Dalam dua dekade terakhir, perkembangan media sosial telah merevolusi cara manusia berinteraksi, berkomunikasi, dan membentuk identitas diri. Sebut saja platform seperti Instagram, Twitter (kini X), Facebook, TikTok, hingga YouTube kini bukan lagi sekadar ruang untuk berbagi informasi. Lebih dari itu, media sosial telah menjelma menjadi bagian tidak terpisahkan integral dari kehidupan sehari-hari.
HEALMates tentu tahu bahwa pada mulanya media sosial muncul hanya sebagai sarana untuk menghubungkan orang-orang, berbagi pengalaman, dan menyebarkan informasi dengan cepat. Sederhananya, media sosial ini dikembangkan sebagai wadah konektivitas pengguna dari berbagai belahan dunia.
Namun seiring berjalannya waktu, platform media sosial justru mengalami perkembangan pesat. Dengan algoritma canggih yang menyesuaikan konten berdasarkan preferensi pengguna, banyak orang semakin intens dalam berselancar di dunia maya ini. Orang bahkan bisa berlama-lama scroll Instagram, TikTok, atau bahkan menonton video di YouTube. Kemudahan akses, kecepatan penyebaran informasi, dan sensasi “terhubung” dengan dunia membuat media sosial seolah menjadi kebutuhan.
Namun, seperti pisau bermata dua, media sosial juga menyimpan dampak signifikan terhadap kesehatan mental kita, lho. Apalagi, jika kita tidak bijak dalam menggunakannya. Oleh karena itu, artikel ini akan mengajak HEALMates untuk membicarakan lebih lanjut mengenai dampak media sosial terhadap kesehatan mental yang harus kita pahami dan bagaimana tips bijak dalam menggunakannya.
Perkembangan Media Sosial dari Waktu ke Waktu
HEALMates, mari kita telusuri bagaimana perkembangan media sosial dalam 20 tahun terakhir. Semula, Facebook muncul pada 2004 dan menjadi pembuka jalan bagi jaringan sosial digital. Kemudian, pada 2010, Instagram mulai memperkenalkan budaya visual di mana konten yang dihadirkan adalah foto dan video. Tak berhenti sampai di situ, TikTok pada 2016 kemudian mulai menggeser preferensi pengguna media sosial dari sekedar konten visual menjadi konten video singkat. Kehadiran TikTok sekaligus mengubah cara orang mengonsumsi hiburan, mempersingkat atensi, dan menormalisasi tren viral.
Kini, hampir setiap individu memiliki lebih dari satu akun media sosial. Menurut data GoodStats, rata-rata waktu yang dihabiskan di media sosial mencapai 3-4 jam per hari, bahkan lebih pada kalangan remaja. Di balik akses informasi dan hiburan, tersimpan dampak signifikan terhadap kesehatan mental.
Jumlah pengguna internet terus melonjak signifikan. Berdasarkan laporan terbaru dari We Are Social, pada tahun 2025 pengguna internet global telah mencapai 5,56 miliar orang dari total populasi dunia yang diperkirakan sekitar 8,2 miliar jiwa.
Indonesia menjadi salah satu negara dengan jumlah pengguna internet terbesar di dunia. Hingga awal 2025, terdapat 221 juta pengguna internet di Indonesia, setara dengan 79,5 persen dari populasi nasional. Angka ini menunjukkan betapa internet sudah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat.
Fenomena menarik muncul ketika melihat data Badan Pusat Statistik (BPS) 2024 terkait penggunaan gawai oleh anak usia dini. Tercatat 39,71 persen anak di Indonesia sudah terbiasa menggunakan telepon seluler, sementara 35,57 persen di antaranya bahkan telah mengakses internet.
Bagaimana Algoritma dan Interaksi di Media Sosial Mempengaruhi Kesehatan Mental?
Di sisi lain, isu kesehatan mental dan ketergantungan digital mulai jadi perhatian. Fenomena doomscrolling pun muncul. Algoritma media sosial menyuguhkan konten yang memicu perbandingan sosial. Algoritma media sosial dirancang untuk menjaga pengguna tetap berada di platform selama mungkin. Sistem ini mempelajari kebiasaan pengguna, lalu menyuguhkan konten yang dianggap relevan dan menarik.
Sayangnya, algoritma ini sering kali menonjolkan konten yang menimbulkan keterlibatan emosional tinggi, seperti gaya hidup mewah, prestasi orang lain, tubuh ideal, kisah dramatis atau kontroversial, dan lain sebagainya.
Akibatnya, pengguna rentan terjebak dalam perbandingan sosial yang tidak sehat. Melihat pencapaian orang lain secara terus-menerus dapat memunculkan perasaan minder, tidak cukup baik, atau bahkan depresi.
Dampak Media Sosial terhadap Kesehatan Mental
Beberapa dampak nyata yang bisa ditimbulkan dari media sosial terhadap kesehatan mental kita antara lain sebagai berikut.
- FOMO (Fear of Missing Out)
HEALMates perlu lebih aware akan dampak yang satu ini, yakni Fear of Missing Out (FOMO). Interaksi di media sosial menciptakan fenomena FOMO, yaitu ketakutan tertinggal dari informasi atau tren terbaru. Tekanan untuk selalu update membuat banyak orang kesulitan melepaskan diri dari layar, bahkan saat sedang bersama keluarga atau beristirahat. FOMO dapat menyebabkan kecemasan, kelelahan mental, dan gangguan tidur karena otak terus terstimulasi oleh notifikasi dan dorongan untuk mengecek ponsel.
