Kalau kamu merasa timeline lagi penuh bahasan “pelakor”, “gaslighting”, atau “trust issue”, itu bukan ilusi ya, HEALMates. Beberapa tahun terakhir, tontonan bertema perselingkuhan memang ramai dibahas, bahkan laku keras di pasaran. Dari layar streaming sampai bioskop, cerita tentang retaknya komitmen, badai rumah tangga, hingga “apakah cinta cukup?” konsisten memancing atensi dan emosi penonton.
Contoh paling gampangnya yakni Ipar Adalah Maut (2024). Di tengah gempuran horor box office, film drama ini meroket hingga menembus 4,7 juta penonton dan resmi masuk 10 besar film Indonesia terlaris sepanjang masa. Angka tersebut dikonfirmasi media arus utama dan dirinci lagi oleh rumah produksi. Ibarat kata ini bisa jadi sebuah anomali menyenangkan untuk genre drama rumah tangga, ya.
Di ranah serial, fenomena “Layangan Putus” juga sempat mendominasi percakapan publik. Selain viral karena kisah yang dianggap “terlalu dekat” dengan realita, serial ini juga berhasil memecahkan rekor 15 juta views dalam satu hari di WeTV. Wow! Betapa minat audiens terhadap konflik perselingkuhan yang digarap emosional sangat besar.
Tentu saja nggak cuma dua judul film itu yang sukses ya, HEALMates. Ada juga Sehidup Semati (2024), Suami yang Lain (2024), Selesai (2021), Norma (2025), hingga La Tahzan (2025) yang membuktikan bahwa topik ini terus berputar dalam siklus rilis, kadang bernada thriller, kadang melodrama, kadang penuh perdebatan.
Alasan Kenapa Film Bertema Perselingkuhan Banyak Diminati
Ada beberapa alasan kenapa film bertema perselingkuhan ini banyak diminati oleh penonton Indonesia.
1) Cerita dekat dengan Realita Sehari-hari
Konflik utama yang disajikan seolah dekat dengan realita sehari-hari. Mulai dari kejenuhan, komunikasi yang macet, persoalan ekonomi, dan lain-lain seakan sebuah “luka” yang pernah dirasakan banyak pasangan. Jadi, ketika sebuah film memotret luka itu tanpa topeng, penonton pun seperti melihat diri sendiri.
Fenomena Layangan Putus misalnya, kisahnya yang sangat menyentuh membuat banyak orang “ter-trigger” karena skenarionya sangat mungkin terjadi. Pasangan mapan, hadirnya orang ketiga, gaslighting, hingga runtuhnya kepercayaan. Tak heran serialnya jadi bahan obrolan lintas platform, dari timeline sampai kantor.
2) Dialog Quotable, Meme-able, dan Shareable
Nggak dipungkiri ya HEALMates, kekuatan tontonan hari ini bukan cuma di layar, tapi juga meluber ke media sosial. Dialog yang quotable seperti “It’s my dream, not hers”, adegan “ketahuan”, atau potongan konfrontasi seolah jadi “bahan bakar” yang sempurna untuk meme, stitch, dan thread panjang. Konten semacam ini memperpanjang umur promosi organik, bikin orang FOMO, hingga akhirnya mendorong view atau penjualan tiket berikutnya.
3) Katarsis dan Moral Compass
Menjadi saksi dari karakter yang diselingkuhi seakan memantik reaksi visceral, mulai dari marah, sedih, muak, sekaligus lega saat kebenaran terungkap. Banyak penonton datang untuk merasakan katarsis, semacam “simulasi aman” mengurai emosi yang rumit.
Di sisi lain, cerita sering menawarkan kompas moral, nilai kejujuran, batas sehat, hingga konsekuensi dari pengkhianatan. Sehidup Semati misalnya, memadukan isu kekerasan dalam rumah tangga dan dugaan perselingkuhan, sehingga penonton tak hanya “geregetan” tapi juga diajak refleksi soal relasi yang toksik.
4) Bahan Obrolan Warung Sayur sampai Kajian Akademik
Topik perselingkuhan bukan sekadar gosip, tapi juga bisa jadi objek riset media dan budaya populer. Ada artikel akademik yang membedah representasi perselingkuhan dalam Layangan Putus, ada juga emak-emak yang dengan greget ngobrolin perselingkuhan di warung sayur. Topik ini sangat masuk ke dalam berbagai kalangan sehingga mudah untuk diterima penonton kala diangkat ke layar lebar.
5) Isu Gender dan Relasi Kuasa yang Memantik Perdebatan
Beberapa judul memang memantik debat karena dianggap bias gender atau “menormalkan” perilaku tertentu. Pro-kontra ini bisa dibilang menambah bahan bakar viralitas. Selesai (2021) misalnya, film ini sempat menuai kritik karena dianggap merendahkan perempuan. Di ruang publik, perdebatan ini memperluas audiens, bahkan yang mungkin tidak berniat nonton akhirnya jadi nonton karena ingin “menilai sendiri”.
Nah, itulah beberapa alasan kenapa film bertema perselingkuhan laris manis di Indonesia. Rasanya, selama media sosial masih menjadi “ruang sidang” publik dan penonton masih mencari katarsis-instannya, drama perselingkuhan akan terus punya pasar, deh. Namun, untuk bertahan dan naik kelas, tentunya harus tetap memiliki karakter yang kuat, nuansa moral yang tidak hitam-putih, dan kepekaan gender. Sebab, penonton hari ini makin cerdas, mereka tak hanya mencari “pelaku vs korban”, tapi juga konteks, seperti beban ekonomi, trauma masa kecil, pola komunikasi, hingga budaya yang membungkam.
Cheers, HEALMates!
Semoga hati tetap waras, pikiran tetap jernih, dan hubungan selalu baik dengan orang lain maupun diri sendiri, selalu sehat dan penuh batas yang sehat, ya. (RIW)

