Pernah merasa tubuh sudah rebah, mata terpejam, tapi kepala justru nggak mau diam, HEALMates? Pikiran berkelindan ke sana kemari, tentang menu sarapan besok, seragam anak yang belum disetrika, tagihan listrik yang jatuh tempo, sampai pekerjaan yang menumpuk tak bisa ditawar.
Bagi banyak perempuan, terutama ibu, malam hari justru jadi waktu kerja yang tak kasat mata. Seperti yang dirasakan oleh Dwi, perempuan berusia 35 tahun dan seorang ibu. Setiap malam sebelum tidur, pikirannya seperti daftar tugas tanpa tombol off.
“Kadang sudah ngantuk, tapi otak masih muter. Besok anak makan apa, bahannya cukup nggak, berangkat sekolah naik apa, cucian numpuk banget ade bisa disambi atau enggak,” ujarnya lirih saat berbincang dengan tim riset HEAL. Saat malam, tubuhnya memang berhenti, tapi pikirannya tidak pernah benar-benar sunyi.
Keseharian Dwi ini mungkin bisa merepresentasikan pengalaman banyak perempuan lain, termasuk kita HEALMates. Perempuan seringkali menjadi “Manajer Utama” urusan domestik, dari mengatur logistik rumah, memastikan kebutuhan emosional anak terpenuhi, sampai mengingat hal-hal kecil yang luput dari perhatian orang lain. Semua tampak sepele, nyaris tak terlihat. Namun, justru di situlah letak bebannya.
Pekerjaan Tak Terlihat yang Menggerogoti Pikiran
For your information HEALMates, fenomena ini dikenal sebagai mental load, beban mental yang lahir dari tumpukan kerja kognitif dan emosional yang berlangsung terus-menerus. Dilansir dari Psychology Today, mental load bukan sekadar soal banyaknya pekerjaan rumah, melainkan tentang tanggung jawab mental untuk mengingat, merencanakan, mengantisipasi, dan memastikan semuanya berjalan baik.
Perempuan sering kali tampak ‘tidak sedang melakukan apa-apa’, padahal pikirannya bekerja. Nah, di situlah kerja kognitifnya. Di saat yang sama, ada kerja emosional, yakni kemampuan mengelola perasaan, menahan lelah, meredam emosi, tetap sabar, tetap hangat, karena seorang ibu seolah tak punya ruang untuk mengeluh.
Di rumah tangga, kerja-kerja ini jarang diakui sebagai “kerja sungguhan”. Ketika ditanya, “Kamu kerja apa?” dan jawaban “Ibu rumah tangga” seolah langsung dicap sebagai “Oh, nggak kerja, ya?” seakan-akan seorang ibu rumah tangga adalah pengangguran. Padahal, pekerjaannya menumpuk dan menguras energi serta mental. Tidak ada jam masuk, tidak ada upah, dan nyaris tak pernah dianggap selesai, namun dampaknya nyata.
Mengapa Perempuan Rentan Terkena Mental Load?
Pertanyaan yang muncul kemudian adalah kenapa beban ini lebih sering jatuh ke pundak perempuan? Jawabannya berkelindan dengan konstruksi gender yang telah lama hidup di masyarakat.
Perempuan, terlebih sebagai istri dan ibu, disosialisasikan untuk menjadi pengasuh utama, penjaga harmoni, dan pusat pengelolaan rumah tangga. Ada lapisan identitas yang membuat tanggung jawab itu terasa “alami”, padahal sejatinya merupakan hasil pembagian peran yang tidak setara.
Banyak aktivis perempuan yang menyebut hal ini sebagai double oppression. Sejak kecil, perempuan dibentuk untuk piawai mengurus ranah domestik dan emosional. Akibatnya, ketika dewasa, banyak dari mereka merasa bersalah jika tidak mampu memenuhi standar “ibu ideal” yang serba bisa, serba sabar, dan selalu tersedia.
Sejumlah studi juga menunjukkan bahwa dalam hal pengasuhan dan pengambilan keputusan terkait anak, perempuan melakukan porsi kerja mental yang jauh lebih besar dibanding laki-laki. Konsekuensinya bukan hanya kelelahan, tetapi juga stres berkepanjangan, kepuasan hidup yang menurun, hingga hambatan dalam pengembangan karier.
