Logo Heal

ART, MONEY & TECHNOLOGY

Art, Money & Technology

Mengenal Financial Abuse dalam Perselingkuhan dan Dampaknya

Mengenal Financial Abuse dalam Perselingkuhan dan Dampaknya

Oleh :

“Uangmu uangku, uangku ya tetap uangku.”

Kalimat ini terdengar lucu kalau diucapkan sambil bercanda di caption TikTok. Tapi di dunia nyata, kalimat itu bisa jadi awal dari sesuatu yang jauh lebih gelap, financial abuse atau kekerasan finansial.

Kita sering menganggap kekerasan hanya ada dalam bentuk fisik atau verbal. Tapi siapa sangka, menahan uang, tidak jujur tentang uang, mengatur setiap pengeluaran pasangan, atau bahkan menggunakan uang sebagai alat hukuman, juga termasuk bentuk kekerasan? Apalagi, ketika hal ini terjadi di dalam perselingkuhan, situasinya bisa berubah jauh lebih rumit. 

Lalu, apa itu financial abuse dalam perselingkuhan? Apa dampaknya pada keuangan rumah tangga? Yuk HEALMates, kita ulas selengkapnya dalam artikel berikut ini!

Apa itu Financial Abuse dalam Perselingkuhan?

Financial abuse adalah bentuk kekerasan di mana seseorang mengontrol, memanipulasi, atau membatasi akses keuangan pasangannya sebagai cara untuk mendominasi dan mempertahankan kekuasaan. Dalam konteks hubungan, bentuknya bisa beragam, seperti:

  • Melarang pasangan bekerja atau punya penghasilan sendiri. 
  • Mengambil alih seluruh gaji pasangan. 
  • Mengatur setiap pengeluaran dengan ketat tanpa alasan rasional. 
  • Menyembunyikan informasi finansial. 
  • Menggunakan uang sebagai alat ancaman, “kalau kamu nggak nurut, uang bulanan aku stop”.

Kalau dalam hubungan yang sehat, uang jadi alat untuk tumbuh dan merencanakan masa depan bersama. Dalam financial abuse, uang justru dijadikan senjata untuk menundukkan. Lalu, ketika financial abuse ini disertai perselingkuhan, situasinya jadi semakin kompleks. Pelaku bukan hanya berkhianat secara emosional, tapi juga mengisolasi pasangannya secara ekonomi agar tak bisa pergi atau melawan.

Misalnya saja kamu tahu pasanganmu berselingkuh, tapi di saat yang sama kamu juga tahu kamu tidak bisa meninggalkannya karena kamu tidak punya uang. Betapa tidak berdayanya kamu untuk pergi. Kita mungkin bisa melihat kasus-kasus seperti ini di sekitar kita. Betapa banyak perempuan yang dikhianati oleh pasangannya, tapi memilih untuk tetap bersama karena tidak memiliki kemampuan finansial untuk membesarkan anak-anak. Mereka lebih memilih menekan hati nurani dan rasa sakitnya karena tidak punya penghasilan. Sebab, selama ini tidak diperbolehkan bekerja oleh suami yang justru mengkhianatinya sekarang. 

Nah, itulah wajah paling kejam dari financial abuse dalam perselingkuhan. Pelaku membuat pasangannya bergantung secara ekonomi, lalu mempermainkan kekuasaan itu saat melakukan pengkhianatan. Di sini, perselingkuhan bukan cuma soal “orang ketiga”, tapi juga soal kekuasaan ekonomi yang menjerat salah satu pihak agar tetap terjebak dalam hubungan yang tidak sehat.

Mengapa Banyak yang Tak Sadar Sedang Mengalami Financial Abuse?

Banyak orang memang tak sadar bahwa dirinya sedang mengalami financial abuse. Hal ini bisa jadi karena financial abuse sering kali dibungkus dengan cinta dan alasan tanggung jawab. Kalimatnya terdengar lembut juga cenderung romantis. 

“Aku yang cari uang, jadi biar aku yang atur.”

“Kamu nggak usah kerja, aku bisa kok tanggung semuanya.”

“Aku nggak mau kamu capek. Di rumah aja ya, nanti semua aku kasih.”

