Logo Heal

MENTAL HEALTH

Mental Health

Merawat Orang Tua: Perjalanan Cinta dan Syukur yang Tak Pernah Putus

Merawat Orang Tua: Perjalanan Cinta dan Syukur yang Tak Pernah Putus

Oleh :

“Tidak ada sekolah untuk menjadi caregiver. Tapi, selalu ada cinta yang pelan-pelan mengajarkan kita cara merawat dengan ikhlas.”

Pada banyak kasus, cerita tentang orang tua yang menua sering hadir tanpa banyak kata. Mereka yang dulu gesit kini berjalan pelan. Mereka yang dulu mengatur semuanya, kini mulai perlu dibantu. Tapi kadang, justru merekalah yang tak mau dibantu. 

Begitulah kisah banyak anak dewasa yang kini berperan ganda, bekerja, mengurus rumah, dan menjadi caregiver bagi orang tua yang mulai renta. Sebuah fase hidup yang tak pernah diajarkan di sekolah, tapi menuntut kesabaran dan cinta tanpa batas.

Peran sebagai caregiver sering datang tanpa peringatan. Tiba-tiba saja, anak dewasa mendapati dirinya bukan hanya mengurus pekerjaan kantor dan rumah, tapi juga merawat orang tua yang mulai kurang sehat, bahkan kadang sambil mendampingi anaknya sendiri. Agaknya, fenomena ini kini banyak dialami oleh generasi usia 40 atau 50-an. Di mana di usia mereka yang telah dewasa, mereka juga berdiri di tengah-tengah. Di satu sisi harus menjaga orang tua dan di sisi lain harus membesarkan anak. Dalam satu hari, mereka bisa menjalani banyak peran, menjadi pekerja, orang tua, bahkan perawat.

Tak heran, banyak penelitian yang menyebutkan bahwa menjadi caregiver bukan hanya pekerjaan fisik, tapi juga mental. Ada rasa takut, cemas, bahkan frustrasi yang seringkali muncul dan tak bisa dipahami oleh mereka yang tidak mengalaminya. Namun di sisi lain, ada juga rasa haru dan syukur yang tak bisa dijelaskan bahwa mereka masih bisa melihat orang tuanya hidup dan tersenyum. 

Belajar dari Budaya

Dalam sebuah artikel yang dimuat di salah satu media, ada sebuah fenomena menarik yang terjadi di China, di mana banyak cucu yang memilih merawat kakek-nenek mereka dengan sistem gaji. Awalnya hal ini dilakukan karena sulitnya mencari pekerjaan, tapi lambat laun berubah menjadi bentuk nyata dari kasih dan penghormatan. Mereka ingin memastikan orang tua mereka menikmati masa tua dengan bahagia.

For your information HEALMates,  di budaya Tionghoa, orang tua dan kakek-nenek acapkali dianggap sebagai penjaga tradisi, pewaris kebijaksanaan, sekaligus sumber kasih yang tidak tergantikan. Mereka bukan beban, tapi akar yang membuat generasi berikutnya bisa berdiri kokoh.

Agaknya kita di Indonesia juga punya nilai yang serupa. Meski seringkali modernisasi membuat rasa kasih dan sayang terhadap orang tua terdistorsi. Banyak anak ingin berbakti, tapi sibuk. Banyak orang tua ingin mandiri, tapi kesepian. Padahal di balik dinamika itu, cinta selalu berusaha mencari bentuknya sendiri.

Antara Lelah dan Rasa Syukur

Tidak mudah menjadi seorang caregiver, meski juga bukan berarti sulit ya, HEALMates. Bagi sebagian orang, merawat orang tua bisa terasa berat di awal. Apalagi, jika masih ada pekerjaan yang menuntut kita untuk produktif, anak yang harus diperhatikan, atau tubuh sendiri yang seringkali merasa lelah. Tak jarang, kita juga spontan melampiaskan rasa lelah ke orang tua kita meskipun sebenarnya kita tidak bermaksud begitu. Hingga akhirnya, muncul perasaan bersalah karena sempat kesal atau karena merasa tak cukup sabar.

