Kalau ditanya apa yang paling sering bikin kepala pusing, jawabannya bisa macam-macam, pekerjaan, hubungan, kesehatan, bahkan uang. Yep! urusan finansial sering kali jadi sumber stres yang diam-diam menggerus energi kita ya, HEALMates. Ada kalanya, meski gaji rutin masuk, tabungan ada, dan kebutuhan dasar tercukupi, namun tetap saja rasa cemas itu muncul. Rasa takut uang cepat habis, khawatir tidak cukup buat masa depan, atau panik setiap melihat notifikasi tagihan. Nah, kondisi ini dikenal dengan istilah financial anxiety alias kecemasan finansial.
Fenomena ini semakin terasa nyata di era sekarang, ketika biaya hidup meroket, gaya hidup sosial media menuntut kita untuk selalu “update”, dan ekspektasi masa depan seolah nggak ada habisnya. Sering kali, kecemasan ini nggak kita sadari. Tiba-tiba saja kita sulit tidur, gampang marah, atau bahkan malas buka aplikasi mobile banking. Oleh karena itu, memahami financial anxiety bisa jadi langkah penting untuk mulai berdamai dengan uang.
Apa Itu Financial Anxiety?
Financial anxiety adalah kondisi ketika seseorang merasa cemas, stres, atau takut berlebihan berkaitan dengan masalah keuangan, baik saat ini maupun masa depan. Kecemasan ini tidak selalu muncul karena seseorang benar-benar kekurangan uang. Terkadang, seseorang dengan kondisi finansial cukup pun tetap diliputi rasa khawatir yang tidak rasional.
Menurut berbagai studi psikologi, financial anxiety berbeda dari kekhawatiran biasa. Kondisi ini bisa menetap dan bahkan menjadi gangguan emosional, mempengaruhi berbagai aspek kehidupan, termasuk kesehatan fisik, hubungan sosial, serta produktivitas kerja. Hal ini karena kita jadi merasa tidak mampu mengendalikan kondisi keuangannya atau selalu membayangkan skenario terburuk tentang masa depan finansialnya. Misalnya, ketakutan bahwa tabungan tidak cukup, khawatir kehilangan pekerjaan, atau takut tidak mampu membayar biaya kesehatan dan pendidikan.
Gejala Financial Anxiety
Setiap orang bisa merasakan gejala yang berbeda, namun beberapa tanda umum financial anxiety antara lain:
- Cemas Berlebihan saat Membicarakan Uang
Topik keuangan seringkali dihindari, bahkan dengan pasangan atau keluarga. Setiap kali ada percakapan tentang uang, perasaan gelisah dan tidak nyaman muncul.
- Overthinking tentang Masa Depan Finansial
Seseorang terus-menerus memikirkan “bagaimana kalau nanti”, misalnya bagaimana jika tabungan habis, bagaimana jika tidak punya dana darurat, atau bagaimana jika terjadi krisis ekonomi.
- Sulit Tidur dan Konsentrasi Menurun
Kekhawatiran finansial yang terus berputar di kepala bisa mengganggu pola tidur. Seseorang sulit fokus pada pekerjaan atau aktivitas sehari-hari karena pikirannya selalu terpaku pada masalah keuangan.
- Menghindari Mengecek Keuangan
Alih-alih mencari solusi, beberapa orang justru enggan membuka aplikasi bank, melihat tagihan, atau mencatat pengeluaran karena takut dengan apa yang akan mereka temukan.
- Perubahan Emosi dan Perilaku
Mudah marah, lebih cepat lelah, hingga menarik diri dari lingkungan sosial juga bisa menjadi tanda bahwa beban finansial sedang mengganggu kesejahteraan mental.
Penyebab Financial Anxiety
Apa sebenarnya yang memicu kecemasan finansial di tengah situasi ekonomi global yang penuh ketidakpastian ini? Beberapa penyebab yang bisa HEALMates cermati antara lain sebagai berikut:
1. Perang Tarif dan Lonjakan Harga
Perang tarif antar negara dalam beberapa tahun terakhir membawa efek domino yang langsung terasa oleh masyarakat biasa. Tarif impor yang tinggi membuat harga barang naik, inflasi pun ikut terdorong. Pada akhirnya, daya beli masyarakat jadi melemah.
