Kita tumbuh dengan berbagai versi didikan ya, HEALMate? Ada yang penuh pelukan dan validasi, ada pula yang lebih sering diwarnai tuntutan, kritik, atau bahkan keheningan emosional. Sayangnya, tidak semua dari kita mendapatkan orang tua yang mampu hadir secara utuh. Bukan karena mereka jahat, tapi karena mereka juga manusia dengan luka dan keterbatasannya sendiri.
Masalahnya, luka yang terbentuk di masa kecil tidak otomatis hilang ketika kita dewasa. Ia ikut tumbuh bersama kita, membentuk cara berpikir, bereaksi, dan memperlakukan diri sendiri maupun orang lain. Pada tahap inilah, banyak orang mulai mengenal konsep reparenting dan salah satu bentuknya yakni self-compassion.
Reparenting dan Self-Compassion
Reparenting secara sederhana diartikan sebagai sebuah proses belajar memenuhi kebutuhan emosional diri sendiri yang dulu tidak terpenuhi. Kalau dulu kita kurang dipeluk, sekarang kita belajar menenangkan diri dengan memeluk diri sendiri. Kalau dulu perasaan kita sering diabaikan, sekarang kita belajar mendengarkannya dan lebih peka pada perasaan kita.
Di sinilah self-compassion berperan besar. Self-compassion bukan tentang memanjakan diri atau mencari pembenaran. Lebih dari itu, self-compassion adalah kemampuan untuk bersikap hangat, memahami, dan tidak kejam pada diri sendiri, terutama saat kita gagal, lelah, atau merasa tidak cukup.
Bayangkan bagaimana orang tua yang sehat merespons anaknya saat anak itu jatuh. Mereka nggak menghakimi, seperti “Makanya jangan ceroboh!” atau “Kamu sih dari tadi nggak bisa diam.” Sebaliknya, responnya justru sangat empatik, seperti “Sakit ya? Sini, istirahat dulu. Lain kali harus hati-hati, ya.”
Nah, self-compassion ini adalah tindakan yang mengajak kita melakukan hal tersebut pada diri kita sendiri.
Jadi Orang Tua yang Aman bagi Diri Sendiri
Belajar self-compassion berarti belajar menjadi figur orang tua yang aman bagi diri kita sendiri. Dengan begitu, kita tidak akan mewariskan luka pengasuhan ini kepada anak-anak kita. Kita menjadi orang tua yang tidak menghilang saat kita rapuh, tidak mempermalukan kita saat kita melakukan kesalahan, dan mencintai tanpa syarat.
Saat kamu berkata pada diri sendiri, “Aku capek dan itu wajar,” di situlah reparenting terjadi. Saat kamu mengizinkan diri untuk beristirahat tanpa rasa bersalah, kamu sedang membangun rasa aman dari dalam. Perlahan, kamu berhenti mencari validasi dari luar secara berlebihan. Bukan karena tidak butuh orang lain, tapi karena kamu sudah punya tempat pulang, yakni dirimu sendiri.
Bukan Berhenti Bertumbuh
Salah kaprah terbesar tentang self-compassion adalah anggapan bahwa kita membuat diri kita malas atau stagnan. Padahal, justru sebaliknya. Orang yang memperlakukan dirinya dengan welas asih cenderung lebih tahan banting secara emosional. Ketika gagal, mereka tidak terjebak dalam rasa malu berkepanjangan. Mereka belajar, bangkit, dan mencoba lagi, tanpa harus membenci diri sendiri di sepanjang prosesnya. Seperti halnya anak yang dibesarkan dengan kasih sayang, akan tumbuh lebih berani, begitu pula kita.
Reparenting lewat self-compassion ini tidak harus dramatis atau spiritual. Kita bisa kok memulainya dari hal-hal kecil, HEALMates. Misalnya:
- Mengganti kalimat “Aku bodoh” menjadi “Aku sedang belajar”.
- Mengizinkan diri menangis tanpa merasa lemah.
- Menghargai usaha, bukan hanya hasil.
- Berhenti membandingkan luka diri dengan luka orang lain.
Mungkin awalnya terasa canggung. Sebab, kebanyakan dari kita tidak diajari bagaimana caranya bersikap lembut pada diri sendiri. Namun, jika terus dilakukan secara konsisten, self-compassion ini bisa sangat berdampak pada kesehatan mental kita.
Perjalanan Pulang ke Diri Sendiri
Jadi, self-compassion ini seperti bentuk keberanian untuk melakukan perjalanan pulang ke diri sendiri. Nggak kelihatan dari luar, namun dampaknya akan sangat terasa. Bisa jadi, emosi jadi lebih terjaga, hati lebih tenang, dan relasi dengan orang lain pun lebih sehat.
Belajar jadi orang tua bagi diri sendiri bukan berarti meniadakan peran orang tua kita di masa lalu. Sebaliknya, kita justru sedang belajar menerima kenyataan bahwa kita memang terluka karena mereka tapi kitalah yang sedang memegang kendali untuk merawat luka itu.
Yuk, HEALMates silangkan tangan di dada dan ucapkan pada diri sendiri, “Aku ada untukmu, dan kali ini kamu tidak sendirian.” (RIW)

