Hidup hari ini dipenuhi dengan banyak tuntutan ya, HEALMates. Tuntutan datang dari segala arah, mulai dari pekerjaan, keluarga, ekspektasi sosial, sampai tekanan untuk selalu terlihat “baik-baik saja”. Di tengah ritme yang serba cepat dan bising itu, rasa cemas sering menyelinap tanpa permisi. Hati gelisah, pikiran berlarian ke mana-mana, dan tubuh ikut lelah.
Di momen seperti inilah, ibadah seharusnya menjadi kesempatan untuk pulang. Tapi kenyataannya, tidak sedikit dari kita yang menjalankan ibadah sekadar sebagai rutinitas. Gerakan selesai, bacaan terucap, dan serba buru-buru. Padahal, ibadah bukan sekadar aktivitas ya, HEALMates. Lebih dari itu, ibadah adalah kesempatan kita untuk berkomunikasi dengan sang Maha Pencipta, Allah SWT.
Ibadah yang Khusyuk Bisa Jadi Jalan Ketenangan
Khusyuk disebut-sebut sebagai kunci ibadah yang bermakna, tapi sebenarnya apa sih khusyuk itu? Secara sederhana, khusyuk adalah kondisi ketika hati, pikiran, dan tubuh hadir sepenuhnya saat beribadah. Kita sadar bahwa kita sedang shalat, tahu apa yang dibaca, dan paham kepada siapa kita sedang menghadap. Bukan sekadar gerakan yang selesai, tapi ada rasa tunduk dan fokus kepada Allah SWT.
Dalam Islam, shalat memang diperintahkan sebagai sarana untuk mengingat Allah. Bukan hanya saat hidup terasa berat, tapi juga ketika sedang lapang. Masalahnya, banyak dari kita yang shalat sambil setengah hadir. Mulut membaca bacaan, tapi pikiran melayang ke pekerjaan, urusan rumah, atau daftar masalah yang belum selesai. Inilah yang disebut shalat tanpa kehadiran hati, secara fisik hadir, tapi batin tertinggal di tempat lain.
Padahal, khusyuk itulah yang memberi ruh pada shalat kita, HEALMates. Saat kita benar-benar hadir, shalat menjadi ruang aman untuk menurunkan beban, menenangkan pikiran, dan mengingat bahwa kita tidak sendirian menghadapi hidup. Khusyuk bukan soal sempurna atau tidak pernah terdistraksi, tapi soal berusaha kembali fokus setiap kali pikiran melenceng.
Imam Al-Ghazali mengajarkan bahwa shalat yang khusyuk akan berdampak pada kehidupan sehari-hari. Ia bisa jadi jalan untuk membersihkan hati, menumbuhkan kesadaran, dan perlahan membentuk sikap yang lebih tenang dan bijak. Inilah mengapa shalat yang benar-benar dihayati tidak hanya berdampak secara spiritual, tapi juga membantu kita hidup dengan lebih tertata dan damai.
Ketika ibadah dijalani dengan khusyuk, ada ruang yang tercipta di dalam diri kita. Ruang untuk bernapas lebih pelan. Ruang untuk melepaskan beban yang selama ini kita genggam sendirian. Fokus yang tertuju kepada Allah perlahan menyingkirkan hiruk-pikuk pikiran, dan di sanalah ketenangan mulai terasa, bukan karena masalah hilang, tetapi karena hati tidak lagi sendirian menghadapinya.
Di dunia yang penuh kesibukan dan ketidakpastian, khusyuk menjadikan ibadah lebih dari sekadar kewajiban. Ia berubah menjadi momen jeda. Momen untuk kembali, menata ulang batin, dan mengingat bahwa hidup tidak sepenuhnya harus kita kendalikan sendiri. Melalui khusyuk, ibadah menjadi jalan untuk mendekat kepada Allah sekaligus merawat kesehatan jiwa.
Coba cek lagi HEALMates, sudahkah kita khusyuk dalam beribadah selama ini? (RIW)

