Logo Heal

MENTAL HEALTH

Mental Health

Ternyata Ini Alasan Seseorang Berselingkuh dan Dampaknya bagi Hubungan

Ternyata Ini Alasan Orang Selingkuh

Oleh :

HEALMates tentu pernah dengar kalimat, “Kami udah nggak cocok lagi.” Versi panjangnya sering lebih ruwet, mulai dari rasa bosan yang menumpuk, komunikasi yang macet, tarik-ulur soal materi, dan rasa ingin “kepastian” dalam menjalani hubungan. Lalu, apakah semua alasan ini bisa jadi dasar bagi seseorang untuk akhirnya memilih berselingkuh? Jawabannya mungkin tidak ya, HEALMates. 

Disclaimer dulu ya, HEALMates. Pada dasarnya HEAL setuju bahwa tidak ada alasan yang dibenarkan bagi seseorang untuk berselingkuh dan menyakiti hati orang lain, terutama jika sudah sah sebagai suami-istri. Meski demikian, untuk membantu HEALMates memahami alasan kenapa banyak orang selingkuh, HEAL akhirnya melakukan survei untuk mencari tahu apa sebenarnya alasan orang-orang memilih untuk selingkuh. 

Yuk, kita kupas selengkapnya hasil dari survei ini serta dukungan data dari survei lain yang relevan. 

Alasan Seseorang Berselingkuh

Dari survei yang HEAL lakukan kepada sejumlah responden melalui media sosial, kami merangkum beberapa alasan utama yang membuat seseorang memilih untuk berselingkuh. Berikut beberapa di antaranya:

Bosan, Komunikasi Macet, Materi, dan Butuh Kepastian

Kalau hubungan dianalogikan sebagai aplikasi, kebosanan itu ibarat bug yang pelan-pelan bikin crash ya, HEALMates. Ini mungkin jadi alasan paling klasik bagi seseorang untuk berkhianat pada pasangan. Kalau sudah bosan kenapa nggak memilih untuk mengakhiri dengan pasangan sebelumnya dan memulai dengan yang baru dibanding menjalani hubungan diam-diam hingga menyakiti yang lain. Sayangnya, tidak semua orang memiliki keberanian untuk menyelesaikan hubungan ini. 

Seperti salah satu cerita dari responden HEAL yang satu ini. For your information HEALMates, responden sudah mengizinkan penayangan ceritanya namun dengan catatan anonim:

 

Halo, tim HEAL.

Aku nemu postingan HEAL dari salah satu reply-an tweet di base 18+, sebenarnya aku tergerak untuk balas langsung di tweet itu tapi berhubung aku mutual-an sama temen2 lamaku jadi nggak mungkin aja wkwk takut mereka tau 🙁 

Jadi aku udah pacaran sama cowokku hampir 10 tahun, kami pacaran dari kami masih kelas 2 SMP. Intinya: aku udah selingkuh sama 10 cowok, semuanya orang luar. Dan semua ini bermula dari aku yang pengen praktek bahasa inggris langsung sama native speaker haha. Ada yang ketemu di situs chat with stranger, snapchat, dan yang terakhir ketemu di app Tandem.

Kalau aku pikir2 lagi, mungkin ini juga disebabkan dari rasa kesepianku dan rendahnya intensitas komunikasi ku ke pacarku. 

Waktu SMP, pacarku jarang mau ngomong sama aku meskipun kita ini satu ekskul ya. Cuma mau berinteraksi kalau udah pulang sekolah, lewat BBM. Nggak tau kenapa dan, bodohnya, aku cuma menahan2 aja dan terlalu malu untuk konfrontasi. Ya setidaknya kami masih bisa tatap mata lah di sekolah. 

Waktu SMK, kami makin jarang ketemu karena kita nggak satu sekolah lagi. Dia juga dapet masalah, nggak tau apa, pokoknya dia hilang selama seminggu. Pernah WA-ku diblokir seharian juga. Saat itulah aku ketemu dua cowok Prancis dari situs chat with stranger, kami banyak ngobrol sampai move ke app lain, selalu ngabarin. Dan, yeah, it happened. Aku kasih lihat nudes ku, setiap mereka minta pasti aku kirim. I was 18 or 19, bodoh banget ya. Sometimes I wish I could go back to the past and slapped my past-self right on her face. 

Waktu kuliah, aku masih belum jera juga. Aku install salah satu app belajar bahasa Inggris (Tandem) berkat rekomendasi temanku. “Kenalan” ku di sana lumayan dari banyak negara: Jerman, Meksiko, Italia, Spanyol, dan Prancis juga. Kebanyakan cowok juga, cewek2 di sana pada dingin soalnya huhu. 