Bayangkan saja, harga sembako, bahan bakar, hingga kebutuhan pokok lain tiba-tiba naik gara-gara kebijakan baru. Perencanaan keuangan yang sudah disusun rapi pun pada akhirnya bisa berantakan dalam sekejap. Situasi makin pelik karena kenaikan upah sering kali tidak sejalan dengan kenaikan harga-harga tersebut.
2. Nilai Tukar Mata Uang yang Tidak Stabil
Fluktuasi kurs mata uang, terutama rupiah terhadap dolar AS, menjadi momok lain yang memicu kecemasan finansial. Bagi individu yang punya cicilan atau utang dalam mata uang asing, melemahnya rupiah ini bisa berarti beban pembayaran yang membengkak.
Perusahaan yang mengandalkan bahan baku impor juga terkena imbas. Akibatnya, biaya produksi naik, harga jual ikut terdorong, dan konsumen lah yang akhirnya menanggung beban. Situasi ini membuat pekerja dengan penghasilan tetap merasa makin tertekan karena pengeluaran membengkak tanpa kompensasi.
Yang bikin masalah ini lebih rumit adalah sifat kurs yang sangat sulit diprediksi. Sentimen pasar, kebijakan bank sentral, atau gejolak politik bisa mengubah nilai tukar hanya dalam hitungan hari. Ketidakpastian inilah yang sering kali menimbulkan rasa tidak berdaya dan memperparah kecemasan finansial.
3. Ancaman PHK dan Masa Depan Karier
Di tengah situasi ekonomi global yang penuh turbulensi, banyak perusahaan melakukan efisiensi. Gelombang PHK massal jadi berita rutin di berbagai sektor. Ketakutan kehilangan pekerjaan pun semakin besar.
Menariknya, kecemasan soal pekerjaan ini bukan hanya dialami mereka yang sudah di-PHK. Pekerja yang masih bertahan juga dihantui rasa was-was. Tiap kali ada berita tentang PHK, bayangan kehilangan penghasilan langsung menempel di pikiran.
Perubahan dunia kerja yang cepat juga ikut memperburuk situasi. Banyak pekerjaan tradisional hilang, sementara skill baru dituntut segera. Peralihan ini menciptakan tekanan besar, terutama bagi mereka yang merasa belum siap beradaptasi. Tak heran jika financial anxiety makin kuat mencengkeram kalangan pekerja.
Dampak Financial Anxiety bagi Kesehatan Mental
Financial anxiety bukan sekadar “khawatir soal uang”, lebih dari itu, hal ini bisa membawa dampak serius bagi kesehatan mental jika tidak segera ditangani. Beberapa dampak yang bisa terjadi antara lain:
- Stres Kronis
Stres berkepanjangan akibat masalah keuangan bisa mengganggu sistem saraf dan hormon tubuh. Hal ini berpotensi memicu kelelahan, penurunan imunitas, hingga masalah kesehatan fisik lainnya.
- Gangguan Kecemasan dan Depresi
Tekanan finansial yang tidak terselesaikan dapat memperburuk kondisi mental, bahkan bisa menjadi pemicu gangguan kecemasan menyeluruh (generalized anxiety disorder) atau depresi.
- Menurunnya Kualitas Hidup
Kecemasan finansial membuat seseorang sulit menikmati momen-momen kecil dalam hidup. Misalnya, alih-alih merasa bahagia saat berlibur, ia justru dihantui rasa bersalah karena memikirkan biaya yang dikeluarkan.
- Hubungan Sosial yang Terganggu
Konflik dengan pasangan, keluarga, atau teman sering kali dipicu oleh masalah uang. Rasa cemas membuat individu lebih defensif atau enggan terbuka, yang akhirnya merenggangkan hubungan.
