Logo Heal

FASHION & BEAUTY

Fashion & Beauty

Fashion Bisa Jadi Terapi Setelah Patah Hati, Ini Caranya!

Fashion Bisa Jadi Terapi Setelah Patah Hati, Ini Caranya!

Oleh :

Hai HEALMates 

Siapa bilang penyembuhan hati atau healing cuma bisa lewat meditasi, yoga, atau liburan santai di pantai? Ternyata, ada cara lain yang lebih kreatif dan personal: yaitu melalui fashion atau gaya berpakaian. Bagi sebagian orang, pakaian yang mereka pilih sehari-hari bisa menjadi media terapi psikologis, terutama setelah mengalami patah hati atau dikhianati. Yup, apa yang kamu kenakan bisa menjadi simbol perjalananmu untuk bangkit, memulihkan diri, dan merebut kembali kekuatan yang sempat hilang.

Pernah dengar istilah “dress to heal” HEALMates? 

Istiah Ini bukan sekadar jargon atau tren belaka. Konsep ini mengacu pada cara seseorang menggunakan fashion sebagai bahasa emosional, sebuah cara untuk menunjukkan bahwa dirinya siap melepaskan masa lalu dan menatap hidup dengan semangat baru. Banyak orang yang setelah mengalami kekecewaan, perselingkuhan, atau masa sulit, justru mulai bereksperimen dengan warna, model, dan potongan pakaian yang sebelumnya mereka hindari. Bahkan yang sebelumnya tidak berani mereka coba.

Hasil pengamatan di media sosial menunjukkan tren menarik. Banyak perempuan yang dulunya lebih sering memilih pakaian gelap seperti hitam atau abu-abu sebagai simbol kesedihan dan kehilangan. Namun, kini mulai berani memakai warna-warna cerah seperti kuning, biru muda, bahkan pink fuchsia yang mencolok. Pilihan warna ini seolah menjadi pernyataan keberanian untuk bersinar lagi

Menurut psikolog mode, Dr. Dawnn Karen, dalam bukunya Dress Your Best Life, pakaian memiliki kekuatan untuk mempengaruhi suasana hati dan citra diri seseorang. Ia menyebutnya sebagai mood enhancement dressing, yaitu praktik berpakaian dengan tujuan memperbaiki suasana hati dan meningkatkan kepercayaan diri. Jadi, ketika seseorang mulai memilih pakaian yang lebih cerah atau lebih ekspresif dari biasanya, itu bisa menjadi tanda bahwa dia sedang berusaha membangun identitas baru setelah melewati trauma emosional.

Fashion bukan hanya sekedar penampilan luar. Pilihan pakaian bisa menjadi bentuk terapi psikologis yang nyata. Saat kamu mulai memakai rok yang dulu dihindari. Kemudian mulai memakai lipstik dengan warna yang berani. Sebenarnya kamu sedang berbicara pada diri sendiri bahwa kamu tidak  mau lagi menjadi korban yang tersakiti. Kamu tidak mau lagi kehilangan kendali atas hidupmu. Gaya barumu ini merupakan proses mengambil kembali kekuatan dan kontrol atas diri sendiri setelah merasa kehilangan.

Dalam ranah psikologi warna, nuansa tertentu memiliki efek spesifik pada emosi. Merah muda dan kuning dipercaya dapat menstimulasi rasa optimis dan percaya diri. Sementara biru memberikan efek menenangkan. Jadi, jika setelah diselingkuhi kamu tiba-tiba ingin tampil dengan outfit pastel lembut, blazer pink terang, atau kombinasi warna yang cerah, berarti kamu sedang melakukan terapi fashion. Perlahan dengan bantuan pilihan pakaianmu kamu melakukan healing yang elegan dan personal, di mana fashion menjadi alat untuk merawat hati yang sempat retak.

