Lukisan “Stop War” karya Susilo Bambang Yudhoyono dalam pameran Art for Peace and Better Future menjadi simbol suara hati dan seruan perdamaian global, sekaligus wujud peran seni sebagai ruang refleksi, edukasi, dan solidaritas lintas generasi.
Hai-hai, balik lagi bareng Miss Kepo! Kali ini Miss Kepo lagi kepo banget sama satu karya seni yang sedang hangat dibicarakan, nih. Bukan hanya karena siapa pelukisnya, tapi juga karena pesan yang dibawakannya. Yep! lukisan bertajuk “Stop War” karya Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono alias SBY.
Dari judulnya saja, kita sudah bisa melihat bahwa lukisan ini bukan hanya goresan manis untuk pajangan di ruang tamu, ya? Lebih dari itu, lukisan karya SBY ini merupakan salah satu karya yang literally berupaya menyampaikan jeritan penderitaan perang, penderitaan manusia, dan panggilan untuk perdamaian.
Sekilas tentang “Stop War”

“Stop War” merupakan salah satu lukisan SBY yang sangat menarik perhatian. Lukisan ini adalah salah satu dari 31 karya yang dipamerkan dalam gelar pameran monumental bertajuk “Art for Peace and Better Future” di Gelanggang Olahraga Lavani Cikeas, mulai 6 September – 5 Oktober 2025.
Di sana, ada 31 karya dari 21 pelukis, termasuk delapan lukisan SBY. Jadi “Stop War” ini hadir dalam konteks yang lebih besar, ruang edukasi, refleksi, dan seruan perdamaian. For your information ya HEALMates, pameran yang sedang berlangsung ini, merupakan kolaborasi epik dari SBY dan SBY Art Community.
Oh ya, sebenarnya highlight pemerannya bukan cuma lukisan SBY, tapi juga sebuah karya kolaboratif raksasa berjudul “Save Our World” berukuran 2,5 x 7 meter. Karya ini terinspirasi dari lagu ciptaan SBY sendiri yang dirilis beberapa bulan yang lalu. Jadi kebayang nggak sih, SBY bikin lagu, terus diubah jadi lukisan bersama seniman lain, seperti “proyek kemanusiaan” versi seni rupa, ya? Kabarnya, kolaborasi ini melibatkan empat kampus seni papan atas lho, seperti Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB, ISI Yogyakarta, ISI Surakarta, dan IKJ.
Plus ada empat pelukis profesional independen. Jadi bukan sekadar “SBY show off”, tapi ruang dialog visual lintas generasi, lintas institusi, dan lintas perspektif. Kurator Suwarno Wisetrotomo bahkan nyebut pameran ini sebagai “ruang dialog visual yang menghubungkan nilai kemanusiaan, ekologi, dan inspirasi lintas generasi.”
Keren kan? Jadi karya seperti “Stop War” ini nggak cuma dilihat sebagai lukisan, tapi juga pintu diskusi lebih luas tentang kemanusiaan.
Makna Mendalam di Balik Kanvas
Begitu melihat lukisan “Stop War”, Miss Kepo langsung seperti merasakan energi kuat yang keluar dari kanvasnya. Ada latar puing-puing kota yang hancur, semburat merah seperti darah yang tumpah, plus ada tulisan besar “STOP WAR”. Selain itu, SBY juga menyelipkan kutipan tegas,
“It is irresponsible and even immoral to allow the countless deaths of the innocent and extreme human suffering to continue, without any serious effort to stop it.”
Lukisan ini seakan mampu memberikan tamparan realita bagi yang melihatnya, “Kalau kita diem aja, berarti kita ikut andil membiarkan penderitaan itu terus terjadi”.
Menurut Miss Kepo, “Stop War” ini juga mampu menghadirkan vibes personalnya. Kita semua tahu bahwa SBY adalah mantan presiden, jenderal, bahkan musisi. Karenanya, goresan yang ada di atas kanvasnya seakan menunjukkan bahwa ia telah melihat banyak hal dalam hidupnya, perang, konflik, diplomasi, hingga kerinduan pada perdamaian.
“Stop War” bisa jadi suara hati yang dituangkannya ke atas kanvas. Merahnya darah, abu-abu puing, dan bendera biru bertuliskan United for Peace membuat kita sadar bahwa meski dunia kelam, harapan itu masih ada.
Sebab, dalam psikologi warna, biru menandakan ketenangan, harapan, dan perdamaian. Kontras biru dengan merah yang berdarah-darah adalah penegasan bahwa meski ada kehancuran, selalu ada harapan untuk perdamaian.
Sementara itu, menurut teori komposisi warna Goethe dan Itten, kontras merah dan biru menghadirkan ketegangan visual, merah yang mengguncang emosi dan biru yang menenangkan. Kontras inilah yang seakan menegaskan pesan “perang versus damai”.
Adapun background yang memperlihatkan kehancuran kota bernuansa abu-abu, membawa kita ke realitas perang. Secara visual, bentuk ini mengikuti prinsip realism-impression, yaitu menampilkan potongan realita yang sudah terdistorsi oleh ekspresi seniman.
Kalau Miss Kepo kaitkan dengan pandangan Theodor Adorno bahwa seni bisa menjadi medium kritik terhadap ketidakadilan sosial, lukisan “Stop War” bukan hanya karya estetika, tapi juga pernyataan politik dan moral dari seorang SBY.
Jadi kesimpulannya, lukisan “Stop War” karya SBY ini bukan cuma karya visual, ya HEALMates. Sebaliknya, ia seakan tengah menyampaikan sebuah pesan politik, seruan moral, dan doa kemanusiaan melalui bahasa seni.
Dan buat Miss Kepo pribadi, ini reminder bahwa di tengah dunia yang penuh konflik, kita butuh lebih banyak ruang dialog, lebih banyak seni yang mengajak berpikir, dan lebih banyak suara yang berani bilang, cukup, hentikan perang!
Seni ternyata bisa jadi cara paling lembut sekaligus paling keras untuk bicara soal perdamaian. Keren ya, HEALMates? (RIW)

