Seni rupa dulu sering dilihat sebagai ruang privat yang isinya soal estetika, komposisi warna, atau teknik lukis ya, HEALMates. Namun, di era ketika obrolan soal hak-hak manusia semakin lantang digaungkan, seni rupa juga ikut mengubah posisinya. Ia bukan lagi soal aesthetic pleasure, tapi sudah jadi public pressure, suara sunyi yang divisualkan dan pertanyaan keras yang dipajang.
Kalau HEALMates perhatikan, galeri dan pameran seni saat ini lebih mirip ruang kumpul pemikiran. Orang datang bukan sekadar memotret karya, tapi juga memotret sikap. Lalu, pulang nggak hanya membawa ketakjuban, tapi juga gaung-gaung pertanyaan tentang berbagai hal di sekitar kita, termasuk soal isu Hak Asasi Manusia (HAM).
Kenapa Seni Rupa Jadi Panggung yang Kuat untuk Ngomongin HAM?
Jawabannya, bisa jadi karena seni rupa itu senyap tapi powerful. Maksudnya? Ya, seni rupa itu media visual yang nggak perlu berisik untuk bikin kita diam dan berpikir lebih lama. Kadang satu lukisan bisa bikin kita merasa seperti “ditarik” ke sebuah ruang dan waktu hingga berakhir pada pemikiran panjang tentang kehidupan.
Kita punya persepsi tersendiri yang nggak didikte oleh siapapun. Lukisan-lukisan yang kita lihat semacam jadi kompas yang mengarahkan pemikiran kita hingga kita sampai pada titik “Iya, juga ya”.
Seniman sering memakai simbol, metafora, atau potret personal untuk mengangkat isu sensitif, yang mungkin nggak selalu aman kalau disampaikan lewat teks langsung. Di sinilah seni bekerja. Ia bisa jadi medium alternatif yang cukup aman buat publik, tapi agak kurang aman buat penguasa “yang dzalim”. Tapi, justru dari situ daya gedornya muncul.
Karya-Karya Seni yang Mengangkat Isu HAM
1. Pablo Picasso, Guernica (1937)
Siapa sih yang nggak kenal Guernica? Lukisan monokrom raksasa ini lahir dari trauma pengeboman kota kecil di Spanyol pada masa perang saudara. Isinya bukan cuma kekacauan visual, tapi juga kekacauan kemanusiaan, rasa takut, teriakan, kehilangan, dan kehancuran hak hidup warga sipil. Guernica jadi pengingat kalau perang selalu merenggut dua hal, yakni nyawa dan martabat.
2. Frida Kahlo, Self Portrait on the Borderline (1932)
Frida memang terkenal dengan lukisan yang personal banget, tapi lewat identitas di karyanya ini, ia bicara soal kesenjangan, kolonialisme, dan dilema kebebasan budaya. Ini adalah kritik visual tentang bagaimana sebuah bangsa sering kehilangan hak atas identitasnya sendiri ketika berhadapan dengan kekuatan besar. Personal, tapi politikal.
3. Jean‑Michel Basquiat, Defacement (1983)
Lukisan ini dibuat sebagai respons atas kematian Michael Stewart yang diduga meninggal akibat kekerasan aparat di New York. Defacement bukan sekadar artwork, ini visual obituary, visual protes, dan visual gugatan bahwa keselamatan warga sipil adalah hak, bukan bonus.
4. Dolorosa Sinaga, Monumen Pembantaian Massal Indonesia 1965-1966
Salah satu seniman Indonesia yang konsisten banget menjadikan seni sebagai megaphone untuk isu hak asasi manusia adalah Dolorosa Sinaga. Fokus utama karyanya selalu berkutat di martabat manusia, terutama perempuan, kelompok tertindas, kekerasan negara, kebebasan sipil, dan perjuangan keadilan. Karya pahatan bertajuk Momentum Pembantaian Massal Indonesia 1965-1966 ini adalah karya ruang berkabung kolektif dan kesaksian sejarah untuk jutaan manusia yang kehilangan hak paling dasar mereka, yakni nyawa, martabat, dan pengakuan. Patung ini lahir dari semangat seni memorial berbasis hak asasi manusia, di mana pahatan tubuh manusia diposisikan sebagai saksi yang tidak bisa dibungkam.
Dari Mata ke Telinga
Apa yang paling menarik dari sebuah karya seni rupa yang digunakan untuk mengkritisi kepincangan hak? Yakni lahirnya dialog di ruang publik tentang suara-suara yang dibungkam, diredam, bahkan tidak didengar. Dari karya visual, berbagai suara itu pun bisa didengar.
Kalau dulu galeri itu bacaannya “Silakan Lihat,” sekarang bacaannya berubah jadi “Silakan Rasakan dan Jawab”. Seni rupa dan pameran kini berfungsi sebagai ruang dialog lintas kelas. Siapa pun bisa masuk, entah itu mahasiswa, ibu rumah tangga, pekerja kantoran, sampai bapak-bapak yang cuma ikut nemenin anak pun punya hak yang sama untuk menafsir, protes, atau sekadar merasa “Ini gue banget”.
Jika penikmat seni telah sampai pada kesadaran itu, maka itu artinya seni rupa ini telah berhasil menjadi jembatan empati untuk mereka yang suaranya nggak didengar.
So, apa yang bisa kita pelajari dari ini semua, HEALMates? Agaknya, seni rupa memang bisa jadi medium yang tepat untuk membuat kita membuka mata tentang hak-hak manusia yang kini masih banyak dikesampingkan, ya? Bagaimana menurutmu, HEALMates? (RIW)

