Ada satu kalimat yang sering terdengar sederhana, namun terasa cukup sulit dijalani ya HEALMates, “Terimalah keadaan.” Kalimat ini kerap muncul sebagai nasihat saat seseorang berada di titik lelah, kecewa dengan keadaan, atau tertekan oleh hidup. Sayangnya, bagi banyak orang, menerima sering disalahartikan sebagai menyerah, pasrah tanpa daya, atau berhenti berjuang. Padahal, dalam psikologi, menerima keadaan justru merupakan salah satu keterampilan mental paling penting untuk menjaga kewarasan dan ketenangan batin.
Di balik penerimaan, tersimpan sebuah rahasia yang jarang dibahas secara mendalam, yakni the secret of acceptance. Sebuah kemampuan untuk berdamai dengan realitas tanpa terus-menerus melawan hal-hal yang berada di luar kendali kita.
Ketika Pikiran Terus Melawan Realitas
Stres sering kali tidak hanya datang dari masalah itu sendiri, tetapi dari perlawanan kita terhadap kenyataan. Kita stres bukan hanya karena kehilangan, kegagalan, atau situasi yang tidak sesuai harapan, melainkan karena pikiran kita berkata, “Ini seharusnya tidak terjadi,” atau “Harusnya aku tidak berada di kondisi ini.”
Dalam psikologi, kondisi ini dikenal sebagai cognitive resistance, sebuah penolakan dalam diri kita terhadap kenyataan. Tubuh kita hidup di masa kini, tetapi pikiran kita sibuk melawan fakta. Akibatnya, sistem saraf terus berada dalam mode siaga yang membuat kinerja organ terus-terusan tegang. Pada akhirnya, pikiran kita pun sulit untuk beristirahat.
Nah, dalam konteks ini, konsep menerima keadaan bukan berarti menghapus hal-hal yang tidak kita kehendaki yang terjadi pada kita, namun mengelola reaksi dalam diri kita terhadap hal kenyataan yang ada.
Apa Itu The Secret of Acceptance?
The secret of acceptance adalah pemahaman bahwa ketenangan tidak datang dari mengubah semua keadaan agar sesuai keinginan kita, HEALMates. Lebih dari itu, ini tentang kemampuan kita untuk menerima apa yang tidak bisa kita ubah. Namun, tentu saja sambil tetap bertanggung jawab pada hal-hal yang masih bisa kita kendalikan.
Dilansir dari jurnal psikologi modern, dalam konteks Acceptance and Commitment Therapy (ACT), penerimaan ini justru dipandang sebagai fondasi kesehatan mental, lho HEALMates. ACT mengajarkan bahwa penderitaan manusia sering kali muncul bukan karena emosi negatif, tetapi karena usaha berlebihan untuk menghindarinya.
Semakin kita menolak rasa takut, sedih, marah, atau kecewa, semakin kuat pula emosi itu mencengkeram kita. Sebaliknya, ketika kita memberi ruang pada perasaan tersebut, tanpa menghakimi, tanpa menekan, dan tanpa mendiktenya, emosi kita justru lebih cepat mereda.
Menerima Membantu Mengelola Stres
Salah satu mitos terbesar tentang penerimaan adalah anggapan bahwa menerima berarti berhenti berusaha. Padahal, penerimaan justru memberi pijakan yang realistis untuk bergerak maju.
Sebagai contoh, seseorang yang terus menyangkal kenyataan bahwa ia sedang kelelahan mental. Ia akan memaksa diri tetap produktif, tetap kuat, tetap “baik-baik saja”. Alih-alih pulih, stresnya justru semakin menumpuk dan berujung pada kelelahan emosional.
Lalu, bagaimana acceptance membantu mengelola stres? Dengan menerima keadaan, kita mungkin akan lebih bisa mendapatkan ketenangan karena tidak memaksakan sesuatu yang di luar kendali kita. Berikut beberapa manfaat utamanya:
- Mengurangi Beban Mental
Saat kita berhenti melawan kenyataan, energi mental yang sebelumnya habis untuk menyangkal dan mengeluh bisa dialihkan untuk merawat diri dan mencari solusi. Pikiran menjadi lebih ringan karena tidak lagi sibuk dengan “Seandainya” dan “Kenapa aku begini?”.
- Menenangkan Sistem Saraf
Penerimaan membantu tubuh keluar dari mode fight or flight. Ketika kita menerima keadaan, tubuh seperti mendapat sinyal bahwa situasi ini bukan ancaman yang harus dilawan meski rasanya tidak nyaman.
- Membantu Regulasi Emosi
Alih-alih meledak atau memendam, penerimaan justru bisa membuat kita mampu mengamati emosi dengan jarak yang sehat. Kita bisa berkata, “Aku sedang marah,” tanpa harus bertindak berdasarkan amarah tersebut.
- Meningkatkan Ketahanan Psikologis
Orang yang mampu menerima keadaan cenderung lebih resilien. Artinya, mereka tidak kebal dari masalah, tetapi lebih cepat bangkit karena tidak terjebak dalam penolakan berkepanjangan.
- Mencegah Stres Kronis
Stres yang terus dipelihara oleh penolakan bisa berubah menjadi stres kronis, yang berdampak pada kesehatan fisik dan mental. Acceptance menjadi rem alami yang mencegah stres berkembang terlalu jauh.
Menerima keadaan juga berkaitan erat dengan self-compassion, sebuah bentuk belas kasih pada diri sendiri. Alih-alih menghakimi diri karena merasa kurang atau tidak sesuai ekspektasi, penerimaan justru bisa mengajarkan kita untuk bersikap manusiawi pada diri sendiri. Sebab, kadang yang paling kita butuhkan hanyalah mengakui apa adanya, tanpa drama batin yang berlebihan.
Pada akhirnya, ketenangan batin tidak selalu muncul ketika hidup menjadi lebih mudah atau ketika kita mendapatkan semua yang kita inginkan. Sering kali, ketenangan hadir justru ketika kita berhenti berperang dengan hidup.
The secret of acceptance mengajarkan bahwa menerima bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk kedewasaan emosional. Ia bukan akhir dari perjuangan, melainkan awal dari hubungan yang lebih sehat dengan diri sendiri dan kenyataan. Apapun yang sedang terjadi pada HEALMates, semoga kamu bisa melewatinya dan menerimanya sebagai bagian dari fase hidup yang harus dijalani. Tetap semangat ya, HEALMates!

