Logo Heal

ART, MONEY & TECHNOLOGY

Art, Money & Technology

Judi Online Parasit Ekonomi dan Mental yang Menggerogoti Masyarakat

Judi Online Parasit Ekonomi dan Mental yang Menggerogoti Masyarakat

Oleh :

Fenomena judi online di Indonesia memang bukan lagi isu kecil. Aktivitas judi berbasis digital ini seakan telah menjadi parasit ekonomi sekaligus mental yang diam-diam menggerogoti masyarakat. Tak hanya mengacaukan finansial, judi online juga kerap mengancam kesehatan jiwa karena efek domino yang disebabkannya. 

Dilansir dari laman Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, judi online yang ada di Indonesia telah mencapai kurang lebih Rp900 triliun hingga 2024. Mayoritas pemainnya merupakan kelas menengah ke bawah. 

Pertanyaannya, kenapa orang begitu mudah masuk ke lingkaran judi online dan kenapa begitu sulit keluar? Yuk, kita bahas lebih dalam pada artikel berikut ini.  

Judi Online Parasit Ekonomi di Era Digital

Sebagai negara dengan populasi Muslim yang besar, aktivitas judi dan judi online tentunya dilarang di sini. Namun, berdasarkan data yang dihimpun dari Reuters, lebih dari 3 juta warga Indonesia terlibat dalam aktivitas yang nilainya diperkirakan hampir mencapai 1,5% dari produk domestik bruto (PDB) per 2024 lalu. 

Para ekonom mengatakan bahwa meningkatnya popularitas judi di Indonesia, khususnya di kelompok berpenghasilan rendah, dapat merugikan produktivitas jangka panjang dan menjebak orang dalam kemiskinan. Seperti rantai parasit yang sulit terputus. 

Secara sederhana, parasit adalah makhluk hidup yang menempel pada tubuh inangnya untuk mengambil nutrisi tanpa memberi manfaat. Dalam konteks ekonomi, judi online berperan persis seperti itu, mengambil uang, tenaga, bahkan waktu masyarakat, tanpa memberi nilai tambah apa pun.

Di Indonesia, kerugian akibat judi online diperkirakan mencapai ratusan triliun rupiah per tahun. Angka ini bukan hanya sekadar nominal belaka, tapi juga wujud nyata dari uang sekolah anak yang hilang, biaya berobat yang tak jadi dibayar, utang yang terus menumpuk, atau bahkan modal usaha kecil yang lenyap begitu saja.

Yang membuat aktivitas ini lebih berbahaya adalah aksesnya yang sangat mudah dibanding judi konvensional. Bagaimana tidak, cukup lewat smartphone dan satu kali klik saja, kamu sudah bisa bertransaksi. Inilah yang menjadikannya “parasit modern” diam-diam bekerja dan dampaknya sangat mematikan perekonomian.

Orang bisa menghabiskan seluruh harta yang dimiliki untuk judi online. Bahkan, jika mereka sudah tidak punya apa-apa, mereka rela utang sana-sini demi judi online. Akhirnya, yang jadi korban adalah keluarga, istri, bahkan anak-anak. 

Mengapa Judi Online Bikin Orang Kecanduan?

Kalau ekonomi adalah korban pertama, maka mental adalah korban berikutnya, HEALMates. Judi online bukan sekadar soal kehilangan uang, tapi juga menyangkut perang psikologis di dalam otak manusia.

Secara ilmiah, otak manusia punya sistem penghargaan yang bekerja lewat dopamin, hormon kebahagiaan. Setiap kali menang, meski kecil, otak merilis dopamin. Zat ini memberikan perasaan menyenangkan sehingga membuat orang ingin mengulanginya lagi. Masalahnya, pola kemenangan dalam judi online acak atau random reward system. Inilah yang disebut intermittent reinforcement dalam psikologi yakni hadiah diberikan tidak menentu, sehingga justru membuat pemain semakin penasaran dan sulit berhenti.

Penelitian di bidang neuropsikologi juga menunjukkan bahwa sistem ini mirip dengan mekanisme kerja mesin slot di kasino. Bedanya, zaman sekarang sistem ini sudah masuk ke genggaman kita lewat smartphone. Akibatnya, pemain jadi terus terpacu, seolah kemenangan besar hanya “tinggal satu klik lagi” padahal kemenangan itu tidak akan pernah datang. 

Jika dilihat dari faktor psikologisnya, berikut ini beberapa alasan yang menyebabkan mengapa judi online bikin kecanduan atau sulit dihentikan.

1. Ilusi Kontrol

Pemain sering merasa bisa mengendalikan hasil permainan, padahal sebenarnya permainan ini sepenuhnya acak. Misalnya, ada orang yang percaya bahwa dengan strategi tertentu ia bisa mendapatkan peluang menang yang lebih besar. Hal inilah yang lantas memberi harapan palsu dan membuat orang bertahan.

