Scroll, like, scroll lagi. Hidup di era digital dan media sosial memang bikin kita kerap menghabiskan waktu di dunia maya ya, HEALMates? Saat satu notifikasi masuk, hati rasanya langsung hangat. Nah, kalau pas sepi notifikasi, pikiran pun mulai bertanya-tanya, “Kenapa ya medsosku sepi, apa aku kurang menarik?” Hmmm…Apakah HEALMates juga merasa seperti ini?
Tak dipungkiri, media sosial memang sudah jadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari ya, HEALMates. Dari kita mulai bangun tidur, hal pertama yang mungkin dilakukan adalah cek HP, sebelum tidur juga cek HP, bahkan di sela-sela makan pun kita sambil bermain HP. Nggak cuma scroll konten orang, kita pun kerap tergerak untuk turut mengabadikan momen dan memamerkan potongan hidup, entah itu foto, opini, pencapaian, ataupun kesedihan.
Nah, pertanyaan yang kemudian muncul adalah “Kenapa sih kita butuh banget validasi di media sosial?” Kadang kala kita sendiri juga bingung alasannya.Sebab, keinginan kuat untuk divalidasi orang lain ini bukan semata-mata biar kelihatan eksis di dunia maya. Lebih dari itu, ini juga ada kaitannya dengan luka inner child yang belum sembuh. Loh, kok bisa? Agar HEALMates tidak bingung, yuk kita bahas selengkapnya dalam artikel berikut ini!
Inner Child dan Kebutuhan Validasi
Sebelum kita bahas lebih lanjut tentang inner child yang demikian mempengaruhi keinginan seseorang untuk mendapat validasi, ada baiknya kita pahami lebih dulu apa itu inner child. Inner child adalah bagian dari diri kita yang terbentuk sejak kecil. Ia menyimpan memori tentang bagaimana kita dicintai, diabaikan, dipuji, dibandingkan, atau bahkan disakiti.
Kalau waktu kecil kita tumbuh dengan validasi yang minim, jarang dipuji, sering disalahkan, atau dituntut harus “Berprestasi dulu baru dianggap”, maka inner child itu akan tumbuh dengan satu keyakinan bahwa “Aku berharga kalau aku diakui.”
Masalahnya, inner child ini nggak hilang saat kita dewasa, HEALMates. Seperti yang dijelaskan oleh banyak psikolog, inner child ini akan terus ikut tumbuh bersama kita. Seringnya, kita sendiri nggak menyadari bahwa respon dan sikap kita ini adalah buntut dari luka inner child yang belum sembuh.
Media Sosial Jadi Panggung Validasi Paling Cepat
Di zaman serba digital seperti sekarang, inner child kita seakan menemukan rumah baru bernama media sosial. Jika di dunia nyata, validasi butuh waktu, di media sosial, validasi bisa datang dalam hitungan detik. Like, comment, views, repost, semuanya bekerja seperti hadiah instan untuk otak.
Setiap notifikasi kecil itu memberi dopamin, hormon senang yang bikin kita merasa diperhatikan dan diakui. Untuk inner child yang dulu jarang mendapat perhatian, pengakuan ini rasanya seperti pelukan yang tertunda selama bertahun-tahun.
Masalahnya, pelukan ini sifatnya hanya sementara, HEALMates. Hari ini kita upload foto, dapat banyak like, dan kita pun merasa percaya diri. Nah, ketika besok sepi respons, kita pun jadi langsung overthinking. Alhasil, kondisi emosional kita pun jadi naik turun mengikuti algoritma. Inilah yang perlu kita waspadai, HEALMates.
Awalnya mungkin cuma ingin berbagi, tapi pelan-pelan berubah jadi takut posting kalau bukan konten yang “bagus”, menghapus story karena views sedikit, membandingkan diri dengan timeline orang lain, hingga akhirnya merasa gagal kalau hidup nggak se-estetik feed orang. Di titik ini, media sosial bukan lagi jadi ruang ekspresi, tapi seakan jadi ruang pembuktian.
Kenapa Validasi Digital Selalu Kurang?
Inner child kita bekerja keras agar dilihat, diperhatikan, dan diakui. Sayangnya, media sosial nggak pernah benar-benar bisa menjawab kebutuhan itu secara tuntas. Kita hanya akan merasakan kesenangan semu dan validasi sementara. Padahal, luka emosional itu perlu disembuhkan dengan tuntas secara sadar tanpa harus mengandalkan validasi orang lain. Validasi dari luar memang bisa menguatkan, tapi kalau dijadikan sumber utama harga diri, kita akan terus merasa kurang. Selalu butuh lebih dan lebih, lebih banyak like, lebih banyak komentar, lebih banyak pujian dan pengakuan.
Belajar Memvalidasi Diri Sendiri
Ini bukan berarti kita harus berhenti main media sosial ya, HEALMates. Tapi, penting sekali untuk memahami bahwa media sosial ini hendaknya tidak kita jadikan sebagai harapan untuk validasi. Menyembuhkan inner child di era digital bukan soal menghilang dari internet, tapi membangun hubungan yang lebih sehat dengan diri sendiri.
Beberapa langkah yang mungkin bisa kita coba terapkan untuk belajar memberi validasi kepada diri sendiri antara lain:
- Mulai dari hal sederhana.
- Mengapresiasi diri tanpa menunggu komentar orang.
- Tidak menghapus karya hanya karena respons minim.
- Membatasi konsumsi konten yang memicu perbandingan diri dengan orang lain.
- Mengingat bahwa hidup orang lain di media sosial hanyalah potongan terbaiknya.
Pada akhirnya, kita pun harus mengakui bahwa kebutuhan validasi itu manusiawi ya, HEALMates. Kita semua ingin dilihat, didengar, dan dianggap ada. Tapi, akan sangat melelahkan jika seumur hidup kita menggantungkan rasa berharga pada respon orang lain terhadap diri kita. Sebab, inner child kita sebenarnya hanya butuh pengakuan dari diri kita bahwa “Kita cukup, kita baik, kita berharga, sekalipun tanpa tepuk tangan dari orang lain.” (RIW)

