Logo Heal

EAT, TRAVEL & ENTERTAINMENT

Eat, Travel & Entertaiment

Kisah Na Daehoon: Peduli ke Anak di Tengah Gempuran Isu Fatherless

Kisah Na Daehoon: Peduli ke Anak di Tengah Gempuran Isu Fatherless

Oleh :

Pernah nggak sih kamu tiba-tiba tersenyum saat melihat video seorang ayah bermain dengan anak-anaknya di media sosial? Ada kehangatan yang nggak bisa dijelaskan.Mungkin kamu akan berandai-andai, “Andai semua anak bisa punya sosok ayah seperti itu.” Nah, figur ayah yang baik belakangan disematkan pada Na Daehoon. Ia adalah kreator konten asal Korea Selatan yang sudah lama menetap di Indonesia. Lewat konten keluarga yang sederhana dan jujur, Daehoon mengingatkan kita akan satu hal penting yang mulai langka di dunia serba cepat ini: Tak lain tentang kehadiran ayah.

Na Daehoon dan Hangatnya Kehadiran

Na Daehoon pertama kali dikenal lewat video-videonya yang ringan dan jenaka tentang budaya Korea-Indonesia, makanan, serta kehidupan keluarga. Tapi di balik candaan khasnya, publik pelan-pelan melihat sisi lain: ayah yang lembut, sabar, dan terlibat penuh dalam pengasuhan tiga anaknya.

Saat rumah tangganya tengah ramai diperbincangkan publik, Daehoon justru menunjukkan konsistensi untuk tetap hadir untuk anak-anaknya. Dalam salah satu unggahan viral di Instagram, ia menulis bahwa dirinya ingin memastikan anak-anaknya tetap merasa aman dan dicintai, apapun yang terjadi di luar sana. Tak heran, disitulah daya tarik Daehoon. Sosok ayah yang memang belum sempurna, tapi ayah yang berusaha tetap hadir, meski badai kehidupan menerpa. Banyak netizen yang mengaku tersentuh, bahkan menjadikannya panutan dalam memperbaiki hubungan dengan anak.

Kehadiran Daehoon di tengah isu fatherless membuat banyak orang tergerak. Lewat setiap kontennya, ia menunjukkan bahwa menjadi ayah bukan hanya tentang mencari nafkah, tapi tentang menemani, mendengar, dan memahami. Ia terlibat penuh dalam keseharian anak di tengah kesibukannya mencari nafkah. Dalam wawancaranya di kanal YouTube pribadinya, Daehoon juga pernah berbagi bahwa masa kecilnya penuh tantangan. Ia tumbuh tanpa di keluarga broken home, dan itulah yang membuatnya agar anak-anaknya tidak kekuranagn kasih sayang, setidaknya dari ayahnya. 

Apa Itu Fatherless?

Istilah fatherless sering muncul di media sosial, tapi tidak semua orang benar-benar paham maknanya. Fatherless bukan berarti tidak punya ayah secara fisik. Banyak anak yang sebenarnya memiliki ayah di rumah, tapi tumbuh tanpa kehadiran emosional dan keterlibatan nyata dari figur tersebut. Contohnya, ayah yang selalu sibuk bekerja, jarang berbicara dengan anak, atau hadir secara fisik tapi hatinya jauh. Menurut peneliti keluarga, fatherless menggambarkan kondisi di mana peran ayah hilang dalam kehidupan sehari-hari baik secara fisik, emosional, maupun spiritual. Dampaknya bisa berupa anak yang lebih rentan mengalami kesulitan dalam regulasi emosi, relasi sosial, bahkan konsep diri.

Psikolog anak dan keluarga, Seto Mulyadi, pernah menegaskan bahwa ketiadaan peran ayah bisa membuat anak kehilangan arah dalam pembentukan karakter dan kepercayaan diri. Jadi, sebagai seorang ayah harus bisa hadir untuk mebantu perkembangan psikologis anak.

