Belakangan ini jalanan kota-kota besar di Indonesia kerap dipenuhi massa. Poster warna-warni dan suara lantang memenuhi udara. Mereka menuntut agar pemerintah lebih serius mengatasi berbagai persoalan yang mencekik masyarakat, melonjaknya harga kebutuhan hidup, korupsi yang tak kunjung surut, dan kehidupan berlebih-lebihan pejabat-pejabat yang katanya wakil rakyat.
Nyatanya, kondisi ekonomi negara ini masih tak pasti. Jika dulu demonstrasi identik dengan kelompok buruh atau petani, kini wajah-wajah muda semakin banyak hadir: mahasiswa, pekerja kantoran yang baru lulus kuliah, hingga pelajar yang masih berseragam. Semua menyerukan perbaikan keadaan, termasuk ekonomi negeri.
Kenyataan itu menimbulkan pertanyaan besar, bagaimana kesehatan mental generasi muda bertahan di tengah inflasi yang tak kunjung reda? Yuk HEALMates, kita selami lebih dalam tentang inflasi dan stres finansial pada generasi muda.
Tekanan Ekonomi di Pundak Anak Muda
Inflasi tentu bukan sekadar istilah ekonomi yang ada di laporan statistik. Sehari-hari, kita harus menghadapi harga-harga yang semakin naik hingga menurunkan mental. Biaya makan yang terus membengkak, ongkos transportasi yang terasa makin mencekik, hingga harga bahan pokok yang bikin kantong bolong. Bagi generasi muda yang baru menapaki kehidupan dewasa, kondisi ini seperti tamparan keras. Gaji pertama yang ditunggu-tunggu ternyata tidak cukup untuk hidup layak, apalagi untuk menabung atau mengejar mimpi. Tak heran, generasi muda ini jadi generasi yang disebut-sebut rentan secara finansial.
Mengapa demikian? Hal ini lantaran mereka tengah berada di fase mencari pijakan menyelesaikan kuliah, merintis karier, atau mencoba mandiri secara finansial terlepas dari orang tuanya. Saat biaya hidup meroket, ruang gerak mereka semakin sempit.
Menurut laporan terbaru Financial Resilience Index dari Sun Life Asia, Gen Z jadi yang paling rentan karena kecenderungannya yang hanya fokus pada kebutuhan jangka pendek akibat tekanan inflasi yang terus-menerus. Survei yang dilakukan terhadap lebih dari 6.000 responden di enam negara Asia, termasuk Indonesia, ini bahkan menemukan fakta menarik bahwa hanya 57% Gen Z yang merasa aman secara finansial. Angka ini tertinggal cukup jauh dibandingkan 69% Baby Boomers dan 66% Milenial.
Tingginya biaya hidup membuat generasi muda lebih memilih bersikap pragmatis, memprioritaskan pengeluaran harian, dan menunda tujuan keuangan jangka panjang seperti investasi atau tabungan masa depan.
Temuan ini semakin menegaskan bahwa meskipun Gen Z dikenal lebih adaptif dan melek digital, namun tekanan inflasi dan ketidakpastian ekonomi membuat generasi ini justru rawan terjebak dalam pola hidup yang hanya berorientasi untuk hari ini. Mereka cenderung tidak memiliki strategi jangka panjang yang jelas. Jika terus berlanjut, situasi ini akan memicu stres finansial.
Bagi HEALMates yang belum mengetahui apa itu stres financial, stres finansial adalah tekanan psikologis yang muncul akibat masalah keuangan. Orang yang mengalami stres finansial biasanya merasa cemas, tertekan, bahkan kehilangan rasa aman setiap kali memikirkan uang. Tidur terganggu karena overthinking soal uang, rasa cemas menjelang akhir bulan, bahkan perasaan bersalah saat harus berutang. Dalam jangka panjang, beban itu bisa menggerus produktivitas, merusak hubungan sosial, dan berdampak pada kesehatan fisik.
Apakah Literasi Finansial Cukup?
Banyak pihak mendorong anak muda belajar literasi finansial, seperti pemahaman tentang pentingnya menabung, mengatur anggaran, bahkan berinvestasi. Saran ini memang baik, tapi rasanya sering terasa naif.
Bagaimana bisa menabung kalau gaji UMR hanya cukup untuk bertahan hidup? Bagaimana bisa berinvestasi kalau tiap bulan harus berutang untuk bayar kos? atau untuk bayar kegiatan kuliah yang perlu uang?
Literasi finansial tentu penting, tapi tanpa kebijakan publik yang berpihak, hasilnya akan timpang. Generasi muda butuh harga yang stabil, pekerjaan yang layak, serta akses layanan kesehatan mental yang terjangkau. Tanpa itu, literasi finansial hanya akan jadi slogan tanpa makna.
Selain faktor ekonomi, anak muda juga rasanya butuh ruang aman untuk menjaga kesehatan mental. Salah satunya misalnya ikut konseling murah atau gratis di kampus dan komunitas. Dengan adanya ruang seperti ini, generasi muda setidaknya punya pegangan, meski tekanan finansial belum sepenuhnya hilang.
Betul adanya bahwa inflasi mungkin bagian dari siklus ekonomi yang tak terhindarkan. Tapi, HEALMates tentu memahami bahwa dampaknya terhadap anak muda bisa ditekan jika negara hadir dengan kebijakan yang berpihak.
Generasi muda adalah aset bangsa. Karena itulah, jika mereka terlalu lama dibiarkan terjebak dalam stres finansial, kreativitas dan produktivitas mereka pun akan ikut terkikis. Demo yang kerap muncul hanyalah alarm keras bahwa ada masalah mendasar yang perlu diselesaikan di akar. (RIW)

