka menjalani hari dengan lebih ringan, lebih ceria, dan lebih percaya diri. Warna cerah nggak harus selalu mencolok. Yang penting adalah bagaimana warna itu membuat anak merasa jadi dirinya sendiri.


