Jerawat merupakan masalah kulit yang sangat mengganggu ya, HEALMates? Ada banyak faktor yang menjadi penyebab jerawat. Lantas, apakah stres bisa menyebabkan jerawat? Sebab, tak jarang kita justru sering jerawatan ketika sedang banyak pikiran.
Nah, untuk menjawab rasa penasaran HEALMates, yuk kita ulas selengkapnya dalam artikel berikut ini!
Apa Itu Stres?
Sebelum kita membahas keterkaitan antara stres dan jerawat, kita perlu memahami lebih dulu apa itu stres. Stres adalah respons alami tubuh saat menghadapi tekanan, baik fisik maupun emosional. Saat stres, tubuh mengaktifkan sistem fight or flight dan melepaskan hormon stres, terutama kortisol.
Kortisol ini sebenarnya berguna untuk membantu tubuh bertahan dalam situasi darurat. Namun, jika stres berlangsung lama, kadar kortisol yang terus tinggi yang justru bisa memicu berbagai masalah, termasuk masalah kulit.
Hubungan Stres dan Jerawat
Secara medis, jerawat (acne vulgaris) terjadi ketika pori-pori tersumbat oleh minyak (sebum), sel kulit mati, dan bakteri. Dilansir dari laman tanya jawab Alodokter, stres memang memiliki peran dalam munculnya jerawat, meskipun tidak menjadi penyebab utama secara langsung.
Mengapa demikian? Jadi, ketika seseorang mengalami stres, kelenjar adrenal akan lebih aktif dan merangsang kelenjar minyak di kulit untuk memproduksi sebum dalam jumlah lebih banyak. Produksi minyak berlebih ini dapat menciptakan lingkungan yang ideal bagi pertumbuhan bakteri di kulit, sehingga jerawat pun lebih mudah terbentuk.
Selain itu, stres juga dapat mengganggu proses distribusi nutrisi ke kulit. Akibatnya, jerawat yang sudah muncul menjadi lebih sulit sembuh dan cenderung bertahan lebih lama. Jadi, jika perasaan jatuh cinta justru membuat Anda merasa cemas dan tertekan, kondisi tersebut memang bisa berpengaruh pada timbulnya jerawat. Sebaliknya, bila jatuh cinta membuat Anda lebih rileks dan bahagia, jerawat bisa saja berkurang.
Stres kronis bisa membuat tubuh berada dalam kondisi inflamasi tingkat rendah secara terus-menerus. Padahal, jerawat sendiri adalah kondisi peradangan. Saat tubuh sudah “siap meradang”, jerawat jadi lebih mudah muncul dan lebih sulit sembuh. Itulah kenapa jerawat akibat stres sering terasa lebih nyeri, merah, dan lama hilangnya.
Dalam kondisi stres, kemampuan kulit untuk mempertahankan kelembapan dan melindungi diri juga bisa menurun. Skin barrier yang melemah membuat kulit lebih rentan terhadap iritasi, bakteri, dan peradangan, sebuah kombinasi yang sempurna untuk jerawat.
Apakah Mengatasi Stres Bisa Membantu Mengurangi Jerawat?
Jawabannya: iya, bisa banget HEALMates. Mengelola stres tidak langsung menghilangkan jerawat dalam semalam, tapi bisa membantu mengurangi frekuensi, keparahan, dan lamanya jerawat muncul.
Untuk membantu mengelola stres, kamu bisa mencoba beberapa langkah sederhana seperti menarik napas dalam, rutin melakukan aktivitas fisik ringan, misalnya yoga atau jogging pagi, serta memastikan waktu tidur yang cukup. Kebiasaan ini dapat membantu menurunkan tingkat stres dan menjaga fungsi kelenjar adrenal tetap seimbang.
Selain itu, sebaiknya batasi konsumsi kafein, termasuk kopi, teh, soda, dan cokelat, serta kurangi asupan gula. Tetap lakukan perawatan kulit secara rutin, namun hindari mencuci wajah terlalu sering karena justru dapat membuat kulit menjadi kering dan memicu iritasi.
Apabila jerawat semakin banyak, meradang, atau sulit dikendalikan dengan perawatan mandiri, disarankan untuk berkonsultasi langsung dengan dokter spesialis kulit agar mendapatkan penanganan yang sesuai ya, HEALMates. (RIW))


