Logo Heal

ART, MONEY & TECHNOLOGY

Art, Money & Technology

Kekurangan Finansial vs Ketakutan Emosional, Mana yang Paling Berpengaruh pada Inner Child Kita?

Kekurangan Finansial vs Ketakutan Emosional, Mana yang Paling Berpengaruh pada Inner Child Kita?

Oleh :

Banyak dari kita tumbuh dengan satu narasi seperti “Hidup memang harus susah dulu”. Tak ayal, kekurangan uang dianggap wajar, bahkan sering dimaklumi sebagai bagian dari proses pendewasaan. Beberapa kalimat yang sering kita dengar seperti “Yang penting masih bisa makan”, “nggak apa-apa sederhana”, atau “nanti juga terbiasa”, kalimat ini seakan jadi penghibur yang akrab di telinga saat kita kecil. 

Tapi seiring bertambahnya usia, ada kegelisahan yang muncul dan menetap hingga dewasa. Kita pun jadi bertanya-tanya, kenapa ada orang yang tumbuh dari keluarga pas-pasan, tapi tetap hangat secara emosional? Sementara ada juga yang hidupnya tercukupi secara materi, namun menyimpan luka batin yang dalam?

Jadi, sebenarnya faktor apa yang yang lebih membentuk inner child kita, kekurangan finansial atau ketakutan emosional? Yuk HEALMates, kita ulas penjelasan lengkapnya berikut ini!

Kekurangan Finansial Tidak Selalu Membekas

Tidak bisa dimungkiri, tumbuh dalam keterbatasan ekonomi punya dampak yang nyata, HEALMates. Anak-anak yang besar di lingkungan dengan tekanan finansial sering kali terbiasa menahan keinginan, cepat memahami konsep “tidak bisa”, dan belajar beradaptasi lebih awal. Dalam beberapa kasus, hal ini bahkan membentuk kemandirian dan daya juang yang kuat.

Namun, kekurangan finansial tidak lantas otomatis melukai inner child. Selama kebutuhan emosional anak tetap terpenuhi, inner child kita tentu akan baik-baik saja. Anak yang tahu bahwa ia dicintai, didengarkan, dan divalidasi emosinya cenderung memiliki rasa aman, meski hidupnya sederhana. Ia memang kecewa karena tidak bisa membeli mainan, tapi ia tidak merasa sendirian saat kekecewaan itu datang.

 

Masalahnya adalah persoalan finansial ini sering kali memicu efek domino. Orang-orang yang harus berjuang untuk sekedar makan kerap tak begitu peduli pada perkembangan dan kesehatan mental anak. 

Mengapa demikian? Karena kehidupan mereka sudah cukup rumit dan sulit. Pada akhirnya, reaksi yang muncul pada sebagian orang adalah menuntut anak untuk cepat dewasa dibanding usianya, memaksa anak menekan emosinya, hingga membebani anak dengan tuntutan ekonomi bahwa mereka harus membantu memenuhi kebutuhan keluarga. Di sini, bukan soal uangnya lagi, tapi soal emosi anak yang tidak mendapat ruang.

Ketakutan Emosional Membentuk Pola Hidup Dewasa

Ketakutan emosional adalah sisi psikologis yang tidak kasat mata. Tidak ada angka, tidak ada bukti fisik, tapi dampaknya panjang dan membentuk cara seseorang melihat dunia. Ketakutan ini bisa muncul dari berbagai bentuk, mulai dari takut dimarahi, takut ditinggalkan, takut jadi beban, hingga selalu takut jadi orang yang tidak cukup baik.

Anak yang tumbuh dengan ketakutan emosional ini belajar satu hal penting sejak dini, yakni ia tidak boleh menunjukkan perasaannya. Ia mungkin hidup berkecukupan, punya mainan, fasilitas pendidikan, bahkan liburan. Tapi jika setiap emosi “negatif” dianggap berlebihan, lemah, atau merepotkan, inner child pun akan terluka. Mereka akan tumbuh dengan rasa cemas yang menetap hingga dewasa.

Jadi, dibanding alasan finansial, luka inner child itu tumbuh dari ketakutan emosional. Meski begitu, efek domino dari kekurangan finansial juga bisa jadi membuat seorang anak tumbuh dalam lingkungan yang tidak memberinya ruang secara emosional. 

Dalam banyak keluarga, dua hal ini sering berjalan beriringan. Orang tua yang hidup dalam tekanan ekonomi kronis cenderung mengalami stres, kelelahan, dan kehabisan kapasitas emosional. Hingga tanpa disadari, anak menjadi “penyesuai keadaan”. Di sinilah kita mulai memahami bahwa luka inner child bukan tentang apa yang tidak kita punya, melainkan tentang apa yang tidak pernah kita rasakan saat kecil. (RIW)

Bagikan :
Kekurangan Finansial vs Ketakutan Emosional, Mana yang Paling Berpengaruh pada Inner Child Kita?

More Like This

Logo Heal

Kamu dapat menghubungi HEAL disini:

Heal Icon

0858-9125-3018

Heal Icon

00 31 (0) 6 45 29 29 12

Heal Icon

heal@sahabatjiwa.com

Copyright © 2023 HEAL X  Sahabat Jiwa