Logo Heal

MENTAL HEALTH

Mental Health

Kenapa Kita Jadi People Pleaser? Ini Penjelasan Psikologisnya

Kenapa Kita Jadi People Pleaser? Ini Penjelasan Psikologisnya

Oleh :

Merasa capek sendiri karena terlalu sering bilang “iya”, padahal hati kecilmu ingin nolak? Nggak enakan dan khawatir mengecewakan orang lain? Atau ingin selalu menyenangkan orang lain? Kalau HEALMates merasakan hal ini, maka kamu mungkin adalah seorang people pleaser, senang menyenangkan orang lain dengan mengorbankan diri sendiri.

Rupanya, perilaku ini nggak muncul begitu saja lho, HEALMates. Banyak psikolog yang percaya bahwa akar sikap people pleasing ini sering kali tertanam jauh di masa kecil, tepatnya pada luka inner child yang belum sembuh.

Lalu, apa itu people pleaser? Kenapa kita jadi people pleaser? Yuk HEALMates, kita bahas lebih lengkap dalam artikel berikut ini!

Apa Itu People Pleaser?

Istilah people pleaser belakangan sering digunakan untuk menggambarkan orang yang sulit menolak permintaan orang lain. Tapi, apakah maknanya benar-benar sesederhana itu? Ternyata, makna people pleaser jauh lebih dalam menurut aspek psikologis. 

Dilansir dari laman ugm.ac.id, Smita Dinakaramani, S.Psi., M.Psi., psikolog dari Universitas Gadjah Mada menjelaskan bahwa people pleaser sejatinya merupakan sebutan informal bagi seseorang yang memiliki dorongan kuat untuk menyenangkan orang lain. Ada perbedaan mendasar antara seorang people pleaser dan orang yang sekadar suka membantu, yakni terletak pada motif di balik perilaku tersebut. 

Menurut Smita, seorang people pleaser cenderung menolong demi menyenangkan orang lain, bahkan ketika hal itu merugikan dirinya sendiri. Sementara itu, orang yang membantu secara sehat mampu mengenali batas kemampuannya, kapan bisa menolong dan kapan perlu menolak.

Jadi, seorang people pleaser ini cenderung menempatkan kepentingan dan perasaan orang lain di atas kebutuhan dirinya sendiri. Bahkan ketika hal tersebut bisa berdampak negatif bagi dirinya, seorang people pleaser sering kali menganggapnya bukan masalah.

Tak jarang, people pleaser juga membiarkan dirinya dimanfaatkan oleh orang lain. Mereka cenderung mudah meminta maaf, dipenuhi rasa bersalah, dan takut dianggap bersalah. Ketika mencoba menolak atau menetapkan batasan, perasaan bersalah yang muncul bisa terasa sangat intens. Tak hanya itu, people pleaser juga umumnya takut berkonflik. Bagi mereka, konflik sering dipersepsikan sebagai sesuatu yang mengancam relasi dan people pleaser berusaha menyamakan pendapatnya dengan orang lain demi menjaga keharmonisan. Jadi, kalau mereka punya pendapat yang berbeda, mereka justru merasa cemas dan khawatir akan penolakan.

Pada dasarnya, kecenderungan ini sebenarnya bisa dialami siapa saja. Sebab, keinginan untuk diterima dan disukai merupakan kebutuhan dasar manusia. Namun, terdapat berbagai faktor yang dapat mendorong seseorang menjadi people pleaser. Salah satunya adalah rendahnya kepercayaan diri. Ketika merasa diri tidak cukup berharga dibandingkan orang lain, individu dengan self-esteem rendah cenderung menganggap pendapat dan perasaannya sendiri tidak sepenting milik orang lain. Nah, dalam kondisi ini, mengatakan “iya” bisa memberi rasa berguna, sementara mengatakan “tidak” justru memunculkan perasaan takut.

Itulah kenapa, seorang people pleaser cenderung selalu berusaha memenuhi kebutuhan, harapan, atau keinginan orang lain, bahkan ketika hal itu membuat dirinya tidak nyaman. Mereka sulit berkata “tidak”,  sangat sensitif terhadap penilaian orang lain, merasa bersalah jika menolak, dan lebih memikirkan perasaan orang lain dibanding dirinya sendiri.

Sekilas, sikap ini terlihat “baik”. Tapi dalam jangka panjang, people pleasing justru bisa membuat seseorang kelelahan secara emosional, kehilangan batasan diri, dan merasa tidak pernah cukup.

Kenapa Kita Jadi People Pleaser?

