HEALMates tentu sudah tidak asing dengan media sosial. Mengisi waktu luang dengan scrolling Instagram, TikTok, X (Twitter), atau bahkan YouTube seringkali jadi cara yang menyenangkan untuk me time, ya HEALMates.
Tapi, pernahkah HEALMates justru terjebak membaca berita soal ekonomi dunia yang bikin kepala pusing? Kondisi politik yang seringkali membuat kita geleng-geleng kepala? Harga minyak naik, nilai tukar rupiah goyah, demonstrasi, tuntutan yang tidak didengar, dan lain sebagainya. Akhirnya, bukannya santai, tapi justru hati jadi semakin cemas.
Fenomena ini ternyata punya istilah keren, doom scrolling. Nah, doom scrolling ini dampaknya ternyata bukan cuma ke pikiran, tapi juga ke emosi dan mental kita sehari-hari. Bahkan, ada istilah baru yang mulai sering digunakan para ahli, yakni inflasi emosional.
Lalu, apa itu inflasi emosional? Yuk, kita bahas bareng-bareng tentang apa itu inflasi emosional dan kenapa doom scrolling jadi salah satu penyebabnya.
Apa Itu Inflasi Emosional?
Dalam istilah ekonomi, inflasi berarti kenaikan harga barang dan jasa yang dibarengi dengan penurunan nilai uang. Nah, inflasi emosional adalah kondisi ketika “harga” emosi kita terasa semakin mahal akibat tekanan hidup yang terus meningkat.
Sementara itu, menurut Mark Travers yang dilansir dari Forbes, inflasi emosional juga bisa terjadi ketika reaksi emosional terhadap situasi kecil dibesar-besarkan secara tidak proporsional. Alih-alih menghadapi perbedaan kecil dengan tenang, kita justru meledakkannya menjadi konflik besar.
Dulu, mungkin hal kecil seperti nongkrong bareng teman atau nonton film favorit bisa membuat kita bahagia. Tapi sekarang, dengan pikiran yang dipenuhi kekhawatiran akan ekonomi dan situasi di negara yang tengah pelik, momen-momen sederhana itu rasanya kurang “cukup” untuk menambal rasa cemas. Akibatnya, kita perlu “usaha lebih besar” untuk merasa lega.
Jika diperhatikan, inflasi emosional ini bisa terlihat dalam bentuk seperti lebih gampang cemas saat mendengar berita di media sosial, susah merasa tenang meski kebutuhan pokok masih bisa terpenuhi, selalu merasa “kurang” walaupun sudah bekerja keras, dan lain-lain.
Bagi generasi muda, terutama milenial dan Gen Z, kondisi ini makin nyata karena mereka hidup di era informasi tanpa henti melalui media sosial.
Kenapa Kita Nggak Bisa Berhenti Doom Scrolling Media Sosial?
Sekarang kita masuk ke bagian yang sering bikin masalah makin parah, yakni doom scrolling. Doom scrolling adalah kebiasaan kita untuk terus-menerus membaca berita negatif, bahkan ketika sudah sadar berita itu bisa membuat kita semakin cemas. Dalam konteks ekonomi, ini disebut doom scrolling news economy.
Berita buruk seringkali memicu rasa cemas dan takut. Namun, alih-alih berhenti, orang yang terjebak doom scrolling justru makin penasaran dan terus menggali informasi lebih dalam.
Contohnya seperti scroll berita tentang pejabat publik yang hedon di tengah kondisi masyarakat yang tercekik karena harga-harga naik. Lanjut membaca komentar netizen yang marah, kemudian klik artikel tentang kericuhan aksi protes masyarakat. Setelah itu, beralih ke berita PHK massal dan lanjut ke prediksi resesi. Bukannya berhenti, kita malah terus mencari berita buruk lainnya sampai mental kita lelah.
Awalnya, aktivitas ini mungkin sekadar cara untuk tetap update berita. Namun, lama-kelamaan bisa berubah jadi kebiasaan buruk, bahkan bagi sebagian orang menjelma obsesi untuk mengisi waktu luang saat merasa kosong atau tak bisa beraktivitas di luar rumah.
Kenapa kita melakukan itu? Dari sisi psikologis otak kita selalu mencari informasi ancaman untuk merasa lebih siap. Selain itu, ada juga perasaan takut ketinggalan berita terbaru soal ekonomi yang bisa memengaruhi hidup kita. Hal ini juga didukung dengan algoritma media sosial, semakin sering kita klik berita negatif, makin sering juga algoritma menyodorkan berita serupa.
Tips Mengelola Inflasi Emosional Akbibat Doom Scrolling
Sekarang, yuk kita bahas cara-cara agar HEALMates bisa lebih sehat secara mental meski kondisi ekonomi dan politik sedang tidak menentu.
1. Batasi Doom Scrolling
Tetapkan jam khusus untuk membaca berita, misalnya pagi hari atau sore. Jangan buka berita negatif sebelum tidur karena bisa bikin insomnia.
2. Pilih Sumber Informasi yang Sehat
Alih-alih baca berita penuh clickbait, coba pilih media yang memberi solusi atau perspektif positif, bukan hanya menakut-nakuti.
3. Fokus pada Hal yang Bisa Kamu Kontrol
Kamu nggak bisa mengendalikan harga minyak dunia, tapi kamu bisa mengatur pengeluaran pribadi, mulai investasi kecil-kecilan, atau belajar skill baru.
4. Bangun Rutinitas Self-Care
Olahraga ringan, journaling, meditasi, atau sekadar jalan sore bisa bantu menstabilkan emosi. Jangan situasi negara yang tengah kurang kondusif ini mencuri kesehatan mentalmu, ya.
5. Buat Mindset Jangka Panjang
Pahami bahwa ekonomi dan politik merupakan sebuah siklus, ada naik dan ada turun. Ingat bahwa masa sulit ini bukan akhir dunia, tapi bagian dari perjalanan. Alih-alih terus terjebak pada berita buruk, mungkin kamu bisa mencari langkah positif yang bisa memberikan kontribusi untuk situasi ini.
Nah HEALMates, inflasi emosional itu nyata. Kondisi ekonomi global memang bikin banyak anak muda merasa cemas, situasi politik dalam negeri juga tak kalah membuat dada kita bergejolak. Tapi, jangan sampai kita terjebak dalam lingkaran doom scrolling yang merampas kesehatan mental. HEALMates harus selalu ingat bahwa menjaga emosi sama pentingnya dengan menjaga dompet. Kalau kamu bisa membatasi konsumsi berita negatif, mengelola pengeluaran dengan bijak, dan tetap merawat diri, inflasi emosional bisa dikendalikan. Jadi, yuk mulai belajar untuk lebih selektif dalam memilih informasi dan lebih sayang sama diri sendiri. (RIW)