Seiring berjalannya waktu, perasaan lelah itu pun bisa berubah jadi rasa syukur. Pada akhirnya, kita tidak tahu kapan Ibu akan berhenti memanggil, jadi setiap panggilan kecil itu akan kita dengar dengan rasa terima kasih.

Menjadi caregiver sering kali berarti menunda kehidupan sendiri, menunda karier, waktu istirahat, bahkan ruang untuk diri. Kita berhadapan dengan dilema yang tak pernah sederhana, antara ingin memberi yang terbaik untuk orang yang kita cintai, tapi juga ingin menjaga kewarasan diri sendiri. Ada kalanya, merawat justru membuat kita merasa sendirian dalam keramaian, seolah dunia terus berjalan sementara kita terjebak di satu titik yang sama. 

Namun di sela-sela perjuangan itu, pelan-pelan kita belajar melihat makna yang lebih dalam. Di balik kelelahan yang dilalui, ada kasih yang diam-diam tumbuh semakin kuat. Di setiap rutinitas yang tampak berat setiap harinya, ada kesempatan untuk membalas sebagian kecil dari cinta yang dulu kita terima tanpa pamrih. Banyak caregiver akhirnya menyadari bahwa merawat bukan hanya tugas, tapi juga anugerah yang tidak semua orang sempat alami, sebuah momen untuk belajar sabar, ikhlas, dan memahami cinta dalam bentuk paling sunyi. Hingga seiring waktu berjalan, perasaan lelah itu pun perlahan berubah menjadi rasa syukur karena masih sempat hadir dan membersamai mereka yang kita cintai. 

Antara Doa dan Ketakutan yang Tak Terucap

Bagi banyak anak, doa seorang ibu adalah hal yang paling dirindukan dan paling ditakuti kehilangannya. Ketika melihat orang tua tidur siang di kursi favoritnya, ada dorongan untuk memastikan bahwa mereka masih bernapas. Ada ketakutan diam-diam kalau sampai waktu kebersamaan ini semakin sedikit, meski tak pernah berani diucapkan. Tapi, justru dari rasa takut itulah tumbuh kesadaran di hati kita bahwa setiap hari bersama dengan mereka adalah bonus yang tak ternilai. 

Merawat orang tua tak selalu harus heroik. Terkadang, cukup dengan mendengarkan mereka bercerita hal yang sama untuk ke seratus kalinya. Kadang, cukup dengan duduk di sampingnya tanpa bicara dan memastikan mereka makan dengan tenang. Kita tidak perlu menjadi caregiver yang sempurna, karena tak ada yang benar-benar siap untuk peran itu. Tapi, kita bisa menjadi anak yang terus belajar, belajar mencintai tanpa banyak teori, belajar bersabar tanpa paksaan, dan belajar bersyukur tanpa menunggu kehilangan.

Suatu hari nanti, kita pun akan berada di posisi yang sama, menua, melambat, dan berharap masih ada tangan yang mau menggenggam tanpa merasa terbebani. Mungkin itulah yang dinamakan lingkaran cinta paling tulus di dunia. Cinta yang tidak berhenti di satu generasi, tapi terus berputar, dari ibu ke anak, dari anak ke cucu, dan kembali lagi ke doa-doa yang tak akan pernah terputus. 

Karena pada akhirnya, merawat orang tua bukan tentang mengganti jasa, melainkan tentang menjaga agar cinta itu tetap hidup, meski dunia terus berubah dan tubuh perlahan melemah. Jadi, untuk HEALMates yang saat ini sedang membersamai orang tua, kamu bisa belajar ikhlas setiap hari. Tulisan ini hanya sebuah refleksi kecil bahwa merawat bukan hanya tentang pengorbanan, tapi juga tentang rasa syukur yang tak pernah putus. Tetap semangat, HEALMates! (MY)

Bagikan :
Merawat Orang Tua: Perjalanan Cinta dan Syukur yang Tak Pernah Putus

More Like This

Logo Heal

Kamu dapat menghubungi HEAL disini:

Heal Icon

0858-9125-3018

Heal Icon

00 31 (0) 6 45 29 29 12

Heal Icon

heal@sahabatjiwa.com

Copyright © 2023 HEAL X  Sahabat Jiwa