Dari Lelah yang Dipendam ke Burnout
Beban mental yang terus dipikul tanpa jeda bukan perkara sepele. Ia bisa menjelma menjadi parental burnout, kecemasan, hingga depresi. Dalam jurnal Occupational Medicine terbitan Oxford Academic, perempuan memiliki kerentanan lebih tinggi terhadap burnout. Hal ini berkaitan erat dengan peran ganda yang mereka jalani. Menjadi pekerja di ranah profesional sekaligus pengelola utama urusan domestik, sama-sama menuntut keterlibatan emosional besar.
Tekanan yang berlangsung terus-menerus di dua ruang inilah yang pada akhirnya membuat ibu bekerja lebih cepat mengalami kelelahan mental dan emosional. Selain itu, keterikatan kultural antara perempuan dan “urusan printilan rumah” juga menjadi salah satu alasan kuat yang mengapa mereka lebih rentan mengalami tekanan psikologis.
Banyak ibu yang akhirnya mengalami mental breakdown karena merasa harus kuat terus. Ada ekspektasi bahwa ibu tidak boleh capek, tidak boleh marah, tidak boleh mengeluh. Padahal, memendam lelah justru memperbesar risikonya.
Ironisnya, ketika seorang ibu kelelahan, ia kerap menyalahkan diri sendiri. “Serba salah,” kata Dwi. “Capek iya, tapi masa iya nggak ngurus anak. Takut dibilang ibu yang nggak peduli.” Kalimat ini menggambarkan bagaimana mental load bukan hanya tentang pekerjaan, tetapi juga rasa bersalah yang terus menekan.
Apa yang Bisa Dilakukan?
Apa yang bisa dilakukan untuk mengatasinya? Hal pertama, yakni rekognisi atau mengakui bahwa apa yang dialami itu nyata dan valid. Mengenal istilah mental load saja sudah bisa menjadi titik balik bagi banyak perempuan agar lebih sadar bahwa secara psikologis dirinya sedang tidak baik-baik saja.
Selanjutnya, cobalah untuk membuka komunikasi yang jujur dan setara dengan pasangan jika sudah berumah tangga. Membicarakan beban mental dengan pasangan bukan berarti mengeluh ya, HEALMates. Tapi, hal ini justru bisa jadi jalan yang membuka ruang untuk pembagian peran yang lebih adil.
Siapa yang menemani ade main dan siapa yang mengurus kaka berangkat ke sekolah? Siapa yang memastikan stok dapur aman? Siapa yang bertanggung jawab support keuangan keluarga? Jadi, keduanya sama-sama berperan.
Memang, mental load berakar pada sistem sosial yang panjang. Ini nggak akan selesai hanya dengan satu percakapan saja, HEALMates. Namun, setiap upaya untuk membaginya, sekecil apa pun bisa jadi bentuk perlawanan terhadap kelelahan yang selama ini dianggap kodrat, lho.
Jadi, kalau kamu udah mulai merasa jenuh, lelah, atau kesal karena merasa semua urusan harus kamu yang mengerjakan semuanya, ini saatnya kamu perlu membuka percakapan dengan pasangan atau orang terdekat. Tapi, penting untuk menyampaikannya dengan cara yang tidak bernuansa menyalahkan ya, HEALMates. Alih-alih menggunakan kalimat bernada tudingan seperti “kamu selalu…”, kamu mungkin bisa memulainya dengan ungkapan perasaan, seperti “aku merasa…”.
Misalnya, kamu bisa mengatakan, “Aku merasa kewalahan karena banyak urusan rumah tangga yang terus aku pikirkan sendiri. Aku butuh dukungan dan pembagian tanggung jawab yang lebih adil supaya kita bisa menjalaninya bersama.”
Dengan begitu, pasanganmu tidak akan merasa disalahkan sebaliknya ini justru bisa membuka empatinya untuk membagi peran dengan lebih adil dalam hal rumah tangga. Tetap, semangat ya, HEALMates. (RIW)