- Cyberbullying dan Komentar Negatif
Media sosial membuka ruang untuk berinteraksi secara anonim. Hal ini memudahkan munculnya komentar negatif, hujatan, atau cyberbullying. Korban cyberbullying sering mengalami tekanan psikologis berat, seperti rasa malu, kehilangan kepercayaan diri, hingga trauma jangka panjang.
- Validasi Eksternal dan Ketergantungan pada Likes atau Komentar
Banyak pengguna, terutama remaja dan dewasa muda yang pada akhirnya mengaitkan harga diri dengan jumlah likes atau komentar positif. Ketika unggahan tidak mendapatkan respons sesuai harapan, muncul perasaan gagal, kecewa, atau merasa tidak berharga. Validasi eksternal yang berlebihan membuat kesehatan mental rapuh karena kebahagiaan sangat bergantung pada penilaian orang lain.
- Kecanduan dan Distraksi
Algoritma media sosial memang dirancang untuk membuat kita terus scroll. Hal ini bisa menyebabkan kita sulit fokus, sulit tidur, bahkan mengganggu ritme kerja dan relasi nyata.
- Paparan Konten Negatif
Berita buruk, ujaran kebencian, hoax, atau konten ekstrem bisa mengikis rasa aman, menurunkan empati, dan memicu stres kronis. Ini harus benar-benar kita waspadai.
Kenapa Media Sosial Begitu Kuat Mempengaruhi Psikologis Kita?
Source: Freepik
Menurut Dr. Jacqueline Sperling dari McLean Hospital, media sosial menciptakan umpan balik instan yang membuat pengguna terus kembali karena sensasi yang tidak bisa diprediksi, seperti mesin judi. Media sosial bekerja dengan mekanisme psikologis yang sangat kuat, seperti:
- Dopamin reward system: Setiap notifikasi dan like melepaskan dopamin kecil di otak, zat kimia yang membuat kita merasa senang dan “ingin lagi”.
- Bias ketersediaan: Kita merasa “semua orang” sedang melakukan hal tertentu, padahal yang kita lihat hanyalah segelintir konten dari algoritma.
- Efek spotlight: Kita menganggap orang lain memperhatikan kita sebanyak kita memperhatikan diri sendiri di media sosial, padahal belum tentu.
Sederhananya, media sosial mengubah cara otak memproses realitas, dan ini bisa berdampak baik jika kita sadar, atau buruk jika kita lengah.
Tips Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Gempuran Media Sosial
Dari penjelasan di atas, HEALMates harus mulai bijak dalam menggunakan media sosial. Berikut ini beberapa tips menjaga kesehatan mental di tengah gempuran media sosial yang bisa HEALMates lakukan.
- Batasi Waktu Penggunaan Media Sosial
Salah satu langkah yang bisa HEALMates lakukan adalah membatasi waktu dalam bermedia sosial. Kita tidak seharusnya berselancar di media sosial sepanjang waktu sehingga mengurangi produktivitas kita. Kamu mungkin bisa menggunakan fitur screen time untuk membatasi durasi harian penggunaan media sosial. Tentukan waktu khusus untuk online, misalnya 30 menit di pagi hari dan 30 menit di malam hari.
- Kurasi Konten yang Dikonsumsi
Memilah konten yang dikonsumsi sangat penting agar kesehatan mental kita tetap terjaga. Ikuti akun-akun yang memberikan energi positif, edukatif, dan inspiratif. Jangan ragu untuk unfollow akun yang membuat kamu merasa rendah diri atau tertekan.
- Sadari bahwa Media Sosial adalah “Highlight Reel”
Ingat bahwa kebanyakan orang hanya menampilkan sisi terbaik hidupnya di media sosial. Tidak ada yang benar-benar sempurna, meskipun tampak begitu di media sosial. Dengan begitu, kamu tidak akan terlalu membanding-bandingkan hidupmu dengan apa yang kamu lihat di media sosial.
- Jaga Keseimbangan antara Dunia Online dan Nyata
Luangkan waktu untuk aktivitas offline seperti membaca buku, olahraga, berkumpul dengan teman, atau sekadar berjalan santai di luar rumah.
- Lakukan Detox Digital
Cobalah mengalokasikan waktu untuk libur dari media sosial selama satu hari dalam seminggu. Gunakan waktu tersebut untuk fokus pada diri sendiri dan lingkungan sekitar. Jika merasa cemas, stres, atau tertekan karena media sosial, jangan ragu untuk bercerita pada orang yang dipercaya atau konsultasi dengan profesional kesehatan mental.
Bijak dalam Bersosial Media untuk Kesehatan Mental yang Lebih Baik
HEALMates, kita perlu memahami bahwa media sosial adalah sebuah alat dan bukan musuh. Sebagaimana sebuah alat, media sosial pun memiliki manfaat dan dampak masing-masing. Dampaknya terhadap kesehatan mental tergantung pada cara kita menggunakannya.
Oleh karena itu, dengan kesadaran, pengaturan waktu, dan keberanian untuk menyeleksi konten, kita bisa tetap menikmati manfaat media sosial tanpa mengorbankan kesehatan mental. Jangan biarkan dunia digital mengambil alih kebahagiaan dan ketenangan batin kita. Gunakan media sosial sebagai sarana untuk tumbuh, belajar, dan terhubung secara sehat, bukan sebagai sumber tekanan dan perbandingan tanpa akhir. (RIW)

