Di sebuah ruang perawatan yang tenang, seorang pasien duduk menatap kosong ke arah jendela. Secara fisik, mungkin ia tampak baik-baik saja. Tidak ada luka terbuka, tidak ada infus yang terpasang, tidak ada tanda darurat medis yang mencolok. Namun di balik ketenangan itu, bisa saja ada badai yang tidak terlihat, sebuah kecemasan, depresi, trauma, atau kelelahan mental yang berat.
Di sinilah peran seorang perawat menjadi sangat penting, bukan hanya sebagai tenaga medis yang merawat tubuh, tetapi juga sebagai sosok yang mampu memahami kondisi mental pasien. Namun pertanyaannya adalah âApakah semua perawat sudah benar-benar siap menghadapi tantangan kesehatan mental yang semakin kompleks?â
Oleh karena itu, saya bersama dengan Shanti Wardaningsih, melakukan sebuah penelitian berjudul Global Research Trends on Mental Health Training in Nursing: A Bibliometric Analysis 2015â2025, untuk menjawab pertanyaan ini dengan melihat bagaimana dunia akademik membahas pelatihan kesehatan mental bagi perawat selama satu dekade terakhir.
Dunia Sedang Menghadapi Krisis Kesehatan Mental
Beberapa tahun terakhir, kesehatan mental menjadi isu global yang semakin serius. Gangguan mental bukan lagi persoalan kecil yang hanya terjadi pada sebagian orang. Menurut laporan kesehatan global, gangguan kesehatan jiwa bahkan menyumbang sekitar 13% dari total beban penyakit di dunia, dan diperkirakan akan menjadi salah satu penyebab disabilitas terbesar di masa depan.
Di Indonesia sendiri, angka gangguan mental juga meningkat. Data terbaru menunjukkan prevalensi masalah kesehatan mental naik dari 6,1% pada 2018 menjadi 9,8% pada 2023. Angka ini bukan sekadar statistik. Di baliknya ada jutaan cerita, bagaimana mahasiswa burnout, pekerja yang mengalami tekanan kerja, ibu yang menghadapi postpartum depression, hingga anak muda yang berjuang melawan kecemasan. Dalam banyak kasus, tenaga kesehatan, terutama perawat, menjadi orang pertama yang berhadapan langsung dengan kondisi tersebut.
Perawat: Garda Depan yang Sering Terlupakan
Ketika seseorang datang ke fasilitas kesehatan, sering kali perawatlah yang pertama kali berinteraksi dengan pasien. Mereka melakukan pengkajian awal, memantau kondisi pasien, dan mendampingi proses perawatan. Artinya, perawat memiliki posisi yang sangat strategis untuk mendeteksi tanda-tanda awal gangguan mental.
Masalahnya, tidak semua perawat mendapatkan pelatihan yang cukup tentang kesehatan mental. Beberapa penelitian bahkan menunjukkan bahwa kemampuan perawat dalam memberikan asuhan keperawatan jiwa masih belum optimal. Hal ini sering kali disebabkan oleh minimnya pelatihan dan edukasi khusus mengenai kesehatan mental. Akibatnya, banyak gejala mental yang sebenarnya bisa dideteksi lebih awal justru terlewatkan. Padahal, intervensi dini bisa membuat perbedaan besar dalam kehidupan seseorang.
Apa yang Dikatakan Penelitian Global?
Untuk memahami bagaimana dunia merespons masalah ini, saya menganalisis 110 artikel ilmiah dari database Scopus yang terbit antara tahun 2015 hingga 2025. Pendekatan yang digunakan disebut analisis bibliometrik, yaitu metode yang memetakan tren penelitian berdasarkan publikasi ilmiah.
Hasilnya menunjukkan satu hal yang menarik, yakni minat penelitian tentang pelatihan kesehatan mental bagi perawat terus meningkat. Pada tahun 2015 hanya ada 4 publikasi, tetapi pada tahun 2025 jumlahnya melonjak menjadi 18 artikel. Artinya, dunia mulai menyadari bahwa meningkatkan kompetensi mental health bagi tenaga kesehatan bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.
Negara Mana yang Paling Aktif?