And, yeah, I had “fun” with those guys. Not physically, but I sent nudes to some of them. Aku nggak cuma sent nudes, tapi juga “main” bareng mereka. Aku ngelakuin itu karena aku merasa kurang perhatian dari cowokku. Dari awal kami memang secara jarak sudah jauh, ditambah cowokku ini kuliah di luar kota dan aku tetap di kota tempatku lahir dan tumbuh besar. Selain itu, aku juga pernah had “fun” sama cowokku. Dan dia nggak bisa muasin aku, he’s also a bad kisser. Aku nggak tau apakah memang dia yang nggak jago atau karena alasan lain dari tubuhku.

Dari 10 cowok itu, aku baper sama dua orang. Semua dari Spanyol, tapi dalam kurun waktu yang berbeda ya, yang terakhir itu sekitar awal/akhir April tahun ini. Dia perhatian banget sama aku. But then, we “broke up”. 

I know I cannot change the past, but do I regret it? 100%

The fact that I had fun with lots of guys while I’m in a 9 yrs relationship is sickening.

I’m not a loyal person, just like my father. I guess they’re right: the apple doesn’t fall far from the tree.

I had sexting with them since I was 18. I’m such a slut 🙂 

Aku selalu mikir aku ini nggak pantes untuk pacarku yang sebaik itu. Kayaknya aku memang nggak pantas untuk siapapun.Jujur sejujurnya, aku merasa bersalah setiap kali aku menatap cowokku. Aku selalu pengen untuk end this long-term relationship. Aku udah pernah ngajak putus (dengan alasan LDR kita), tapi dia nggak mau. Sebenarnya aku juga setengah hati yang ngajak putus. Aku takut sendirian. Apalagi muka dan fisikku yang nggak sesuai SNI ini wkwkwk rasanya hoki banget cewek sejelek aku ini bisa punya pacar. But, if he knows all about my past, would he finally let me go?

Itu aja untuk sekarang. Terima kasih untuk tim HEAL yang sudah mau dengerin curhatan ku ini. Maaf kalau aku jadi yapping gini, nggak ada temen ngomong soalnya haha, they’d kill me instead. 

 

Alasan lainnya yang berhasil dirangkum adalah kurangnya komunikasi, persoalan finansial yang bikin panas mesin, dan rasa ingin “kepastian” yang tidak didapat dari pasangan sebelumnya. Dalam survei kami, keempat masalah ini seakan jadi motif yang muncul berulang. 

  • Bosan terhadap rutinitas dan kualitas interaksi yang menurun.
  • Komunikasi tidak lancar, salah paham berulang, konflik yang nggak pernah “benar-benar selesai”.
  • Materi/finansial, dari beban ekonomi sampai “financial mismatch” (satu pihak merasa lebih menanggung).
  • Mencari kepastian, entah soal komitmen, arah hubungan, atau sekadar validasi diri.

Intinya, para responden ini memposisikan bahwa perselingkuhan ini terjadi bukan sebagai “akar” masalah, tapi sebagai “hasil akhir” dari problem yang lama dibiarkan. Apakah ini bisa dibenarkan? Eits, tunggu dulu ya, HEALMates!

Motif Paling Umum Seseorang Selingkuh 

Kalau dilihat dari riset lain yang dilakukan oleh Scientific American, dari sebanyak 495 orang yang mengaku berselingkuh, ada 8 motif inti yang membuat mereka selingkuh, yaitu marah, isu harga diri, kurang cinta, komitmen rendah, butuh variasi, merasa diabaikan, hasrat seksual, dan situasi/kesempatan. Motif-motif ini jugalah yang memengaruhi durasi perselingkuhan, keterlibatan emosi, sampai nasib hubungan utama mereka.

Sebagian besar partisipan merasakan keterikatan emosional terhadap pasangan selingkuh mereka, namun ada juga yang didorong oleh perasaan pengabaian atau kurang cinta dalam hubungan utamanya. Mereka yang melaporkan merasa kurang terhubung dengan pasangan utama mengalami kedekatan emosional yang lebih besar dalam perselingkuhan, kemungkinan sih ini jadi cara untuk memenuhi hal yang tidak mereka temukan di dalam hubungan utamanya. Ada semacam perasaan di mana mereka menemukan kepuasan baik secara intelektual dan emosional pada pasangan selingkuhannya.