Bagi people pleaser, berkata “tidak” bukan sekadar soal menolak permintaan. Di alam bawah sadar, kata “tidak” sering terasa seperti ancaman kehilangan relasi. Menurut  John Bradshaw, psikolog klinis dan penulis Homecoming: Reclaiming and Healing Your Inner Child, inner child yang terluka akan terus “mencari keselamatan” lewat persetujuan dan validasi orang lain. Maka tak heran jika, people pleaser ini merasa bahwa menolak seperti sebuah kejahatan besar, mengungkap pendapat berbeda bisa memicu kecemasan, atau menetapkan batasan membuat hati tidak tenang.

Banyak luka emosional anak justru muncul dari pola asuh yang tampak “normal”. Anak-anak sering kali belajar menekan kebutuhan dan emosinya sendiri demi mempertahankan cinta orang tua. Misalnya, anak hanya dipuji saat berprestasi, anak diminta selalu patuh dan tidak membantah, emosi anak dianggap berlebihan.

Inner child yang tumbuh dalam kondisi seperti ini akan membawa rasa takut yang sama ke usia dewasa, takut ditolak, takut ditinggalkan, dan takut tidak dicintai jika bersikap apa adanya.

Banyak orang mengira people pleasing adalah bentuk empati atau sikap baik. Padahal, empati yang sehat tetap memiliki batas. People pleasing justru sering lahir dari rasa takut, bukan dari keinginan tulus. Jika tidak segera diatasi, people pleasing bisa membuat kita sering memendam marah dan kecewa, kehilangan arah hidup karena selalu mengikuti orang lain, merasa kosong meski dikelilingi banyak orang, bahkan terjebak dalam hubungan yang tidak seimbang. Tanpa disadari, kebutuhan diri sendiri terus dikesampingkan demi menjaga kenyamanan orang lain.

Apakah People Pleaser Bisa Berubah?

Jawabannya tentu bisa, tapi butuh proses. Berikut beberapa tips yang bisa dicoba untuk mulai keluar dari pola people pleasing.

1. Bangun Mindset untuk Menjaga Diri Sendiri

Hal penting yang pertama harus dilakukan adalah menanamkan pemahaman bahwa menjaga diri bukanlah tindakan egois. Kebahagiaan orang lain bukan tanggung jawab utama kita, dan tidak seharusnya menjadi beban yang harus selalu dipikul. Mengutamakan kebutuhan diri sendiri justru menjadi fondasi penting untuk kesehatan mental.

2. Terima Kenyataan Nggak Semua Orang Harus Menyukaimu

Upaya untuk selalu disukai semua orang adalah sesuatu yang mustahil ya, HEALMates. Bahkan dengan orang terdekat sekalipun, selalu ada perbedaan dan hal-hal yang tidak sepenuhnya disukai. Karena itulah, dengan memahami hal ini kita akan berhenti memaksakan diri untuk terus-menerus berusaha disukai semua orang.

3. Tetapkan Batasan saat Menolong Orang Lain

Menolong adalah hal baik, tetapi tetap perlu disesuaikan dengan kapasitas diri. Kenali sejauh mana kemampuan dan energi yang bisa diberikan, sehingga bantuan yang kita tawarkan tidak justru merugikan diri kita sendiri.

4. Ubah Cara Pandang terhadap Konflik

Perbedaan pendapat dan konflik tidak selalu berdampak negatif. Dengan komunikasi yang sehat dan terbuka, konflik justru dapat memperkuat hubungan serta membantu kedua pihak saling memahami sudut pandang masing-masing.

5. Jangan Langsung Mengiyakan setiap Permintaan

Biasakan memberi jeda sebelum menyetujui permintaan orang lain. Kamu bisa mempertimbangkan seberapa penting permintaan tersebut dan apakah kamu benar-benar bisa memberi bantuan.

6. Latih Diri untuk Berkata “Tidak”

Pahami bahwa menolak sesuatu yang tidak sesuai dengan kebutuhan atau perasaan tak lantas menjadikan kita pribadi yang buruk. Penolakan bisa disampaikan dengan jujur dan sopan, misalnya dengan menyampaikan keberatan terlebih dahulu lalu menawarkan alternatif yang lebih memungkinkan.

Itulah penjelasan mengenai apa itu people pleaser dan kenapa kita jadi people pleaser yang bisa kamu jadikan referensi, HEALMates. Semoga bermanfaat ya! (RIW)

Bagikan :
Kenapa Kita Jadi People Pleaser? Ini Penjelasan Psikologisnya

More Like This

Logo Heal

Kamu dapat menghubungi HEAL disini:

Heal Icon

0858-9125-3018

Heal Icon

00 31 (0) 6 45 29 29 12

Heal Icon

heal@sahabatjiwa.com

Copyright © 2023 HEAL X  Sahabat Jiwa