Memiliki persoalan inner child yang belum sembuh sering kali membuat emosional kita naik dan turun. Kalau akhir-akhir ini kamu sering ngerasa emosimu gampang goyah tanpa alasan yang jelas, bisa jadi ada perasaan lama yang belum sempat kamu dengarkan, HEALMates.
Bagi sebagian orang, cara menyembuhkan inner child ini nggak melulu harus lewat terapi. Ada juga cara sederhana yang banyak dianjurkan psikolog untuk mengobati luka masa kecil. Salah satunya yakni lewat journaling atau menulis jurnal harian. Di zaman yang serba canggih seperti sekarang, tersedia banyak aplikasi jurnal yang bisa kamu manfaatkan untuk meregulasi emosi, mengurai stres, dan memeluk kembali inner child yang selama ini terabaikan.
Secara umum, beberapa manfaat journaling app untuk menyembuhkan inner child antara lain sebagai berikut:
1. Membantu Mengurai Rasa Sakit
Menulis tentang pengalaman emosional, bukan sekadar catatan kegiatan lho, HEALMates. Ternyata, menulis berbagai hal yang dialami ini bisa punya efek terapeutik yang kuat. Menurut James W. Pennebaker dalam riset ekspresif-writing yang dilakukannya, menuangkan pengalaman stres atau trauma ke tulisan bisa membantu kita memperbaiki kondisi psikologis. Analoginya, menulis bisa jadi alat bantu untuk menguraikan emosi dan memetakan perasaan agar mengurangi cemas dan kepanikan.
2. Membantu Meluapkan Perasaan
Ada kalanya kita merasa “nggak baik-baik saja”, tapi sulit menjelaskan apa sebenarnya yang sedang dirasakan. Mau marah tapi bingung ke siapa, mau sedih tapi nggak tahu kenapa. Di momen seperti ini, journaling bisa jadi tempat paling aman untuk jujur pada diri sendiri. Lewat journaling, kamu bebas menumpahkan emosi tanpa takut dihakimi. Kamu bisa menuliskannya dalam bentuk cerita, poin-poin acak, coretan, bahkan gambar. Nggak perlu rapi atau masuk akal. Justru dari situ, kamu mulai belajar mengenali emosi yang muncul, baik yang menyenangkan maupun yang berat seperti kecewa, marah, atau sedih.
Menariknya, journaling juga melatih kita untuk berhenti menyangkal perasaan sendiri. Nggak perlu sok kuat atau berpura-pura baik-baik saja. Semua emosi valid untuk ditulis dan dirasakan.
3. Membantu Mengelola Emosi dengan Lebih Sadar
Ketika kamu terbiasa menulis tentang apa yang dirasakan, secara tidak langsung kamu sedang belajar memberi “nama” pada emosi-emosimu. Dari sini, kesadaran emosional pun mulai terbentuk.
Journaling membuatmu lebih peka terhadap pola emosimu sendiri, kapan emosimu berubah, situasi apa yang sering memicu stres, atau orang seperti apa yang membuat perasaanmu terganggu. Dengan memahami pemicunya, kamu jadi punya kendali lebih besar untuk menentukan respon, bukan sekadar bereaksi spontan. Alih-alih emosi meledak tanpa arah, journaling membantumu mengambil jeda dan berpikir lebih jernih sebelum bertindak.
4. Membuka Jalan untuk Mengenali Diri
Merasa hampa, kehilangan semangat, atau bingung dengan arah hidup bukanlah hal yang aneh. Bisa jadi, itu pertanda kamu sedang terputus dari diri kamu sendiri. Nah, journaling bisa menjadi jembatan kamu untuk kembali terkoneksi dengan diri sendiri. Lewat tulisan-tulisan yang kamu buat, perlahan kamu akan menemukan hal-hal yang selama ini tersembunyi, seperti apa yang membuatmu bersemangat, apa yang menguras energi, apa yang sebenarnya kamu inginkan, dan apa yang selama ini kamu hindari. Journaling membantu kamu memahami siapa dirimu, bukan versi yang dituntut orang lain, tapi versi yang paling jujur.