Penelitian terbaru tentang fashion dan terapi mendukung hal ini. Ruby Phan dalam Create Healing: A Fashion Therapy System menyatakan bahwa pakaian merupakan bagian fundamental dari komunikasi manusia, karena pilihan busana dapat mencerminkan identitas dan ekspresi diri yang dalam. Selain saat memakai, proses membuat dan mendesain pakaian pun memiliki dampak psikologis yang besar. Dalam program Create Healing, peserta belajar membuat dan merancang pakaian sebagai metode self-care, menemukan empowerment melalui proses kreatif, dan mengendalikan ekspresi emosional mereka. Dengan kata lain, fashion menjadi media penyembuhan yang aktif.

Lebih jauh, penelitian Treena Clark dalam The Role of Fashion and Art in First Nations Healing, Decolonisation, and Cultural Practice menyoroti bagaimana seni dan fashion di komunitas First Nations Australia digunakan sebagai sarana penyembuhan, pemulihan budaya, dan perlawanan terhadap trauma kolonial. Melalui workshop fashion dan proyek berbasis komunitas, pakaian menjadi simbol identitas, kekuatan, dan kesinambungan budaya. Pendekatan ini menunjukkan bahwa fashion bisa menjadi media penyaluran emosi sekaligus media interaksi sosial. Alasannya karena proses kreasi dan pemilihan busana mendukung pemulihan mental dan pemberdayaan individu.

Nah, dari berbagai penelitian dan pengalaman tadi, kita bisa belajar satu hal: bahwa berpakaian bukan hanya urusan tampilan luar, tapi juga perjalanan batin. Fashion dapat menjadi bentuk self-therapy yang lembut atau cara untuk berbicara dengan diri sendiri tanpa kata-kata. Ketika kamu mulai memperhatikan warna, tekstur, atau potongan baju yang kamu kenakan, sebenarnya kamu sedang menyusun ulang energi dan kepercayaan diri dari dalam.

Lalu, bagaimana caranya menjadikan fashion sebagai bagian dari proses healing?
Berikut panduan singkat yang bisa kamu coba untuk membuat gaya berpakaianmu terasa lebih bermakna.

  1. Pilih Warna yang Mengangkat Mood
    Warna cerah seperti kuning, pink, biru muda, atau hijau mint bisa menstimulasi rasa optimis dan percaya diri. Warna pastel lembut memberi efek menenangkan, cocok untuk fase refleksi diri.

  2. Eksperimen dengan Gaya Baru
    Cobalah potongan pakaian yang sebelumnya kamu hindari, misal rok, blazer, atau aksesori bold, untuk mengekspresikan keberanian baru.

  3. Gunakan Fashion Sebagai Bahasa Emosi
    Setiap outfit bisa menjadi pernyataan: “Aku kuat, aku berdamai, aku berani melangkah.” Lipstik berani atau aksesori unik bisa menjadi simbol reclaiming power.

  4. Proses Kreatif Bisa Menjadi Terapi
    Membuat atau mendesain pakaian sendiri memberi rasa kontrol dan ekspresi emosi, seperti metode Create Healing. Bisa lewat DIY, mix & match outfit, atau menggambar desain pakaian.
  5. Sesuaikan Fashion dengan Fase Emosional
    Saat sedang di fase patah hati, pilihlah pakaian nyaman, warna menenangkan. Kemudian saat memasuki fase bangkit, pakailah warna cerah, potongan berani, aksesori eye-catching.

  6. Gunakan Outfit Sebagai Ritual Self-Care
    Setiap pagi, pilih outfit dengan sengaja untuk meningkatkan mood dan menjadi pengingat bahwa kamu sedang merawat diri sendiri.

Fashion bisa menjadi alat terapi emosional yang kreatif, personal, dan menyenangkan. Seperti kata Dr. Karen, “You can dress the way you want to feel.” Jadi, jangan heran kalau penampilan barumu terlihat lebih segar dan berani. Itu artinya kamu sudah mulai berdamai dengan diri sendiri dan mengambil kembali kendali atas hidupmu.

“Sometimes, the brightest outfit comes after the darkest heartbreak.”

Bagikan :
Fashion Bisa Jadi Terapi Setelah Patah Hati, Ini Caranya!

More Like This

Logo Heal

Kamu dapat menghubungi HEAL disini:

Heal Icon

0858-9125-3018

Heal Icon

halo@heal-sahabatjiwa.com

Copyright © 2023 HEAL X  Sahabat Jiwa