- Produktivitas Kerja Menurun
Karyawan yang dilanda financial anxiety cenderung sulit fokus, lebih mudah lelah, dan rentan kehilangan motivasi. Akibatnya, performa kerja menurun, yang justru bisa memperburuk kondisi finansial.
Pentingnya Literasi Keuangan
Salah satu kunci utama untuk mengurangi financial anxiety adalah meningkatkan literasi keuangan. Literasi keuangan bukan hanya tentang kemampuan menghitung angka, tetapi juga tentang pemahaman bagaimana mengelola uang dengan bijak, membuat keputusan finansial yang sehat, dan mempersiapkan masa depan.
1. Membantu Membuat Perencanaan yang Realistis
Dengan literasi keuangan, seseorang mampu menyusun anggaran bulanan, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta menyiapkan dana darurat. Perencanaan ini bisa mengurangi rasa cemas karena ada peta yang jelas tentang bagaimana uang digunakan.
2. Mengurangi Ketidakpastian
Banyak kecemasan finansial muncul karena ketidakpastian. Dengan pemahaman keuangan yang baik, seseorang bisa menyiapkan tabungan, asuransi, dan investasi sehingga risiko di masa depan lebih terkendali.
3. Memberi Rasa Kendali
Memahami keuangan membuat seseorang merasa lebih berdaya. Ia tahu langkah apa yang harus dilakukan saat menghadapi masalah, sehingga tidak merasa pasrah atau terjebak dalam rasa takut.
4. Menumbuhkan Kebiasaan Positif
Literasi keuangan mendorong perilaku sehat seperti rutin menabung, tidak berutang konsumtif, serta disiplin mencatat pemasukan dan pengeluaran. Kebiasaan ini dapat menjadi fondasi jangka panjang untuk hidup yang lebih tenang.
5. Menyiapkan Masa Depan dengan Lebih Tenang
Dengan bekal literasi keuangan, individu bisa menyiapkan pensiun, pendidikan anak, hingga perlindungan kesehatan. Hal ini membuat masa depan tidak lagi terasa menakutkan, tetapi lebih terencana.
Cara Mengatasi Financial Anxiety
Selain meningkatkan literasi keuangan, ada beberapa langkah praktis yang bisa dilakukan untuk mengurangi kecemasan finansial. Beberapa di antaranya yakni:
- Buat Catatan Keuangan
Catat semua pemasukan dan pengeluaran. Dengan data yang jelas, kita bisa melihat pola penggunaan uang dan menemukan peluang untuk berhemat.
- Siapkan Dana Darurat
Memiliki tabungan untuk situasi tak terduga memberi rasa aman dan mengurangi kecemasan tentang kemungkinan buruk di masa depan.
- Cari Bantuan Profesional
Jika beban terasa berat, konsultasi dengan perencana keuangan atau psikolog bisa membantu. Perencana keuangan dapat memberikan strategi, sementara psikolog bisa membantu mengelola kecemasan.
- Diskusikan dengan Orang Terdekat
Terbukalah dengan pasangan atau keluarga mengenai kondisi finansial agar bisa meringankan beban mental. Sebab, dukungan emosional sangat penting dalam menghadapi kecemasan.
- Jaga Kesehatan Fisik dan Mental
Olahraga, tidur cukup, serta praktik mindfulness dapat membantu meredakan stres yang muncul akibat masalah finansial.
Financial anxiety adalah isu nyata yang bisa dialami siapa pun, tanpa memandang latar belakang ekonomi. Meski begitu, HEALMates perlu memahami bahwa uang memang penting, tetapi tidak seharusnya menjadi sumber kecemasan yang terus-menerus hingga mengganggu kesehatan mental.
Meningkatkan literasi keuangan adalah salah satu jalan keluar yang efektif. Dengan pemahaman yang baik, seseorang bisa membuat keputusan yang lebih bijak, mengurangi ketidakpastian, dan membangun rasa kendali atas keuangannya. (RIW)

