Setiap orang memiliki inner child karena ini adalah bagian alamiah dari kehidupan kita ya, HEALMates. Inner child merupakan salah satu faktor pembentuk kepribadian seseorang yang seringkali tidak disadari keberadaannya. Tak jarang, banyak orang juga memiliki luka pada inner child mereka yang pada akhirnya terus menghantui kehidupan mereka hingga dewasa.
Sebagai contoh, kalau HEALMates pernah merasa reaksi emosi yang terkesan “berlebihan”, seperti merasa sangat takut ditinggalkan hanya karena chat tak kunjung dibalas, atau tiba-tiba merasa tidak berharga saat dikritik sedikit saja. Nah, bisa jadi yang bereaksi ini bukan “kamu yang sekarang”, tapi bagian dari diri kecilmu yang terluka.
Lantas, apa sih yang membuat inner child bisa terluka? Banyak ahli yang kemudian berpendapat bahwa salah satu faktor paling dekat yang membuat inner child seseorang bisa terluka adalah pola asuh sewaktu kecil. Agar lebih jelas, yuk kita ulas lebih dalam mengenai apa itu inner child dan kenapa pola asuh masa kecil bisa sangat berpengaruh pada inner child kita!
Apa Itu Inner Child?
Secara sederhana, inner child adalah bagian psikologis dalam diri kita yang menyimpan pengalaman emosional masa kecil, baik yang menyenangkan maupun yang menyakitkan. Konsep ini pertama kali dipopulerkan oleh psikolog Swiss bernama Carl Jung, yang meyakini bahwa pengalaman awal kehidupan dapat membentuk alam bawah sadar kita hingga dewasa.
Inner child bukan sekadar kenangan masa kecil ya, HEALMates. Lebih dari itu, inner child ini bisa berupa:
- cara kita memandang diri sendiri;
- cara kita merasa dicintai atau ditolak;
- cara kita merespons konflik, kritik, dan kedekatan emosional.
Jika masa kecil kita dipenuhi rasa aman, didengar, dan divalidasi, inner child kita pun relatif tumbuh dengan sehat. Misalnya, sering diajak bermain, didengarkan, hingga mendapatkan kasih sayang yang konsisten, biasanya akan membentuk pribadi yang lebih optimis dan percaya diri saat dewasa.
Namun, tidak semua orang tumbuh dalam pengalaman yang menyenangkan. Ada yang harus melewati masa kecil dengan rasa terabaikan, kekerasan, kehilangan orang tersayang, atau pengalaman traumatis lainnya. Tanpa disadari, pengalaman ini meninggalkan luka emosional yang ikut terbawa hingga dewasa.
Inner child yang terluka ini sering bersembunyi di alam bawah sadar dan baru muncul ketika seseorang menghadapi situasi tertentu yang mengingatkannya pada rasa sakit di masa lalu, entah lewat emosi yang tiba-tiba memuncak, rasa takut berlebihan, atau reaksi yang terasa sulit dikendalikan.
Jejak emosi dari masa lalu secara tidak langsung membentuk cara seseorang memandang dunia, mengelola perasaan, dan bersikap di kehidupannya saat ini. Inner child tidak hanya menyimpan kenangan manis, tetapi juga pengalaman pahit yang pernah meninggalkan luka.
Ketika seseorang mengalami peristiwa traumatis di masa kecil, dampaknya tidak otomatis hilang seiring bertambahnya usia. Luka emosional tersebut justru kerap terbawa hingga dewasa dan muncul dalam berbagai bentuk yang tak selalu disadari.
Tanpa disadari, keputusan yang diambil di masa kini mungkin dipengaruhi oleh trauma lama dan mekanisme pertahanan diri yang masih melekat. Sayangnya, banyak orang memilih menutup mata terhadap bagian dirinya yang terluka dan berusaha menekannya. Padahal, menyingkirkan luka batin bukanlah solusi, emosi yang dipendam justru cenderung muncul kembali dalam bentuk pola sikap dan perilaku tertentu. Jika inner child ini belum sembuh, maka itu akan terus menghantui hingga kita dewasa.
Mengapa Pola Asuh Bisa Melukai Inner Child?