Awalnya terdengar manis ya, HEALMates. Tapi perlahan, kontrolnya malah semakin kuat. Pasangan yang dikekang mulai kehilangan kebebasan dalam membuat keputusan, bahkan untuk dirinya sendiri. Lalu ketika mereka mencoba protes, pelaku bisa berbalik memainkan peran korban dan bersikap manipulatif. 

Menurut data dari National Network to End Domestic Violence (NNEDV) yang dikutip dari riset University of Wisconsin–Madison (2011), banyak penyintas kekerasan finansial yang akhirnya tetap bertahan dalam hubungan yang toksik. Alasannya sederhana tapi menyayat. Mereka takut tak bisa menafkahi diri sendiri dan anak-anaknya jika pergi. Jadi, meski tahu hubungan itu menyakitkan, mereka memilih diam karena uang jadi tali pengikat yang sulit dilepas.

Hal ini ternyata bukan kasus langka. The Guardian juga pernah merilis hasil survei yang menunjukkan bahwa 1 dari 10 pasangan menikah di Amerika Serikat pernah mengalami kekerasan finansial, mulai dari pengontrolan pengeluaran, larangan bekerja, hingga paksaan untuk menyerahkan seluruh penghasilan pada pasangan.

Di Indonesia, situasinya juga tak jauh berbeda. Kekerasan finansial bahkan disebut-sebut sebagai salah satu pemicu utama perceraian. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirangkum GoodStats (2022), dari total 516.334 kasus perceraian, sekitar 110 ribu di antaranya disebabkan oleh masalah ekonomi. Angka itu memperlihatkan bahwa di balik perceraian yang tampak “biasa”, sering kali tersembunyi cerita panjang tentang kendali, ketimpangan, dan uang yang jadi senjata dalam hubungan.

Apa yang Bisa Dilakukan?

Pertanyaannya adalah apa yang bisa kita lakukan HEALMates? Jika kita berada di situasi seperti ini, mungkin langkah pertama adalah menyadari bahwa ini bukan salah kita. Financial abuse sering dikemas dengan alasan cinta atau tanggung jawab, tapi intinya tetap sama, “kendali sepihak”. 

Kemudian, cobalah untuk mencari dukungan, entah itu dari teman, keluarga, lembaga perempuan, atau konselor keuangan. Di Indonesia, lembaga seperti Komnas Perempuan dan LBH APIK bahkan menerima aduan korban kekerasan ekonomi dan perselingkuhan serta memberi panduan hukum.

Tidak ada kata terlambat untuk memulai, jadi kita harus meyakinkan diri bahwa kita mampu membangun kembali kemandirian finansial sekecil apa pun itu. Bisa mulai dari membuka rekening sendiri, menabung diam-diam untuk dana darurat, atau mencari penghasilan kecil-kecilan yang memberimu ruang gerak.

Kita juga perlu membicarakan hal ini dengan tenaga profesional, baik psikolog maupun konselor keuangan jika kondisinya sudah sangat mengganggu mental. Dengan begitu, kita bisa menata kembali rasa percaya diri dan pola pengelolaan uang yang sehat.

Sebab, perselingkuhan memang seringkali menghancurkan kepercayaan ditambah lagi adanya financial abuse yang pastinya menghancurkan kedaulatan diri kita. Korban dari financial abuse dan perselingkuhan ini seringkali juga kehilangan kendali atas hidupnya.

Kekerasan finansial dan perselingkuhan memang sering luput dari perhatian, padahal dampaknya bisa menghancurkan hidup seseorang secara perlahan ya, HEALMates. Ini bukan sekadar soal uang, tapi tentang kendali dan kebebasan yang dirampas. Dengan memahami seperti apa bentuknya dan apa akibatnya, kita bisa ikut berperan menghentikan praktik ini. Sudah saatnya kita berhenti menormalisasi kontrol atas uang dalam sebuah hubungan, dan mulai mendukung para korban untuk pulih, berdiri lagi, dan merdeka secara finansial. (RIW)

Bagikan :
Mengenal Financial Abuse dalam Perselingkuhan dan Dampaknya

More Like This

Logo Heal

Kamu dapat menghubungi HEAL disini:

Heal Icon

0858-9125-3018

Heal Icon

00 31 (0) 6 45 29 29 12

Heal Icon

heal@sahabatjiwa.com

Copyright © 2023 HEAL X  Sahabat Jiwa