Pernahkah HEALMates merasa sesak tanpa tahu kenapa? Luka batin itu memang kadang aneh. Kadang bentuknya jelas sehingga kita mudah untuk menguraikannya, namun kadang wujudnya sangat samar seperti kabut sehingga yang tertinggal hanya perasaan yang tak menentu. Ada trauma yang memang kita tahu sumbernya, tapi ada juga luka-luka kecil yang lama-lama menumpuk tanpa sadar. Akumulasi dari komentar menyakitkan, ketakutan yang tak terucap, kehilangan dan pengkhianatan yang tiba-tiba, atau sekadar rasa tidak cukup yang selalu membuntuti. Luka-luka batin ini sering kali sangat mengganggu ya, HEALMates.
Apalagi di tengah hidup yang serba cepat seperti sekarang, kita sering lupa memberi diri sendiri ruang untuk bernapas. Kita sibuk sembuh dengan cara “logis” dan terkadang lupa bahwa ada satu cara lain yang juga bisa membantu memulihkan luka yaitu dengan seni.
Bukan, ini bukan artikel untuk memaksamu menjadi pelukis atau penari profesional. Sebaliknya, ini adalah sebuah ajakan untuk melihat seni sebagai ruang aman, tempat di mana emosi bisa keluar tanpa harus selalu didefinisikan dengan kata-kata. Tempat luka yang rumit bisa menemukan bahasa untuk pulih. Yuk HEALMates, kita bahas selengkapnya.
Seni Rupa Jadi Coretan yang Lebih Jujur dari Kata-Kata
Apakah HEALMates pernah menggambar waktu kecil? Biasanya kita sering disuruh menggambar ketika masih di Taman Kanak-Kanak (TK). Kala itu, kita mungkin tidak peduli bentuk gambarnya bagus atau nggak? Yang kita tahu, kita bebas mencoret-coret kertas gambar semau kita dengan warna yang kita suka.
Namun saat dewasa, kita malah sering kehilangan kebebasan itu. Pensil terasa lebih berat, garis terasa harus sempurna, warna harus rapi. Kita jadi punya aturan sendiri dalam melukiskan imajinasi. Kita pun jadi lupa bahwa seni nggak menuntut kesempurnaan.
Di ruang seni, emosi bebas bergerak. Kamu bisa mencoret-coret secara bebas untuk meluapkan marah, menggambar dengan lembut untuk mengajak hati kembali tenang, hingga menggabungkan warna tanpa konsep untuk menata hati. Kadang, proses menempelkan potongan-potongan kertas justru terasa seperti simbol menyatukan diri yang retak.
Seni rupa mengajarkan kita bahwa tidak apa-apa retak, yang penting kita memberi diri kesempatan untuk kembali menyatu, meskipun mungkin tidak akan persis sama seperti semula. Cat air, pastel, cat akrilik, bahkan spidol biasa, semuanya bisa jadi medium terapi. Bukan tekniknya yang perlu kita perhatikan, tapi niat untuk mengeluarkan hal-hal yang sulit diucapkan.
Journaling untuk Menangkap Pikiran yang Tak Tentu
Banyak orang mengira journaling itu cuma soal tulisan estetik dengan washi tape dan spidol lucu. Padahal, journaling bisa sesederhana kalimat pendek di buku kusam.
“Hari ini rasanya berat.”
“Aku sedih tapi nggak tahu kenapa.”
“Aku bangga sama diriku karena tetap bertahan.”
Dengan melakukan journaling kita sedang merekam pikiran itu seperti mengosongkan meja penuh kertas berserakan. Kita jadi lebih jernih melihat apa yang sebenarnya terjadi di dalam diri.
Kalau kamu tertarik untuk menggunakan journaling sebagai ruang pemulihan diri, kamu mungkin bisa mencoba beberapa bentuk seperti:
- Gratitude journaling: tiga hal kecil yang kamu syukuri hari ini.
- Dump writing: tulis tanpa sensor apa yang kamu rasakan dan biarkan ungkapan itu mengalir apa adanya.