2. Near Miss Effect

Fenomena psikologis ini terjadi ketika pemain hampir menang. Contohnya, dia memperoleh hasil yang “nyaris” menang sedikit lagi. Nah pada situasi ini, otak menafsirkannya seperti kita “nyaris menang” dan seolah jadi tanda bahwa keberhasilan sudah dekat, sehingga mendorong kita untuk mencoba lagi.

3. Fear of Missing Out (FOMO)

Ketika teman atau orang lain bercerita bahwa mereka berhasil menang besar, muncul rasa takut ketinggalan kesempatan. “Kalau orang lain bisa, gue juga bisa,” begitulah kira-kira.

4. Kompensasi Emosi

Banyak orang yang masuk ke judi online bukan karena serakah, tapi karena sedang merasa stres, kesepian, atau tertekan ekonomi. Judi seakan jadi pelarian instan, semacam “obat” yang menenangkan sesaat, meski akhirnya menimbulkan masalah baru.

5. Cognitive Dissonance

Ketika sudah mengalami kerugian yang banyak, pemain justru semakin sulit berhenti. Mengapa demikian? Hal ini lantaran kebanyakan pelaku judi merasa “Kalau berhenti sekarang, rugi beneran. Tapi kalau terus, masih ada peluang balik modal.” Inilah jebakan mental yang paling berbahaya.

Dampak Sosial dan Psikologis Judi Online

Yang paling kasat mata tentu kerugian finansial. Tapi kalau kita gali lebih dalam, dampak mental dan sosial dari aktivitas judi online ini justru  jauh lebih luas. 

  • Stres dan depresi karena kehilangan uang dan rasa bersalah.
  • Konflik keluarga akibat finansial terganggu. Banyak kasus rumah tangga retak karena salah satu pasangan kecanduan judi.
  • Isolasi sosial karena pemain lebih banyak menghabiskan waktu dengan gadget ketimbang berinteraksi nyata.
  • Gangguan tidur dan kesehatan fisik akibat begadang terus bermain.
  • Potensi kriminalitas, mulai dari meminjam uang, menjual barang, hingga tindakan kriminal lain demi modal berjudi.

Artinya, judi online bukan sekadar masalah individu, tapi bisa jadi bom waktu sosial yang memengaruhi banyak orang sekaligus.

Apa yang Bisa Dilakukan?

Menghadapi masalah sebesar ini tentu tidak cukup hanya dengan menutup situs judi online. Ada beberapa pendekatan yang bisa dilakukan seperti:

  • Edukasi Literasi Digital dan Finansial

Agaknya, masyarakat perlu diberi edukasi dan pemahaman tentang cara kerja judi online, risiko psikologisnya, dan dampak ekonomi jangka panjang. Dengan begitu, mereka akan lebih bisa berpikir ulang untuk melakukannya. 

  • Layanan Konseling Psikologis

Bagi yang sudah terjebak, pendekatan psikoterapi seperti Cognitive Behavioral Therapy (CBT) bisa jadi langkah efektif untuk membantu orang keluar dari lingkaran judi. 

  • Dukungan Sosial dan Keluarga

Orang yang kecanduan butuh dukungan, bukan hanya kecaman. Lingkungan yang suportif membantu proses pemulihan.

  • Kebijakan dan Penegakan Hukum yang Tegas

Pemerintah perlu lebih agresif dalam menindak situs maupun promotor judi online, termasuk edukasi publik secara masif.

  • Program Rehabilitasi  dan Blokir Akses Keuangan Sementara

Edukasi literasi juga harus dilakukan dengan pemblokiran akses keuangan agar pelaku judi tidak berpikir untuk berjudi lagi. Pasalnya, ketika memiliki kemampuan finansial, mereka cenderung tergoda menggunakannya untuk berjudi lagi. Namun, tindakan represif ini juga perlu dibarengi dengan program rehabilitasi agar pelaku tidak mencari cara lain untuk berjudi.

Pada akhirnya, kita perlu memahami bahwa judi online bukan sekadar permainan. Lebih dari itu, aktivitas ini adalah parasit modern di era digital yang menghisap ekonomi sekaligus merusak mental masyarakat. Fenomena ini menunjukkan bahwa kita tidak hanya butuh solusi teknologi, tetapi juga pendekatan psikologis dan sosial yang komprehensif.

Sebab, kalau dibiarkan terus menerus judi online akan terus tumbuh dan melemahkan generasi muda yang seharusnya jadi aset bangsa. Menghentikan judi online berarti menyelamatkan banyak hal, bukan hanya dompet, tapi juga kesehatan mental, hubungan sosial, dan masa depan kita bersama. (RIW)

Bagikan :
Judi Online Parasit Ekonomi dan Mental yang Menggerogoti Masyarakat

More Like This

Logo Heal

Kamu dapat menghubungi HEAL disini:

Heal Icon

0858-9125-3018

Heal Icon

00 31 (0) 6 45 29 29 12

Heal Icon

heal@sahabatjiwa.com

Copyright © 2023 HEAL X  Sahabat Jiwa