5. Meredakan Stres dan Kecemasan
Saat kepala terasa penuh dan pikiran berisik, menuliskannya bisa terasa seperti menarik beban keluar dari dalam diri. Journaling memberi ruang untuk “mengeluarkan” kekhawatiran yang terus berputar di kepala.
Bagi banyak orang, aktivitas ini membantu pikiran menjadi lebih tenang dan emosi terasa lebih stabil. Dengan menuangkan keresahan lewat tulisan, kamu memberi kesempatan pada diri sendiri untuk bernapas dan melihat masalah dari sudut pandang yang lebih lapang. Meski bukan solusi instan, journaling bisa menjadi ritual kecil yang menenangkan, seperti cara lembut untuk menurunkan stres dan menjaga kesehatan mental.
Tips Journaling untuk Menyembuhkan Inner Child
Supaya journaling lewat aplikasi benar-benar memberi dampak ke kesehatan mentalmu, cara melakukannya juga perlu disesuaikan. Nggak sekadar nulis asal, tapi bisa dibuat jadi rutinitas yang mindful dan relevan dengan kebutuhan emosionalmu.
Berikut beberapa tips yang bisa kamu coba agar journaling app bekerja lebih optimal, HEALMates:
- Manfaatkan Fitur yang Paling Nyaman
Journaling app nggak melulu soal mengetik panjang, lho. Kamu bisa pakai voice note kalau capek menulis, memilih mood tracker, menambahkan emoji, stiker, atau bahkan coretan visual. Pilih format yang bikin kamu merasa aman dan bebas berekspresi.
- Tentukan Waktu Khusus dan Aktifkan Pengingat
Salah satu kelebihan journaling app adalah reminder otomatis. Kamu bisa menjadwalkan journaling singkat di pagi hari untuk cek kondisi emosi, atau malam hari sebagai ritual menutup hari. Nggak perlu lama, yang penting konsisten.
- Tulis Apa Adanya tanpa Sensor Diri
Saat membuka aplikasi jurnal, lepaskan dulu keinginan untuk terlihat “baik” atau “sempurna”. Kamu nggak sedang menulis untuk dibaca orang lain. Abaikan tata bahasa, typo, atau alur cerita. Fokus saja pada apa yang kamu rasakan saat itu.
- Manfaatkan Fitur Gratitude Journaling
Banyak aplikasi menyediakan kolom khusus untuk rasa syukur. Kamu bisa mulai dengan menyebutkan dua atau tiga hal sederhana yang patut diapresiasi hari ini. Cara ini membantu menyeimbangkan emosi, terutama saat pikiran sedang dipenuhi hal-hal berat.
- Ubah Cara Pandang terhadap Journaling
Jangan menuntut jurnal sebagai solusi instan atas semua masalah hidup kita ya, HEALMates. Anggap journaling app ini hanya sebagai ruang refleksi, tempat untuk mengenal diri, memahami emosi, dan menyadari pola yang berulang dalam hidupmu.
- Jadikan Journaling sebagai Bagian dari Self-care Harian
Semakin sering kamu melakukannya, semakin terasa manfaatnya dalam membantu kamu lebih terhubung dengan diri sendiri dan inner child-mu.
Nah, itulah beberapa manfaat journaling app yang bisa kamu lakukan untuk menyembuhkan inner child. Meski begitu, penting juga untuk jujur pada diri sendiri ya, HEALMates. Jika setelah rutin journaling kamu tetap merasa tertekan, cemas berlebihan, atau emosi terasa makin sulit dikendalikan, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional. Sebab, journaling hanyalah alat bantu, bukan pengganti dukungan dari psikolog atau tenaga kesehatan mental. (RIW)

