Logo Heal

ART, MONEY & TECHNOLOGY

Art, Money & Technology

Perempuan Bekerja vs Ibu Rumah Tangga, Pilih Mana?

Perempuan Bekerja vs Ibu Rumah Tangga, Pilih Mana?

Oleh :

Perdebatan mengenai perempuan bekerja atau menjadi ibu rumah tangga seolah tidak pernah usai ya, HEALMates. Di satu sisi, perempuan didorong untuk mandiri secara finansial dan mengembangkan potensi diri. Namun di sisi lain, masih kuat anggapan bahwa “ibu yang baik” adalah mereka yang sepenuhnya berada di rumah dan mengurus rumah tangga. Padahal, di balik pilihan itu, ada faktor psikologis, sosial, dan ekonomi yang jauh lebih kompleks daripada sekadar penilaian hitam-putih.

Nyatanya, tidak ada satu pilihan yang benar-benar sempurna untuk semua perempuan. Sebab tentunya, setiap keputusan membawa tantangan dan konsekuensi emosional masing-masing. Meski begitu, banyak juga perempuan yang masih bingung mau pilih peran yang mana, jadi perempuan bekerja atau ibu rumah tangga. Oleh karena itu, penting juga untuk memahami persoalan ini dari berbagai perspektif. 

Antara Identitas Diri dan Kesehatan Mental

Dalam perspektif psikologi, pilihan untuk bekerja atau menjadi ibu rumah tangga bagi perempuan berkaitan dengan identitas diri dan kesehatan mentalnya. Menurut psikolog, inti masalah utama bukan terletak pada bekerja atau tidak bekerja. Lebih dari itu, persoalannya adalah apakah seorang perempuan merasa memiliki kontrol atas pilihannya atau tidak. 

Menurut asosiasi psikologi Amerika (APA), otonomi dalam pengambilan keputusan ini sangat berpengaruh terhadap kesejahteraan psikologis dan tingkat stres seseorang, termasuk pada perempuan. Perempuan yang bekerja sering merasa lebih percaya diri karena memiliki ruang aktualisasi diri dan jejaring sosial yang lebih luas. Namun, mereka juga rentan mengalami kelelahan emosional akibat beban ganda antara pekerjaan dan urusan domestik. 

Sementara itu, peran ibu rumah tangga juga kerap menghadapi tantangan berbeda. Ada rasa terisolasi, kurangnya pengakuan sosial, hingga krisis identitas karena seluruh perannya terfokus di ranah domestik. Pandangan sosial yang masih cenderung patriarkis juga memperparah kondisi ini. Ketika ibu rumah tangga dipandang sebelah mata, maka perempuan yang sedang menjalani peran ini jadi merasa insecure terhadap dirinya sendiri. 

Intinya, baik bekerja maupun di rumah, keduanya sama-sama berpotensi menyehatkan dan juga melelahkan mental, tergantung pada dukungan lingkungan dan kualitas relasi yang dimiliki.

Tekanan Norma dan Ekspektasi Lingkungan

Secara sosial dengan konstruksi budaya patriarki, perempuan sering ditempatkan pada posisi yang serba salah. Di satu sisi, ketika ia memilih bekerja, ia dianggap “kurang fokus pada keluarga”. Sementara itu, jika ia tidak bekerja, ia juga dinilai “tidak produktif” bahkan kerap dianggap hanya jadi “beban suami”. 

Data dari International Labour Organization (ILO) menunjukkan bahwa perempuan secara global masih memikul porsi terbesar pekerjaan domestik dan pengasuhan, terlepas dari status pekerjaannya. Artinya, ketika perempuan memilih bekerja, beban sosial tidak otomatis berkurang. Sebaliknya, standar yang dituntut justru semakin bertambah. Perempuan dituntut untuk sukses di karier, jadi ibu yang baik, sekaligus jadi istri yang ideal. Tekanan inilah yang kerap memicu rasa bersalah (mom guilt) dan kelelahan berkepanjangan.

Pilihan perempuan sering kali bukan sekadar preferensi pribadi, melainkan hasil negosiasi dengan norma, ekonomi keluarga, dan struktur sosial yang belum sepenuhnya setara.

Kemandirian Ekonomi dan Stabilitas Keluarga

Dilihat dari sisi ekonomi, bekerja memberi perempuan akses pada kemandirian finansial, rasa aman, dan daya tawar yang lebih kuat dalam pengambilan keputusan keluarga. Bagi HEALMates yang bekerja, kamu tentu merasakan perbedaannya, rasa percaya diri saat mengambil keputusan keluarga yang meningkat saat kita memiliki penghasilan sendiri. Ini sesuai dengan data World Bank, di mana partisipasi perempuan dalam angkatan kerja disebut sangat berkaitan dengan peningkatan kesejahteraan keluarga dan pendidikan anak. 

Namun, menjadi ibu rumah tangga juga memiliki nilai ekonomi yang sering tidak terlihat. Pekerjaan pengasuhan dan domestik adalah unpaid labor yang jika dikonversi ke nilai pasar, kontribusinya sangat besar bagi stabilitas rumah tangga.

Masalahnya, kerja domestik jarang diakui sebagai “kerja produktif”, sehingga ibu rumah tangga kerap diposisikan lebih rendah secara sosial maupun ekonomi, meski perannya krusial.

Jadi, Pilih Mana?

Pada akhirnya, pertanyaan yang muncul adalah “Pilih yang mana, jadi perempuan bekerja atau ibu rumah tangga?”. Namun, penting untuk dicatat ya, HEALMates bahwa pertanyaan ini tidak bisa dijawab hanya dengan standar tunggal. 

Psikolog menekankan bahwa kesejahteraan mental, dukungan pasangan, kondisi ekonomi, dan kesiapan emosional jauh lebih penting daripada label peran itu sendiri. Karena itulah, pilihan terbaik bagi perempuan tentu saja pilihan yang ia sadari. Pilihan ini sepatutnya membuat perempuan merasa dihargai, tidak tertekan, dan mampu tumbuh sebagai individu, baik di ranah publik maupun domestik. (RIW)

Bagikan :
Perempuan Bekerja vs Ibu Rumah Tangga, Pilih Mana?

More Like This

Logo Heal

Kamu dapat menghubungi HEAL disini:

Heal Icon

0858-9125-3018

Heal Icon

00 31 (0) 6 45 29 29 12

Heal Icon

heal@sahabatjiwa.com

Copyright © 2023 HEAL X  Sahabat Jiwa