Ikhlas sering terdengar sederhana, tapi ketika dijalani, ternyata nggak sesederhana itu ya, HEALMates. Banyak orang bisa berbuat baik, tapi nggak semua bisa melakukannya tanpa berharap balasan. Sebab, banyak dari kita yang terbiasa ingin diapresiasi, dipuji, dianggap baik, atau setidaknya diingat jasanya. Di situlah ikhlas jadi ujian batin yang paling halus, karena yang diuji bukan tindakan, tapi niat.
Dalam Islam, ikhlas bukan soal terlihat tulus di mata manusia, tapi soal lurusnya niat di hadapan Allah SWT. Ikhlas berarti melakukan sesuatu bukan karena ingin pengakuan, bukan karena tekanan sosial, dan bukan karena ingin validasi, tapi semata karena Allah SWT. Karena itulah, ikhlas jadi punya kekuatan besar, bukan sekadar soal spiritual, tapi juga secara emosional dan mental.
Ikhlas dalam Islam
HEALMates, Islam menempatkan niat sebagai inti dari setiap amalan kita. Ini sesuai dengan hadits Rasulullah SAW:
“Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Artinya, setiap perbuatan yang sama bisa bernilai berbeda tergantung niat di baliknya ya, HEALMates.
Dalam Al-Qur’an, Allah juga menegaskan bahwa ibadah dan amal manusia seharusnya diarahkan hanya kepada-Nya. Salah satunya dalam QS. Al-Bayyinah: 5:
وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِۗ ٥
“Mereka tidak diperintah, kecuali untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya lagi hanif (istikamah), melaksanakan salat, dan menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus (benar).”
Ikhlas dalam Islam bukan berarti pasrah tanpa usaha, tapi memurnikan tujuan. Kita tetap bekerja, berbuat baik, membantu orang lain, tapi juga tidak menggantungkan makna hidup pada penilaian manusia. Dari sinilah, kita bisa memahami bahwa ikhlas bukan sekadar konsep spiritual, tapi cara hidup yang membebaskan hati dari beban ekspektasi.
Manfaat Ikhlas dalam Kehidupan
Salah satu manfaat paling terasa dari ikhlas adalah ketenangan batin. Orang yang ikhlas tidak mudah kecewa karena tidak bergantung pada respon orang lain. Ia tidak terlalu terluka oleh penolakan, tidak terlalu hancur oleh ketidakadilan, dan tidak terlalu haus pengakuan.
Secara psikologis, ikhlas membuat seseorang lebih stabil secara emosi. Hati tidak penuh dengan perhitungan, tidak sibuk membandingkan diri, dan tidak terus-menerus menagih balasan dari manusia. Karenanya, orang yang hatinya ikhlas, hidupnya jadi lebih ringan sebab tidak semua hal harus dipikirkan sebagai “timbal balik”.
Menurut Imam Al-Ghazali, ikhlas merupakan salah satu bentuk penyucian hati dari penyakit batin seperti riya’, ujub, dan cinta dunia berlebihan. Ketika hati bersih dari dorongan pamer dan pengakuan, maka seseorang akan lebih mudah merasakan ketenangan dan keikhlasan hidup.
Ikhlas sebagai Bentuk Penjagaan Hati
Banyak orang salah paham mengenai ikhlas ya, HEALMates. Tak sedikit yang mengira bahwa ikhlas itu berarti terus mengalah, terus menerima, dan terus memendam ketidaknyamanan. Padahal, ikhlas ini bukan tentang menghapus batas diri kita, lho. Ikhlas adalah soal niat, bukan soal pasrah dan membiarkan diri disakiti.
Jadi, sejatinya ikhlas ini tetap bisa berjalan bersama sikap tegas untuk menjaga harga diri dan melindungi batas personal ya, HEALMates. Jangan sampai salah kaprah. Kita bisa ikhlas memaafkan, tapi tetap berhak menjaga jarak manakala dirasa interaksi sudah tidak mendatangkan kebaikan. Kita juga perlu ikhlas menerima takdir, tapi tidak lantas pasrah tidak melakukan upaya apa-apa. Justru, kita tetap harus berjuang memperbaiki keadaan. Islam tidak mengajarkan ikhlas sebagai bentuk ketertindasan, tapi sebagai bentuk kemerdekaan batin.
Pada akhirnya, ikhlas bukan tentang menjadi manusia tanpa rasa, tapi menjadi manusia yang tidak dikendalikan oleh rasa dan ekspektasi orang lain. Dengan ikhlas, sejatinya kita sedang membebaskan hati dari ketergantungan pada manusia, dan mengikatnya hanya kepada Allah SWT. Keikhlasan bisa jadi kunci untuk hidup damai, baik di dunia maupun di akhirat. Coba sekarang tanyakan pada dirimu sendiri HEALMates, “Sudahkah hatimu ikhlas hari ini?” (RIW)

