Setiap Ramadan, ada satu agenda yang hampir selalu muncul di kalender sosial kita ya, HEALMates. Yep, “Buka Bersama” alias “Bukber”. Entah itu dengan keluarga, teman sekolah, rekan kerja, komunitas, atau bahkan teman yang sudah lama tidak bertemu.
Undangan biasanya datang dengan kalimat sederhana, “Buka bareng, yuk.” Menariknya, buka bersama ini sering kali terasa seperti lebih dari sekadar makan setelah seharian berpuasa. Ada suasana hangat, nostalgia, tawa, dan kadang juga percakapan mendalam yang muncul di meja makan. Banyak orang bahkan menganggap momen ini sebagai salah satu tradisi sosial paling khas selama Ramadan.
Namun, tahukah HEALMates, sejak kapan sebenarnya tradisi buka bersama ini ada? Mengapa tradisi ini terasa begitu penting dalam kehidupan sosial masyarakat? Yuk HEALMates, kita ulas tentang budaya buka bersama dalam artikel berikut ini.
Dari Iftar Sederhana ke Tradisi Sosial
Dalam tradisi Islam, berbuka puasa atau yang dikenal sebagai iftar sejak awal memang dianjurkan untuk dilakukan bersama. Dalam banyak riwayat, Nabi Muhammad SAW sering berbuka bersama keluarga, sahabat, atau orang-orang yang membutuhkan. Bahkan memberi makan orang yang berpuasa juga dianggap sebagai salah satu amal yang bernilai besar.
Pada masa awal Islam, iftar biasanya berlangsung sederhana. Kurma, air, atau makanan ringan sudah cukup untuk mengakhiri puasa. Namun yang paling penting bukanlah menunya, melainkan kebersamaan di dalamnya.
Semangat kebersamaan inilah yang kemudian menjadi dasar berkembangnya tradisi buka bersama hingga saat ini. Sejarawan Islam Dr. Hamidulloh menjelaskan bahwa Rasulullah memanfaatkan waktu berbuka tidak hanya sebagai momen untuk mengakhiri puasa, tetapi juga sebagai sarana mempererat solidaritas sosial di antara umat. Hal ini sejalan dengan hadis yang diriwayatkan oleh Tirmidzi:
“Barang siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun.” (HR. Tirmidzi)
Hadis tersebut menegaskan bahwa memberi makan orang yang berpuasa merupakan amalan yang sangat dianjurkan, karena selain menumbuhkan kepedulian dan kebersamaan, juga mendatangkan pahala yang besar.
Seiring berjalannya waktu, praktik berbuka bersama ini kemudian semakin berkembang di berbagai wilayah. Di Timur Tengah misalnya, keluarga besar sering berkumpul dalam satu meja panjang saat azan magrib. Di Turki ada tradisi makan bersama dalam suasana yang meriah di ruang publik. Sementara itu, di banyak negara Asia Selatan, iftar sering menjadi momen berbagi makanan dengan tetangga dan komunitas sekitar.
Artinya, sejak dulu berbuka puasa memang tidak hanya dimaknai sebagai aktivitas pribadi antara manusia dan Tuhan, tetapi juga sebuah praktik sosial yang mempererat hubungan antarmanusia.
Ketika Tradisi Bertemu Budaya Lokal
Di Indonesia, tradisi buka bersama berkembang menjadi sesuatu yang sangat khas. Bahkan bagi banyak orang, Ramadan terasa kurang lengkap tanpa agenda ini. Menariknya, buka bersama di Indonesia sering melibatkan banyak lingkaran sosial yang berbeda. Ada buka bersama keluarga, buka bersama teman sekolah, buka bersama alumni, buka bersama kantor, bahkan buka bersama komunitas hobi.
Setiap kelompok membawa dinamika yang berbeda-beda. Buka bersama keluarga biasanya terasa lebih intim dan penuh cerita sehari-hari. Buka bersama teman sekolah sering dipenuhi nostalgia dan candaan masa lalu. Sementara itu, buka bersama teman kantor kadang menjadi ruang santai yang jarang muncul di luar bulan Ramadan.
Tradisi ini perlahan menjadi bagian dari identitas sosial masyarakat Indonesia selama Ramadan. Aktivitas ini bukan hanya ritual keagamaan, tetapi juga ruang untuk memperkuat hubungan sosial yang mungkin selama ini jarang dilakukan.
Ruang untuk Menyambung Silaturahmi
Salah satu hal menarik dari budaya buka bersama adalah kemampuannya untuk mempertemukan kembali orang-orang yang sudah lama tidak berjumpa. Tidak jarang seseorang yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu teman lamanya akhirnya kembali berkumpul karena satu undangan sederhana, “Bukber, yuk!”
Ramadan seakan-akan menjadi momentum spesial untuk bertemu kembali dan menyambung tali silaturahmi. Akhirnya, buka bersama bukan hanya soal makan, tetapi juga tentang memperbarui koneksi manusia.
Momen Berbagi dan Empati
Selain menjadi ruang sosial, buka bersama juga sering menjadi momen untuk berbagi. Banyak komunitas yang mengadakan buka bersama dengan anak yatim, panti asuhan, atau masyarakat yang membutuhkan. Tradisi berbagi makanan selama Ramadan menjadi cara sederhana untuk menumbuhkan empati dan solidaritas sosial.
Dalam konteks ini, buka bersama menjadi lebih dari sekadar pertemuan sosial. Ia menjadi bentuk nyata dari nilai-nilai Ramadan yang mulia, seperti kepedulian, kebersamaan, dan rasa syukur.
Ketika seseorang menyediakan makanan untuk orang lain yang sedang berpuasa, ada pesan yang lebih dalam daripada sekadar berbagi hidangan. Ada keinginan untuk memastikan bahwa kebahagiaan Ramadan juga bisa dirasakan bersama.
Ramadan memang bulan yang sarat dengan refleksi spiritual ya, HEALMates. Tak heran, tradisinya pun selalu memiliki makna yang dalam. Salah satunya yakni tradisi buka bersama atau bukber. Aktivitas ini seakan memberi ruang bagi kita untuk merasakan dua hal sekaligus ya, yakni kedekatan dengan Tuhan dan kedekatan dengan sesama manusia. Itulah salah satu dari keistimewaan Ramadan.
Nah, kalau HEALMates, sudah berapa kali bukber, nih? (RIW)