Banyak orang berpikir luka batin hanya muncul dari kekerasan fisik atau trauma besar. Padahal, menurut psikolog dan penulis buku The Drama of the Gifted Child, Alice Miller, luka emosional justru sering lahir dari hal-hal yang dianggap “normal” dalam pola asuh. Beberapa contohnya, antara lain sebagai berikut:
1. Cinta Bersyarat
Saat anak hanya dipuji ketika berprestasi, patuh, atau “tidak merepotkan”, ia belajar satu hal bahwa “Aku dicintai kalau memenuhi ekspektasi.” Di usia dewasa, ini bisa berubah menjadi sikap perfeksionisme ekstrem atau takut akan kegagalan.
2. Emosi yang Tidak Divalidasi
Kalimat seperti “Ah, gitu aja nangis”, “Kamu lebay”, atau “Anak baik nggak boleh marah” membuat anak akhirnya menekan emosinya. Inner child pun belajar bahwa perasaannya salah. Akibatnya, saat dewasa kita jadi kesulitan mengenali dan mengekspresikan emosi secara sehat.
3. Parentification
Anak yang terlalu cepat “dewasa”, harus memahami masalah orang tua, jadi penenang emosi, atau memikul tanggung jawab berlebih. Mereka kehilangan haknya sebagai seorang anak-anak. Inner child mereka akhirnya tumbuh lelah, merasa harus selalu kuat, dan sulit meminta bantuan.
4. Pola Asuh Otoriter atau Tidak Konsisten
Aturan keras tanpa ruang dialog, atau sebaliknya pola asuh yang tidak stabil dan penuh tekanan, membuat anak hidup dalam mode waspada. Inner child menyimpan rasa takut kronis yang kemudian muncul sebagai kecemasan di masa dewasa.
Bagaimana Luka Inner Child Muncul Saat Dewasa?
Luka inner child jarang muncul sebagai ingatan yang jelas. Luka ini justru lebih sering muncul sebagai pola yang berulang, seperti:
- Sensitif terhadap hal-hal kecil.
- Menyabotase diri sendiri, seperti sering melupakan sesuatu, menunda sesuatu yang penting, tidak dapat mengendalikan emosi, dan lain-lain.
- Sulit menetapkan batasan (boundaries).
- Menghindari masalah dengan melakukan pelarian ke hal-hal negatif.
- Sulit berkomunikasi dengan anggota keluarga.
- Sering merasa rendah diri.
- Perfeksionis karena selalu dikritik sejak kecil
- Memiliki hubungan yang toxic karena tidak tahu cara menjalin hubungan yang sehat.
- Merasa terisolasi dari pergaulan.
- Merasa takut ditinggalkan dan cenderung clingy.
- Sulit percaya pada orang lain.
- Merasa tidak pernah cukup baik.
- Mudah merasa bersalah atau malu.
Menurut psikolog klinis dan penulis Homecoming: Reclaiming and Healing Your Inner Child, John Bradshaw, bagian diri yang terluka ini akan terus “berteriak” lewat perilaku dan emosi, sampai akhirnya diakui dan dipulihkan.
Tidak Perlu Menyalahkan Orang Tua
Penting untuk digarisbawahi bahwa dengan membahas inner child ini, kita tidak sedang berkompromi untuk menyalahkan orang tua ya, HEALMates. Sebab, banyak orang tua yang rasanya sudah melakukan yang terbaik yang mereka lakukan. Namun, seringkali pola asuh yang salah ini bisa disebabkan oleh kurangnya pengetahuan dan juga luka masa kecil yang diwariskan dari orang tua sebelumnya.
Kita bisa melakukan proses healing inner child ini dengan beberapa langkah seperti, mengakui bahwa luka kita ini valid, memberi ruang bagi emosi yang dulu ditekan, dan belajar menjadi “orang tua” yang aman untuk diri sendiri maupun untuk anak-anak kita.
Proses ini bisa dimulai dari hal sederhana, seperti mengenali dan menamai emosi kita, menulis surat untuk diri kecil kita, atau mencari bantuan profesional jika luka yang kita alami rasanya cukup berat.
Inner child yang terluka mungkin akan terus menghantui kehidupan kita setelah dewasa ya, HEALMates. Karena itu, kita perlu memiliki kesadaran dan kasih pada diri sendiri untuk menyembuhkannya. Karena pada akhirnya, menjadi dewasa bukan berarti menyingkirkan diri kecil kita yang terluka, tapi mengajaknya pulang dengan pelan, aman, dan penuh pengertian. (RIW)