- Prompt journaling: jawab pertanyaan seperti, “Apa yang sedang aku butuhkan tapi sulit aku minta?” atau “Bagian dari diriku yang mana yang ingin aku rangkul?” Pelan-pelan, tulisan yang kamu buat akan seperti pelukan, tidak selalu indah memang, tapi bisa jadi ungkapan yang jujur.
Menari Jadi Media bagi Tubuh untuk Berekspresi
Kadang kala, ada hal-hal yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan berpikir. Misalnya, trauma dan emosi yang tinggal di tubuh bisa jadi luka yang membuat kita merasa sesak, bahu tegang, nafas pendek, atau tiba-tiba ingin menangis tanpa penyebab yang jelas. Bagi sebagian orang, menari bisa jadi media yang dapat membuat tubuh mengekspresikan diri.
Menurut beberapa ahli, gerak bisa jadi bahasa tubuh untuk pulih. Ini tentu bukan soal koreografi karena kita tidak sedang audisi dance. Gerak ini mungkin bisa jadi cara kita untuk bergerak dan menyembuhkan diri. Coba deh HEALMates, putar musik, tutup mata, dan biarkan tubuhmu bergerak semaunya.
Kadang hanya menggoyangkan bahu sudah cukup untuk mengurai rasa lelah di hati. Kadang kamu ingin melompat atau bergerak pelan seperti rumput ditiup angin. Kemudian, biarkan tubuhmu sendiri yang bicara. Biarkan tubuhmu melepaskan apa yang selama ini ia simpan.
Dilansir dari laman Good Doctor, ada cara sederhana bernama shake therapy di mana kamu bisa mengguncangkan tubuhmu lembut dari kepala hingga kaki selama 1–2 menit untuk meredakan trauma. Ini jugalah yang dilakukan oleh hewan liar setelah mereka terancam untuk “me-reset” sistem sarafnya.
Nah, ternyata kita juga bisa melakukannya, lho. Menari mengingatkan kita pada satu hal penting bahwa kita masih hidup dan tubuh ini meski pernah menyimpan luka tetap memegang kekuatan untuk bangkit.
Puisi Jadi Rumah bagi Kata-Kata
Dalam banyak budaya, puisi menjadi sebuah simbol doa, mantra, dan penyembuhan. Puisi memungkinkan kita mengolah rasa secara simbolik. Ketika kalimat biasa terlalu sederhana untuk memuat perasaan kompleks, metafora datang menyelamatkan. Kalau kamu tertarik untuk menggunakan media puisi sebagai cara mengurai trauma, kamu bisa menuliskan kata-kata dengan metafora yang menggambarkan suasana hatimu. Puisi tidak harus rumit, kok. Bahasa patah-patah pun bisa jadi sebuah bait puisi.
Salah satu contohnya misalnya seperti ini:
Ada semburat jingga di wajahmu
Yang lelah bagai ditenun senja
Tak apa jika kadang hidup dipenuhi peluh
Kadang juga dipenuhi bulir-bulir air mata
Tak apa jika setiap hari kita mencoba untuk baik-baik saja
Dan itu cukup.
Menulis puisi membantu kita menyentuh sisi lembut diri sendiri. Kita belajar memberi nama pada perasaan, lalu melepaskannya dengan lebih halus.
Luka Tidak Selalu Harus Dilupakan Cukup Kita Peluk
Pada akhirnya, kita semua sedang bertahan. Ada luka yang sembuh, ada juga yang tidak sepenuhnya hilang. Tapi, kita bisa bertahan dan memeluknya agar luka bisa meluruh. Seni memberi cara untuk menerima itu semua. Seperti proses merajut kain yang robek, bukan untuk menghapus bekasnya, tapi untuk membuat pola baru yang lebih kuat.
Namun, seni bukan jalan pintas menuju kebahagiaan ya, HEALMates. Seni adalah sebuah ruang aman untuk merasakan, kesempatan untuk melambat, dan mungkin wadah bagi keberanian untuk melihat diri sendiri dengan jujur. Dengan begitu, kita bisa perlahan kembali menjadi manusia yang utuh. (RIW)

