Di usia sembilan tahun, sebagian besar anak mungkin masih sibuk dengan PR Matematika, rebutan remote TV, atau menangis karena kalah main Mobile Legends. Tapi, Ryu Kintaro beda. Bocah asal Indonesia ini sudah punya penghasilan miliaran rupiah.
Namun, tak bisa dinafikan ya HEALMates, Ryu bukanlah anak yang lahir dari keluarga biasa. Ia adalah anak dari Christopher Sebastian, pebisnis sukses sekaligus CEO Makko Group, sebuah perusahaan otomotif yang berkembang pesat dengan sederet lini bisnisnya, mulai dari kaca film, detailing mobil, spa keluarga, hingga kuliner dan minuman kekinian.
Dengan latar keluarga seperti itu, tentu banyak orang tergoda untuk menyepelekan pencapaiannya, “Ah, wajar aja sukses, kan anak orang kaya.” Eits, tapi tunggu dulu HEALMates. Kalau kita berhenti di situ, kita justru akan gagal melihat hal paling paling penting dari kisahnya, yakni bagaimana seorang anak kecil belajar bertanggung jawab atas privilege yang ia miliki dan mengubahnya jadi prestasi nyata.
Tidak Semua Orang Paham Cara Mengelola Privillage
Kata privilege sering punya citra negatif, seolah sesuatu yang “harus dihapus” supaya adil. Padahal, privilege itu seperti bahan bakar, bisa jadi api yang berguna, atau justru membakar, tergantung siapa yang memegang korek.
Bisa dibilang, Ryu memegang korek itu dengan cara yang tidak biasa untuk anak seusianya. Dibanding sekadar menikmati kemudahan hidupnya sebagai anak orang kaya, main gadget terbaru, liburan mewah, atau duduk manis menunggu warisan, ia justru memilih jalan yang menantang, berkarya dan membangun bisnis sendiri.
Bayangkan, di usia ketika sebagian besar anak masih bingung membedakan debit dan kredit, Ryu sudah bisa berbicara tentang branding, strategi konten, dan bahkan value proposition. Ia membangun brand pribadi, membuat produk, dan memanfaatkan platform digital untuk memperkenalkan karyanya ke publik.
Apakah ia melakukannya sendirian? Tentu saja tidak. Tapi di sinilah letak hebatnya, Ryu Kintaro, tidak menyangkal dukungan yang ia miliki dan ia mengelolanya dengan baik.
Perjalanan Ryu Kintaro di Dunia Digital
Ryu Kintaro mulai mengenal dunia digital sejak usianya baru lima tahun. Dengan modal sederhana, kamera ponsel milik orang tuanya, ia merekam beragam aktivitas keseharian. Mulai dari tantangan lucu hingga kisah kecil yang lahir dari imajinasinya sendiri. Semua video itu ia unggah ke kanal YouTube pribadinya, yang kini dikenal dengan nama “Ryu Kintaro”.
Berbekal kepercayaan diri di depan kamera dan kemampuannya berbicara dalam tiga bahasa, Indonesia, Inggris, dan Mandarin, Ryu pun berhasil menarik perhatian banyak penonton. Tak butuh waktu lama, kanalnya tumbuh pesat hingga menembus lebih dari 1,11 juta subscriber.
“Dari kecil aku memang suka bikin video dan bercerita tentang hal-hal yang aku lakukan. Dari situ aku mulai serius bikin konten YouTube,” kata Ryu dengan nada polos tapi mantap saat diwawancarai di salah satu media.
Yang menarik lagi adalah ternyata setiap pendapatan yang diperoleh dari AdSense kanal YouTube-nya justru tidak dihabiskan untuk membeli mainan atau gadget baru. Lebih dari itu, Ryu tabung untuk membuka sebuah usaha hingga akhirnya lahirlah bisnis yang cukup tak biasa untuk anak seusianya, sebuah kafe jamu dengan merek “Tjap Nyonya Kaya”.
For your information HEALMates, kafe jamu ini bukan debut bisnis pertamanya. Sebelumnya, ia sudah lebih dulu mencoba peruntungan lewat usaha susu dan nasi box. Kini, bocah sembilan tahun ini tengah bersiap meluncurkan lini bisnis ketiganya. Ini seakan jadi bukti bahwa Ryu memang memiliki kecerdasan luar biasa untuk mengelola privilege-nya dan terus berkreasi dalam bisnis.
Pentingnya Dukungan Orang Tua
Kemampuan mengarahkan dan membersamai anak untuk berkembang adalah salah satu kunci utama keberhasilan seorang Ryu Kintaro. Kalau kita bicara psikologisnya, pola asuh orang tua Ryu berhasil membentuk kepercayaan diri anak hingga ia merasa mandiri dan siap berkreasi.
“Modalnya sih dari sendiri, tapi kalau ide itu bareng-bareng (sama orang tua).” jelas Ryu saat menceritakan proses awal mula bisnis jamunya.
Dalam kasus Ryu dan bisnisnya, kita bisa melihat bagaimana dukungan orang tua sangat berpengaruh pada pemahaman anak tentang nilai-nilai kehidupan, seperti tanggung jawab, kerja keras, dan pentingnya menghargai proses.
Hal yang jarang dibicarakan adalah bagaimana privilege juga bisa menjadi tekanan psikologis bagi anak. Ekspektasi tinggi, sorotan publik, dan stigma “anak bos” bisa menimbulkan stres. Tapi karena orang tua Ryu membangun komunikasi yang terbuka, hal itu justru menjadi ruang tumbuh dan bukan beban.
Ada perbedaan besar antara “dikasih kesempatan” dan “dikasih hasil”. Ryu tidak tiba-tiba jadi miliarder karena dikasih uang modal, tapi karena ia mau belajar dari kesempatan yang diberikan.
Ia belajar dari ayahnya bagaimana mengelola brand, memahami konsumen, dan memanfaatkan media sosial bukan sekadar untuk hiburan, tapi sebagai wadah ekspresi dan bisnis. Ia belajar tentang tanggung jawab, bagaimana menghadapi kritik publik, dan bagaimana bekerja dengan orang dewasa tanpa kehilangan jati dirinya sebagai anak kecil.
Itu bukan hal yang mudah. Di usia sembilan tahun, banyak anak mungkin bahkan belum tahu rasanya dikritik oleh netizen. Tapi, Ryu menghadapinya dengan kepala tegak. Bukan karena dia kebal, tapi karena dari kecil sudah terbiasa diajak berdialog, bukan dilindungi secara berlebihan sebagai anak orang kaya.
Lalu, apa yang bisa kita pelajari dari kisah inspiratif seorang Ryu Kintaro ini HEALMates? Ryu mungkin tidak bisa mewakili semua anak Indonesia. Tapi kisahnya bisa jadi refleksi bagi banyak orang tua dan anak muda hari ini bahwa bukan latar belakang yang menentukan arah hidup kita melainkan kesadaran akan bagaimana kita menggunakan apa yang kita punya. (RIW)

