Ada satu hal yang hampir kita lakukan di masa kecil, menggambar pemandangan dengan dua gunung, matahari diapit di tengahnya, sawah di bawah, jalan di tengah, kadang ditambah rumah, pohon kelapa, dan dua burung berbentuk huruf āVā di langit. Apakah HEALMates juga pernah mengalaminya?
Lucu ya, HEALMates? Pengalaman ini ternyata banyak dialami oleh kebanyakan anak kecil di Indonesia. Entah dari mana, inspirasi menggambar dengan pola yang sama ini berasal dan hampir semua anak Indonesia seperti punya ātemplateā visual yang sama.
Lucunya, gambar itu muncul sampai ke lintas generasi. Dari zaman pensil 2B sampai era iPad, banyak anak kecil menggambar tema visual ini. Walau medianya berubah, motifnya tetap, dua gunung kembar dan matahari yang sedang terbit di antara keduanya.
Pertanyaannya, kenapa? Apakah ada semacam ākode rahasiaā di otak anak-anak Indonesia yang membuat mereka semua menggambar hal yang sama? Atau jangan-jangan, gunung kembar dan matahari itu adalah bentuk arketipe bawah sadar yang diwariskan turun-temurun? Nah, ini jadi menarik ya, HEALMates. Yuk, kita kupas alasan psikologis di baliknya.
Gunung Kembar Jadi Simbol KeseimbanganĀ
Kalau kita tanya ke anak-anak, āKenapa gunungnya dua?ā sebagian besar akan menjawab polos, āBiar bagus aja.ā Tapi di balik jawaban sederhana itu, ada penjelasan psikologis yang cukup menarik nih, HEALMates.Ā
Menurut psikolog anak, gambar dua gunung yang sama besar sebenarnya menunjukkan kebutuhan anak terhadap keseimbangan dan keteraturan. Rupanya, anak-anak cenderung merasa aman ketika mereka melihat sesuatu yang simetris dan teratur. Dua gunung yang berdampingan ini seakan memberikan rasa stabil dan bagi mereka,Ā
Nah, dalam tahap perkembangan kognitif anak menurut Piaget,Ā anak usia 4ā7 tahun berada pada tahap praoperasional, di mana dunia masih mereka pahami lewat simbol-simbol visual yang sederhana. Simetris, garis lurus, dan bentuk berulang seakan menjadi cara bagi anak-anak untuk membuat dunia terasa masuk akal.
Oleh karena itu, dua gunung kembar itu bukan sekadar dua tumpukan tanah besar, tapi jadi simbol bahwa dunia mereka tertata dengan baik. Tidak ada kekacauan, tidak ada ketimpangan, semua seimbang, seperti dua sisi gunung yang sama tinggi.
Matahari di Tengah: Naif tapi Tulus
Matahari di tengah-tengah gunung bukan tanpa makna. Buat anak-anak, itu bukan soal arah mata angin atau geografi. Sederhananya, mereka belum memahami tentang arah terbit dan tenggelam matahari.Ā
Namun menurut psikolog anak, matahari ini menjadi semacam simbol energi positif, kehangatan, dan kehidupan. Anak-anak menempatkannya di tengah karena itu dianggap pusat perhatian dan pusat dari dunia mereka.
Secara psikologis, anak-anak memang hidup di dunia yang berpusat pada diri mereka sendiri (egosentris). Karena itulah, menempatkan matahari di tengah adalah bentuk simbolis dari cara mereka melihat dunia, semua berputar di sekitar hal-hal yang membuat mereka nyaman dan hangat, keluarga, rumah, atau hal-hal yang mereka cintai.
Kalau dipikir-pikir, ini manis sekali. Anak-anak menggambar dunia yang cerah karena mereka percaya, dunia memang seharusnya seperti itu.Ā
Sawah dan Jalan Jadi Representasi Dunia yang Sederhana
Di bagian bawah gambar, biasanya kita melihat sawah hijau berpetak-petak, jalan yang membelah pemandangan, dan mungkin satu atau dua rumah dengan asap keluar dari cerobong. Padahal siapa juga di kampung yang punya cerobong asap? Hehe.
Tapi, pada bagian ini kita bisa melihat bagaimana anak memaknai dunia di sekitarnya dengan sederhana. Kalau gunung dan matahari adalah elemen imajinatif yang jauh, maka sawah dan jalan adalah versi mini dari realitas sehari-hari yang mereka pahami.
Anak-anak cenderung menggambar hal-hal yang mereka lihat setiap hari dan punya makna emosional. Gambar pemandangan semacam ini bisa jadi refleksi lingkungan sekitar anak. Mereka mungkin sering melihat sawah, jalan menuju sekolah, atau gunung dari kejauhan. Jadi, gambar itu seakan merupakan versi ideal dari dunia mereka sendiri.
Burung atau Padi Huruf āVā
Tak lengkap rasanya kalau di langit tidak ada dua burung berbentuk huruf āVā melayang atau padi di sawah dengan huruf yang sama. Meski sederhana, namun simbol ini punya makna yang kuat, lho.
Burung dalam gambar anak-anak sering kali menandakan keinginan untuk bebas dan bahagia. Bentuknya sederhana karena pada usia itu anak belum fokus pada realisme, tapi lebih pada ide dasar. Langit itu luas dan mereka ingin bisa āterbangā di dalamnya.
Burung-burung kecil itu bisa dibilang representasi jiwa anak-anak sendiri, bebas, ringan, tanpa beban. Mereka belum tahu bahwa nanti, di usia dewasa, terbang sering kali berarti jatuh duluan.
Kalau kita pikir lebih jauh, fenomena āgunung kembar dan matahari di tengahā ini hampir bisa disebut arsitektur kolektif imajinasi nasional. Mengapa hampir semua anak menggambar hal yang sama, padahal tidak pernah diajarkan secara eksplisit?
Menurut psikolog perkembangan, hal ini juga berhubungan dengan cultural imprinting. Anak-anak belajar secara tidak langsung dari lingkungan visual mereka, buku pelajaran, dinding kelas, hingga gambar yang dibuat guru di papan tulis. Lama-lama, pola visual itu tertanam di bawah sadar mereka.Ā
Artinya, gambar dua gunung dan matahari bukan cuma hasil imajinasi pribadi, tapi juga hasil warisan visual dari budaya populer pendidikan Indonesia. Seperti lagu Pelangi-Pelangi atau Balonku Ada Lima, tidak pernah kita sadari kapan pertama kali mendengarnya, tapi entah bagaimana, kita semua tahu nadanya.
Kalau mau jujur, mungkin kita semua rindu masa ketika kebahagiaan cukup diwujudkan lewat dua gunung dan matahari tersenyum di tengahnya ya, HEALMates?
Dalam dunia anak-anak, semuanya sederhana, teratur, dan penuh warna. Gunung tak meletus, matahari selalu tersenyum, dan sawah selalu hijau. Tidak ada inflasi, tidak ada algoritma media sosial, tidak ada tagihan listrik. Hanya jalan kecil menuju masa depan yang lurus dan terang. Jadi, kalau suatu hari kamu menemukan gambar pemandangan seperti itu di meja anakmu, ingatlah bahwa itu bukan sekadar corat-coret polos. Itu adalah representasi kecil dari cara mereka memahami dunia: sederhana, hangat, dan penuh harapan. (RIW)