Dampak ke Hubungan dan Kesehatan Mental

Selingkuh adalah bentuk infidelity, istilah dalam hubungan yang merujuk pada tidak setia atau melanggar komitmen emosional/romantis/seksual terhadap pasangan. Kebohongan ini bisa berdampak pada banyak hal, termasuk merusak kualitas hubungan dan memicu spiral emosi mulai dari cemas, depresi, stres kronis, sampai gejala mirip PTSD pada pihak yang dikhianati. Efek ini juga kadang bisa dirasakan oleh pelakunya setelah ketahuan. 

Apakah hubungan akan selalu berakhir karena selingkuh? Nggak selalu. Ada juga pasangan yang tetap memilih bersama meski salah satunya telah berkhianat. Tapi, mentalnya porak-poranda. Kalau ditarik secara umum, berikut beberapa dampak selingkuh menurut sejumlah ahli.

1. Hilangnya Kepercayaan

Kepercayaan ibarat mata uang utama dalam sebuah hubungan. Maka saat perselingkuhan terjadi, rasa aman dan kepercayaan pun runtuh. Akibatnya, muncul kecurigaan berlebih, kebutuhan kontrol meningkat (cek ponsel, lokasi, DM), keintiman emosional menurun, dan lain-lain. Membangun ulang kepercayaan biasanya butuh waktu lama dan butuh kesiapan kedua belah pihak.

2. Menurunnya Kualitas Komunikasi

Perselingkuhan membuat diskusi mudah berubah menjadi saling menyalahkan, defensif, tarik-ulur kekuasaan (power struggle), silent treatment, dan lain sebagainya. Banyak pasangan yang jadi enggan berkomunikasi mendalam karena takut memicu konflik.

3. Hancurnya Intimasi dan Kedekatan

Keintiman fisik dan emosional sudah pasti akan terganggu. Dalam hubungan suami-istri, seks menjadi canggung atau intensitasnya berkurang, sentuhan terasa asing atau penuh curiga, kehangatan dan rasa aman pun akan hilang. Pada beberapa pasangan, intimacy blackout ini bisa terjadi berbulan-bulan, lho.

4. Trauma Emosional dan Trust Issues

Banyak korban dari perselingkuhan yang akhirnya mengalami gejala seperti post-traumatic stress, mulai dari  intrusive thoughts (pikiran berulang), flashback percakapan/pengkhianatan, sulit percaya pada orang lain, hingga overthinking yang ekstrem. Perselingkuhan ini bahkan bisa menjadi luka identitas yang sulit untuk sembuh bagi korbannya.

5. Depresi dan Kecemasan

Pada banyak kasus, seseorang yang diselingkuhi bisa mengalami depresi hingga kecemasan. Ada perasaan kesepian, rasa bersalah hingga insecure dan bertanya-tanya “Aku kurang apa?” Sebagian orang juga merasa harga dirinya runtuh hingga takut ditinggalkan. Kondisi ini bisa berkembang menjadi anxiety disorder atau depresi klinis jika tidak ditangani dengan baik.

6. Gangguan Fisik

Stres emosional berat juga bisa berpengaruh pada tubuh lho, HEALMates. Beberapa gangguan ini mungkin seperti susah tidur, nafsu makan menurun atau berlebih, jantung berdebar, kelelahan kronis, sakit kepala, sakit perut, tegang otot, dan lain-lain. 

Bisakah Hubungan Pulih?

Jawabannya bisa saja. Tetapi, tidak semua hubungan harus atau bisa dipertahankan jika sudah menyakiti salah satu atau keduanya ya, HEALMates. Pada akhirnya, perselingkuhan selalu meninggalkan jejak. Bukan hanya pada hubungan, tapi juga pada jiwa yang pernah percaya. 

Luka yang lahir darinya mengajarkan satu hal penting bahwa cinta bukan sekadar perasaan, tetapi tanggung jawab untuk menjaga. Entah hubungan itu dipertahankan atau berakhir, perjalanan setelah pengkhianatan selalu menjadi ruang untuk bertumbuh, memahami diri, menyusun ulang batas, atau bisa jadi ruang bersemayamnya trauma yang sulit untuk sembuh. Oleh karena itu, kita harus lebih bisa bijak dalam melakukan sesuatu dan memikirkan dampaknya sebelum mengambil keputusan. (RIW)

Bagikan :
Ternyata Ini Alasan Orang Selingkuh

More Like This

Logo Heal

Kamu dapat menghubungi HEAL disini:

Heal Icon

0858-9125-3018

Heal Icon

00 31 (0) 6 45 29 29 12

Heal Icon

heal@sahabatjiwa.com

Copyright © 2023 HEAL X  Sahabat Jiwa