Data Fatherless di Indonesia dan Dunia

Fenomena ini ternyata tidak cuma terjadi di luar negeri. Data dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menunjukkan bahwa sekitar 20–25% anak Indonesia tumbuh tanpa kehadiran ayah yang aktif. Artinya, dari setiap 10 anak, ada dua hingga tiga yang tumbuh tanpa sosok ayah yang benar-benar hadir dalam keseharian mereka.

Menariknya, menurut laporan The State of the World’s Fathers (2023) yang dirilis oleh Promundo Global, hanya sekitar 18% ayah di dunia yang menghabiskan waktu minimal satu jam per hari untuk benar-benar bermain atau berinteraksi dengan anak-anak mereka. Sisanya, sebagian besar terjebak dalam pola kerja panjang, norma budaya patriarkal, dan beban ekonomi yang membuat mereka absen dari kehidupan anak.

Di Amerika Serikat, data dari U.S. Census Bureau (2022) mencatat sekitar 18,4 juta anak atau 1 dari 4 anak hidup tanpa ayah di rumah. Di Indonesia, angka perceraian yang meningkat tiap tahun juga berkontribusi terhadap tren ini. Berdasarkan data Mahkamah Agung 2023, tercatat lebih dari 500 ribu kasus perceraian, dengan sebagian besar hak asuh jatuh kepada ibu. Akibatnya, banyak anak yang kehilangan keterlibatan ayah dalam tumbuh kembangnya.

Kita bisa bayangkan, ketika sebagian besar anak di dunia tumbuh tanpa peran ayah yang aktif, maka kehilangan ini bisa dianggap isu sosial yang memengaruhi generasi masa depan.

 

Mengapa Kehadiran Ayah Begitu Penting?

Ayah sering dipandang hanya sebagai “penopang ekonomi”, padahal fungsinya jauh lebih luas. Menurut psikolog perkembangan, kehadiran ayah membantu anak membangun rasa aman, mengembangkan empati, dan memahami batas-batas sosial dengan sehat.

Ketika ayah hadir, entah lewat bermain, bercerita, atau sekadar mendengarkan. Bersama ayah anak akan belajar tentang cinta, tanggung jawab, dan cara memperlakukan orang lain. Jadi kalau kamu berpikir, “Aku cuma main 15 menit sama anak,” percayalah 15 menit itu bisa jadi memori yang akan diingat anak seumur hidup.

Sekarang coba pikirkan, kapan terakhir kali kamu melihat seorang ayah bermain sepenuh hati dengan anaknya? Atau kalau kamu sendiri adalah ayah, kapan terakhir kali kamu menatap mata anakmu dan bertanya, “Kamu bahagia hari ini?”

Kisah Daehoon mengingatkan kita bahwa anak-anak tidak butuh kesempurnaan, mereka hanya butuh kehadiran yang hangat. Dan untuk kamu yang tumbuh tanpa sosok ayah, kisah ini juga bisa jadi pengingat bahwa luka bisa sembuh, dan cinta bisa tumbuh dari siapa saja yang mau hadir tulus dalam hidupmu.

Na Daehoon bukan hanya figur publik yang pandai membuat konten keluarga manis. Ia adalah simbol dari ayah masa kini: lembut tapi tegas, sibuk tapi tetap ada, terluka tapi terus belajar. Dalam dunia yang semakin ramai oleh isu fatherless, Daehoon hadir membawa pesan sederhana bahwa anak-anak hanya butuh tahu bahwa ayah mereka akan selalu ada.

HEALMates, bagaimana menurutmu? Apakah kamu juga punya figur ayah yang menginspirasi, atau justru sedang belajar menjadi sosok itu sendiri? 

Bagikan :
Kisah Na Daehoon: Peduli ke Anak di Tengah Gempuran Isu Fatherless

More Like This

Logo Heal

Kamu dapat menghubungi HEAL disini:

Heal Icon

0858-9125-3018

Heal Icon

00 31 (0) 6 45 29 29 12

Heal Icon

heal@sahabatjiwa.com

Copyright © 2023 HEAL X  Sahabat Jiwa