HEALMates pasti pernah mendengar ungkapan bahwa sekali selingkuh, pasti akan selingkuh lagi. Kalimat itu mungkin terdengar berlebihan, tapi ternyata ada fakta psikologis yang mendukungnya. Beberapa penelitian menemukan bahwa bagi sebagian orang, selingkuh bukan sekadar kekhilafan. Namun, melainkan pola perilaku yang bisa berulang seperti kecanduan.
Kok bisa gitu yah? Yuk, kita kupas pelan-pelan.
Penelitian dalam Journal of Social and Personal Relationships mengungkap bahwa seseorang yang pernah berselingkuh punya kemungkinan tiga kali lebih besar untuk melakukannya lagi di hubungan berikutnya. Alasannya bukan karena mereka jahat atau tidak bisa setia. Tetapi, karena otak mereka sudah mengenali sensasi kepuasan yang muncul saat melanggar bata dan tanpa sadar ingin mengulanginya. Fenomena ini disebut compulsive behavior (perilaku kompulsif). Perilaku yang disertai dorongan kuat untuk mengulang tindakan tertentu meski sadar itu salah atau berisiko. Dalam kasus ini, selingkuh bukan lagi reaksi spontan, tetapi menjadi pola perilaku berulang yang susah dikendalikan.
Menurut Katherine Cullen, orang yang percaya bahwa selingkuh itu salah bisa tetap melakukannya. Penyebabnya karena mengalami moral disengagement, yaitu kemampuan seseorang untuk mematikan kompas moralnya sementara waktu agar tak merasa bersalah. Faktor-faktor seperti riwayat selingkuh sebelumnya, ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder), atau gangguan kepribadian narsistik dapat meningkatkan risiko perselingkuhan. Orang dengan kondisi ini cenderung impulsif dan mencari sensasi baru yang menstimulasi otak. Walaupun tahu erisiko merusak hubungan. Kombinasi antara dorongan impulsif dan pelepasan kendali moral inilah yang menciptakan lingkaran psikologis selingkuh yang sulit diputus.
Riset oleh Reid, Garos & Fong (2012) menunjukkan adanya kesamaan antara perilaku seksual kompulsif (Compulsive Sexual Behavior Disorder / CSBD) dan perilaku selingkuh berulang. Orang dengan kecenderungan ini biasanya:
- Sulit menahan dorongan seksual atau emosional,
- Mencari stimulus atau perhatian baru tanpa henti,
- Menyesal setelah melakukannya, tapi kembali mengulang.
Sederhananya, selingkuh bisa menjadi bentuk kecanduan emosional. Bukan pada orangnya, tetapi pada sensasi dilarang, rasa dikejar, atau validasi diri yang dirasakan setiap kali “berhasil” merahasiakan hubungan terlarang..
Jadi, Apa Selingkuh Itu Penyakit?
Secara medis selingkuh tidak bisa disebut penyakit. Namun gejalanya ini merupakan kelainan psikologis yang mengarah gangguan pola pikir dan emosi. Selingkuh menjadi pertanda bahwa ada bagian dalam diri seseorang yang belum sembuh. Bisa saja luka masa kecil, kebutuhan akan pengakuan, atau rasa tidak aman.
Apakah Bisa Sembuh?
Kabar baiknya selingkuh bisa disembuhkan lhi, HEALMates. Bisa dengan kesadaran sendiri maupun dengan bantuan psikolog atau terapis hubungan. Perubahan hanya mungkin terjadi jika pelaku menyadari polanya, mengakui rasa bersalahnya, dan mau membuka diri pada proses pemulihan lewat terapi. Tanpa semua itu, siklusnya akan terus berulang seperti kaset rusak.
Dengan bantuan psikolog atau terapis hubungan, pelaku selingkuh dapat belajar memahami akar perilaku kompulsifnya. Proses terapi membantu seseorang untuk:
Pertama, mengenali pemicunya,
Kedua, mengolah rasa bersalah dan trauma lama,
Ketiga, membangun kontrol diri, empati, dan komunikasi yang sehat.
Tanpa pendampingan profesional, penyembuhan hanya tergantung pada kemauan diri sendiri. Tapi dengan terapi, seseorang punya peluang nyata untuk berubah dan benar-benar sembuh dari siklus perselingkuhan.
HEALMates, jika kamu atau seseorang di sekitarmu terjebak dalam pola ini, jangan langsung menghakimi. Karena selingkuh memang menyakitkan, Tapi memahami akar perilakunya adalah jalan menuju penyembuhan. Bicaralah pada psikolog atau konselor hubungan.
“Karena terapi bukan ruang penghakiman, tapi ruang pemulihan. Tempat di mana seseorang bisa belajar. Bukan sekadar setia pada pasangan. Tetapi juga jalan untuk mencari dirinya yang hilang.”