Menariknya, penelitian ini juga memetakan negara mana saja yang paling aktif meneliti topik ini. Sepuluh negara dengan publikasi terbanyak tentang topik inii antara lain:
- Amerika Serikat
- Inggris
- Australia
- Irlandia
- China
- Finlandia
- Selandia Baru
- Belanda
- Norwegia
- Afrika Selatan
Amerika Serikat berada di posisi pertama dengan 27 publikasi penelitian. Ini tentu suatu hal yang menggembirakan di dunia kesehatan mental. Amerika memang memiliki sejarah panjang dalam penelitian kesehatan mental, termasuk keberadaan lembaga seperti National Institute of Mental Health yang sudah berdiri sejak 1946. Tak heran, dengan dukungan kebijakan dan pendanaan riset yang kuat, penelitian tentang kesehatan mental berkembang lebih cepat di sana.Â
Dari Kurikulum ke Teknologi
Salah satu temuan paling menarik dari penelitian ini adalah pergeseran tren penelitian. Pada awal periode penelitian (sekitar 2015â2018), fokus utama masih berkutat pada:
- pendidikan kesehatan mental,
- kurikulum keperawatan jiwa,
- gangguan mental, serta
- pembelajaran dasar keperawatan psikiatri.Â
Namun setelah tahun 2020, topik penelitian mulai berubah. Para peneliti mulai tertarik pada pendekatan yang lebih inovatif, seperti:
- simulation training,
- e-learning,
- hybrid learning, hingga
- peningkatan clinical competence
Artinya, pendidikan kesehatan mental untuk perawat tidak lagi hanya berbentuk teori di kelas, tapi sudah mulai berkembang menjadi metode pembelajaran yang lebih praktis dan interaktif.
Misalnya:
- simulasi kasus pasien,
- role-play antara mahasiswa dan pasien,
- penggunaan platform pembelajaran digital, hingga
- model belajar hybrid (kombinasi online dan tatap muka).Â
Pendekatan ini dinilai lebih efektif karena dapat menjembatani kesenjangan antara teori dan praktik klinis.
Mengurangi Stigma, Meningkatkan Empati
Salah satu manfaat penting dari pelatihan kesehatan mental adalah mengurangi stigma terhadap pasien dengan gangguan mental. Sayangnya, stigma terhadap penderita gangguan jiwa masih cukup kuat, bahkan di kalangan tenaga kesehatan.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa metode pembelajaran seperti role-play dan kontak langsung dengan pasien dapat membantu mahasiswa keperawatan memahami pengalaman pasien secara lebih manusiawi. Ketika seorang perawat benar-benar memahami bagaimana rasanya hidup dengan gangguan mental, empati mereka akan meningkat. Empati inilah yang menjadi fondasi penting dalam pelayanan kesehatan.
Tantangan Besar Pascapandemi
Pandemi COVID-19 meninggalkan dampak psikologis yang tidak kecil. Rasa takut, kecemasan, isolasi sosial, dan tekanan ekonomi membuat banyak orang mengalami gangguan mental. Ironisnya, setelah pandemi mereda, masalah kesehatan mental tidak serta-merta ikut menghilang. Justru banyak kasus trauma pasca-pandemi yang masih muncul hingga sekarang.
Karena itu, sistem kesehatan membutuhkan tenaga kesehatan yang tidak hanya memahami penyakit fisik, tetapi juga mampu menangani masalah mental secara komprehensif. Pada titik ini, sekali lagi perawat berada di garis depan.
Masa Depan Pelatihan Kesehatan Mental
Dari penelitian ini, kita bisa menekankan betapa pentingnya pelatihan kesehatan mental bagi perawat. Pelatihan kesehatan mental sudah harus menjadi prioritas dalam pendidikan keperawatan. Bukan hanya sebagai mata kuliah tambahan, tetapi sebagai kompetensi inti. Beberapa hal yang bisa dikembangkan di masa depan misalnya:
- integrasi kesehatan mental dalam kurikulum keperawatan,
- penggunaan teknologi pembelajaran digital,
- simulasi klinis berbasis kasus nyata, sertaÂ
- peningkatan pelatihan komunikasi terapeutik.Â
Dengan pendekatan yang tepat, perawat tidak hanya akan menjadi tenaga medis yang merawat penyakit. Mereka juga akan menjadi pendengar, pendamping, dan penjaga kesehatan mental masyarakat.
Pada akhirnya, kesehatan mental mengingatkan kita pada satu hal sederhana bahwa tidak semua luka terlihat oleh mata. Kadang seseorang tampak baik-baik saja, tetapi sebenarnya sedang berjuang keras di dalam dirinya. Di saat seperti itu, satu percakapan empatik dari tenaga kesehatan bisa memberikan dampak yang besar. Bukan hal yang mustahil jika di ruang perawatan yang sunyi itu, seorang perawat yang terlatih dengan baik bisa menjadi orang pertama yang benar-benar membantu menyadari gangguan kesehatan mental yang sedang dialami seseorang.Â
Tentang Penulis:
Mukhlis Fauzi S.Kep, Ns adalah seorang perawat dan relawan kesehatan Jiwa yang aktif dalam komunitas KOPIGAWA (komunitas Peduli Ganguan Jiwa) dan Sejiwa (selaras Jiwa kebumen). Penulis bisa dihubungi melalui surel: mukhlisfauzi92@gamail.com

