Ketika anak-anak seusianya masih sibuk menggambar pelangi dengan crayon warna-warni di buku gambar, Azzahra Adiva Myesha Khairunnisa justru sudah menorehkan puluhan karya seni yang berhasil memikat banyak orang. Gadis kecil asal Surabaya ini baru berusia 7 tahun, tapi sudah punya lebih dari 50 karya lukis yang sebagian besar terinspirasi dari alam dan kehidupan sehari-harinya.
Di balik senyum malu-malu dan gaya bicara lembutnya, ada jiwa seni yang matang lebih cepat dari usianya. Ia bukan sekadar suka menggambar, tapi menjadikan seni sebagai caranya memahami dunia.
Yuk, kenalan lebih dekat dengan seniman cilik inspiratif ini HEALMates!
Jemari Kecil dan Coretan Dinding
Kalau HEALMates punya anak atau adik, kamu pasti sudah biasa dengan dinding rumah yang penuh corat-coret. Nah, ini jugalah yang jadi awal dari kreativitas seorang Azzahra. Semua berawal dari hal sederhana ini, ketika usianya baru lima tahun, Azzahra yang akrab disapa Zahra suka sekali mencoret-coret dinding rumah dengan spidol warna-warni.
“Sejak kecil dia memang suka menggambar di mana saja. Dinding rumah, lantai, bahkan meja. Dulu sempat dianggap nakal, tapi ternyata itu ekspresi jujur seorang anak,” tutur sang ibu dengan senyum bangga ketika mengenang masa-masa awal Azzahra menunjukkan kreativitasnya.
Sejak saat itu, Zahra mulai diberi kebebasan untuk menyalurkan imajinasinya ke media yang lebih “aman”. Sang ibu kemudian membelikan kanvas kecil, cat air, dan kuas murah dari toko buku. “Awalnya cuma main warna, enggak jelas gambarnya apa. Tapi lama-lama kok mulai ada bentuknya, matahari, awan, bunga, kucing,” cerita ibunya sambil tersenyum.
Dalam waktu kurang dari setahun, Azzahra telah menelurkan puluhan karya lewat beragam media, mulai dari cat akrilik, spidol, hingga cat air. Bagi Azzahra, melukis bukan sekadar bermain warna; setiap goresannya menyimpan cerita, emosi, dan cara uniknya memandang dunia. Di balik tiap lukisan kecilnya, ada ekspresi besar yang lahir dari imajinasi tanpa batas seorang anak.
Bakat luar biasa Azzahra ini pun tampak bersinar lewat pameran tunggal perdananya yang bertajuk “Dunia Azzahra”. Pameran ini digelar di Galeri Merah Putih, Balai Pemuda Surabaya pada Sabtu (26/7) hingga Rabu (31/7) lalu. Acara ini terbuka untuk umum dan dapat dinikmati secara gratis sehingga siapa saja yang ingin melihat bagaimana imajinasi seorang anak bisa menjelma menjadi dunia penuh warna dan cerita bisa datang.
Kurator pameran sekaligus pembina Sanggar Daun, Arik S. Wartono bahkan menyebut bahwa karya-karya Azzahra memiliki kekuatan ekspresif yang jarang ditemui pada anak seusianya.
“Karya Azzahra tidak terjebak dalam pakem teknik yang kaku. Justru dari spontanitas dan kejujurannya, muncul energi visual yang otentik,” ujar Arik, Jumat (25/7/2025).
Salah satu karya yang menjadi sorotan utama adalah lukisan berjudul “Penyelidikan Kasus Bawah Tanah”, yang juga dipilih sebagai visual utama poster pameran. Dalam lukisan itu, Azzahra menggambarkan tiga peri detektif yang menyelamatkan seekor kucing di dunia bawah tanah, dikelilingi serangga warna-warni.
Komposisi warnanya berani, paduan antara misteri dan keajaiban yang hanya bisa lahir dari cara pandang anak-anak, polos, bebas, dan penuh rasa ingin tahu.
Namun “Dunia Azzahra” bukan sekadar ruang pamer lukisan anak kecil. Lebih dari itu, pameran ini bahkan menjadi panggung bagi cara berpikir yang jujur dan imajinasi yang belum tercemar oleh batasan. Di setiap karya, ada kisah yang tumbuh dari pengalaman sederhana, seperti bermain di halaman, melihat langit senja, atau mendengar cerita sebelum tidur yang kemudian berubah menjadi bentuk visual yang memikat.
Selain karya-karya yang dipamerkan, Azzahra juga telah menorehkan prestasi di kancah internasional. Lukisannya berjudul “Pagi di Sawah”, yang digambar di atas kertas A3 dengan sapuan cat air lembut dan komposisi yang matang, berhasil meraih Gold Artist Award dalam kategori Creative Brilliance di ajang Picasso International Art Contest 2025.
Sebuah capaian luar biasa untuk anak yang bahkan baru menginjak usia taman kanak-kanak ya, HEALMates.
Lebih dari sekadar apresiasi terhadap karya seni, pameran ini juga menjadi ajakan reflektif bagi orang dewasa untuk melihat kembali dunia dari perspektif anak-anak: jujur, penuh imajinasi, dan tanpa rasa takut salah. Dunia Azzahra menunjukkan bahwa seni bukan hanya milik orang dewasa yang paham teori dan teknik, tapi juga milik anak-anak yang berani mengekspresikan perasaan mereka dengan warna-warna paling murni.
Melalui “Dunia Azzahra”, kita tidak hanya melihat karya seni, tapi juga diajak masuk ke dunia batin seorang anak yang belajar memahami kehidupan lewat warna.
Lewat Azzahra Adiva, kita bisa melihat bagaimana anak-anak memiliki kekuatan besar jika diberi ruang dan dukungan yang tepat ya, HEALMates? Imajinasi mereka dapat menjadi modal berharga jika diasah sejak dini. Sangat inspiratif, ya? (RIW)

