Halo, para pembaca setia! Kali ini Miss Kepo lagi-lagi kepo sama dunia seni rupa, dan tebak siapa yang jadi bahan obrolan seru kita kali ini? Yep! Yos Suprapto, seniman asal Yogyakarta yang belakangan sempat dibatalkan pemerannya di Galeri Nasional. Karya-karya yang semula siap dipajang dan dipamerkan justru harus dilarang tayang karena dianggap terlalu kontroversial.
Bayangin deh, sebuah kanvas bisa bikin sejumlah pihak gelisah sampai nggak boleh dipamerkan. Menarik, kan? Nah, Miss Kepo sempat intip dua karya beliau yang bertajuk “Niscaya” dan “Makan Malam”. Dan percayalah, lukisan-lukisan ini bukan sekadar pamer skill menggambar tubuh atau warna. Ada “rahasia” yang lebih dalam, semacam bisikan keras dari rakyat kecil yang sudah lama serak suaranya. Yuk, kita kupas satu per satu ala Miss Kepo!
“Niscaya”: Rakyat yang Menyuapi Penguasa

Lukisan pertama yang menarik perhatian Miss Kepo adalah “Niscaya”. Menurut sejumlah pemberitaan, lukisan “Niscaya” karya Yos Suprapto adalah salah satu karya yang dikabarkan diminta diturunkan pada pameran “Kebangkitan: Tanah untuk Kedaulatan Pangan” di Galeri Nasional Indonesia pada 19 Desember 2024.
Di lukisan “Niscaya” ini, kita bisa melihat sosok lelaki desa, bertelanjang dada, berkulit cokelat legam, dan mengenakan caping yang sedang menyuapi seorang pria berdasi merah yang terkulai lemah. Sekilas, komposisinya sederhana, yakni rakyat memberi, penguasa menerima. Tapi kalau diperhatikan lebih lama, ada ironi pahit di sana.
Si rakyat dengan sabar memberi makan, sementara si berdasi hanya membuka mulut lebar-lebar. Nggak ada usaha, nggak ada terima kasih, hanya pasif menikmati. Dan oh, ada sebakul nasi di sisi kanvas, ini bisa jadi simbol paling klasik dari pangan dan kehidupan. Artinya jelas, rakyatlah sumber kehidupan bangsa ini, tapi penguasa? Ya tinggal disuapi aja.
Sebagai penonton, Miss Kepo langsung merasa lukisan ini seperti tamparan visual. Kritik sosialnya blak-blakan, namun dibalut dengan estetika yang murni. Warna merah pekat di latar semakin menambah aura panas, mungkin ini semacam simbol darah atau mungkin simbol amarah. Intinya, rakyat terus memberi, sementara penguasa terbuai dalam kenyamanan.
“Makan Malam”: Saat Rakyat Berbagi Rezeki dengan Hewan

Lukisan kedua yang menarik perhatian Miss Kepo adalah “Makan Malam”. Dalam lukisan ini, HEALMates bisa melihat gambar lelaki bercaping yang duduk jongkok di tepi sungai sedang memberi makan beberapa anjing dengan tenang. Warna-warna neon di tubuh anjing, biru gelap air, dan bayangan gedung-gedung di latar belakang membuat suasana terasa surealis.
Apa maknanya? Menurut Miss Kepo, bisa jadi Yos ingin menunjukkan bahwa kadang rakyat kecil lebih tulus berbagi ke hewan yang dianggap rendah daripada ke “manusia-manusia rakus” yang duduk di kursi kekuasaan. Atau makna lain juga mungkin berupa sindiran bahwa rakyat kini dibiarkan hidup “seperti anjing”, hanya diberi sisa makanan, sementara gedung-gedung megah (simbol kapitalisme dan modernitas) berdiri gagah di kejauhan.
Yang bikin Miss Kepo makin kepo adalah wajah si lelaki bercaping itu tetap tenang, bahkan tersenyum samar. Ada rasa ikhlas, ada rasa nrimo, meski kondisi sekitarnya jelas timpang. Lagi-lagi, ini semacam potret rakyat kecil yang selalu memberi, selalu pasrah, meski realitasnya pahit.
Dari Seni ke Kritik Sosial
Nah, sekarang kita geser sedikit dari cat minyak ke realitas. Kenapa karya seperti ini bisa bikin heboh sampai-sampai dilarang dipamerkan? Jawaban paling simpelnya adalah karena seni yang jujur itu memang menohok dan membuat resah.
Yos Suprapto tidak sedang melukis bunga cantik atau pemandangan menenangkan. Sebaliknya, Ia tengah melukis realitas sosial, ketimpangan, ironi, dan relasi timpang antara rakyat dan penguasa. Seni yang seperti ini jadi “cermin kotor” bagi pihak-pihak yang lebih suka melihat wajahnya di kaca Instagram dengan filter beauty.
Lukisan Yos terasa seperti suara rakyat di jalanan, tapi dalam bentuk visual. Ia bukan teriak lewat megafon, tapi lewat warna merah menyala, tubuh cokelat legam, dan gesture sederhana seperti menyuapi atau memberi makan. Namun, justru karena kesederhanaannya itulah, pesan yang disampaikan menjadi kian telak.
Catatan Kepoan Miss Kepo
Kalau boleh jujur, Miss Kepo pribadi suka banget sama karya-karya yang “berani ngomong”. Karena seringkali, rakyat kecil nggak punya ruang untuk bicara. Suara mereka teredam oleh jargon politik, oleh angka statistik, atau oleh berita yang digoreng media. Tapi seni? Seni selalu punya cara untuk menyusup, bikin resah, tapi sekaligus bisa bikin kita merenung.
“Niscaya” dan “Makan Malam” bukan sekadar lukisan. Mereka adalah cerita tentang kegetiran orang-orang kecil yang selalu dipaksa memberi makan mereka yang katanya berkuasa. Dan ya, kalau sebuah lukisan bisa bikin pihak tertentu panik sampai dilarang tampil, justru artinya lukisan itu sukses besar. Bukankah fungsi kritik memang untuk bikin gelisah?
Sebagai Miss Kepo, aku jadi makin yakin bahwa lukisan bukan sekadar urusan estetika. Seni adalah suara yang kadang terdengar lirih, kadang keras, dan kadang juga bisa bikin telinga penguasa panas. Tapi, justru karena itulah seni menjadi penting.
Lewat “Niscaya” dan “Makan Malam”, Yos Suprapto menunjukkan bahwa rakyat kecil masih punya suara, meski harus disampaikan lewat caping, warna neon, dan gestur sederhana. Sebagai penonton, tugas kita bukan cuma “wah, keren ya”, tapi juga bertanya, siapa yang sebenarnya sedang menyuapi siapa dalam kehidupan nyata kita? (RIW)

