Berbicara tentang seni dan inner child, salah satu seniman lokal yang menarik untuk dibahas adalah Martcellia Liunic. Ia adalah seorang penggiat wearable art asal Jakarta yang dikenal dengan karya doodlenya yang playful, penuh warna, dan menyentuh sisi emosional masa kecil kita.
Martcellia Liunic kerap bereksplorasi dengan medium. Baginya, ini bukan sekadar proses teknis, tapi bagian penting dari cara ia memahami dan mengekspresikan dirinya. Mulai dari cat air, kolase, hingga teknik linocut, semua ia jajaki dengan rasa ingin tahu yang besar. Perpaduan medium dan penggunaan warna-warna kontras yang berani membuat karya-karyanya terasa hidup. Itulah salah satu alasan mengapa kita perlu mengenal lebih dalam profil dan karyanya nih, HEALMates. Yuk, kita ulas lebih lengkap dalam artikel berikut ini!
Liunic On Things dan Perjalanan Kreatifnya
Perempuan berusia 31 tahun ini dikenal sebagai ilustrator sekaligus art director dengan pengalaman yang cukup panjang di industri kreatif, lho. Berdasarkan profil LinkedIn-nya, Cella juga mengelola usaha wearable art lewat brand Liunic On Things. Brand ini sendiri sudah berdiri sejak pertengahan 2015 lalu, HEALMates. Sudah satu dekade berdiri dan melambungkan nama sang empunya.
Nama Liunic On Things sendiri diambil dari nama Martcellia dan adiknya, Owi Liunic. Dalam sebuah wawancara bersama salah satu media, Cella mengisahkan bahwa sejak awal, Liunic On Things ini memang tumbuh dari kecintaan Cella pada hal-hal sederhana di sekitarnya, terutama hubungan antar manusia dan emosi yang muncul di dalamnya.
Ketertarikan Cella pada dunia gambar sebenarnya sudah ada sejak kecil. Ia belajar menggambar dari neneknya yang sangat piawai. Namun, ia baru benar-benar mulai membagikan karyanya secara publik sekitar empat tahun lalu, ketika Instagram menjadi ruang baru untuk berbagi dan berekspresi.
Karya-karyanya identik dengan karakter binatang, tumbuhan, dan makhluk hidup lainnya, yang digambarkan dalam suasana ceria dan kaya warna. Ilustrasi tersebut kemudian diaplikasikan ke berbagai produk seperti patch, pin, dan aksesori lainnya. Gaya visual yang unik inilah yang kemudian membuka banyak pintu kolaborasi, mulai dari Tri Indonesia, Aqua, Unilever, Jenius, Grab, Mothercare, hingga Buro27 di Singapura.
Sebelum fokus di ilustrasi, perjalanan karier Cella rupanya cukup beragam. Ia pernah bekerja sebagai photo editor di Axioo Photography (2009–2011), lalu beralih menjadi graphic designer di Whatnot Studio pada 2012. Kariernya kemudian berlanjut sebagai art director di Bates CHI & Partners dari 2013 hingga 2016. Hingga pada Juni 2015, Cella mendirikan Liunic On Things dan sejak November 2016 mulai menapaki jalur ilustrator secara lebih serius.
Salah satu karyanya yang cukup mencuri perhatian adalah ilustrasi bertema Kemerdekaan Indonesia pada perayaan HUT ke-75 RI. Dalam karya tersebut, Cella menampilkan ragam budaya Indonesia beserta simbol khas 17 Agustus seperti panjat pinang dan upacara bendera.
Proses, Inspirasi, dan Kejujuran Berkarya
Bagi Cella, ilustrasi bukan soal teknik yang rumit. Ia lebih memilih kejujuran emosi. Ia mengaku senang bereksperimen dengan medium, menggabungkan cat air, kolase, dan sentuhan digital, bahkan belakangan ini mulai mengeksplorasi linocut. Semua karya di Liunic On Things lahir dari suasana hati dan perasaan yang ia alami saat itu.
Inspirasi bisa datang dari mana saja, mulai dari lagu, film, pengalaman personal, masa kecil, budaya dan kultur, Kawaii Japan, alam, hewan, isu sosial, hingga dinamika hubungan antar manusia. Semua itu berkelindan dan menemukan bentuknya dalam ilustrasi yang terasa personal, namun tetap relatable.
Soal inspirasi figur, Cella menyebut neneknya sebagai sosok yang paling memengaruhi hidupnya. Ia adalah perempuan yang kuat, penuh cinta, pekerja keras, dan selalu mengutamakan keluarga. Untuk ilustrator favorit, dari dalam negeri ia mengagumi karya Utay (Ruth Marbun) yang terasa sangat raw dan jujur, sementara dari luar negeri ia menyukai Gemma Correll yang simpel, insightful, dan menggemaskan.
Pengalaman membagikan karya di media sosial awalnya sempat membuatnya insecure. Sebab, menurutnya kala itu, internet terasa “liar”. Namun, banyak respons positif yang ia terima sehingga menjadi bahan bakar untuk terus berkarya dan berkembang.
Itulah ulasan mengenai profil dan karya Martcellia Liunic, HEALMates. Sangat inspiratif, ya? (RIW)

