Logo Heal

ART, MONEY & TECHNOLOGY

Art, Money & Technology

Digital Art, AI Art, dan NFT Revival: Tren Baru untuk Menghadapi Burnout 

Digital Art, AI Art, dan NFT Revival: Tren Baru untuk Menghadapi Burnout 

Oleh :

Pernah nggak sih kalian merasa hari-hari kayak blur? Bangun, kerja, pulang, tidur, repeat. Seolah-olah hidup cuma siklus monoton yang bikin kepala berat, hati lelah, dan emosi serasa stuck. Nah, kondisi inilah yang sering kita sebut burnout. Fenomena yang dulu banyak dialami pekerja kantoran, sekarang juga merambah ke pelajar, mahasiswa, bahkan content creator. Dunia yang makin cepat, ekspektasi yang makin tinggi, bikin kita gampang kehilangan ruang untuk bernapas.

Tapi, kabar baiknya, ada ruang ekspresi baru yang makin booming di era digital. Yep! digital art, seni yang lahir, tumbuh, dan berkembang lewat teknologi ini kini jadi semacam safe space bagi banyak orang untuk menuangkan perasaan. Entah itu lewat gambar abstrak, ilustrasi penuh warna, hingga karya yang “dibantu” kecerdasan buatan (AI).

Apa Itu Digital Art? 

Digital art adalah karya seni yang dibuat atau diproses menggunakan teknologi digital. Jadi, kalau dulu orang bikin seni pakai kuas, cat, atau pensil di atas kertas, sekarang medianya bisa berupa tablet, komputer, smartphone, bahkan aplikasi berbasis AI.

Digital art nggak cuma terbatas pada ilustrasi atau gambar, tapi juga bisa berupa fotografi digital, animasi, 3D modeling, hingga seni interaktif. Intinya HEALMates, semua bentuk karya visual yang tercipta lewat perangkat digital bisa disebut digital art.

Beberapa contoh digital art yang sekarang sedang tren antara lain AI Art yakni karya seni yang dibuat dengan bantuan Artificial Intelligence (AI) dan NFT (Non-Fungible Token) yakni aset digital unik yang bisa mewakili kepemilikan karya seni, musik, atau item virtual lainnya, berbasis teknologi blockchain. 

Beberapa waktu belakangan ini bahkan sedang ramai tren digital art menggunakan AI, seperti tren Gemini AI yang mengubah foto menjadi Action Figure Digital, kemudian ada juga tren Ghibli AI yang mengubah foto menjadi animasi khas studio Ghibli. Tren ini sedang banyak diperbincangkan oleh berbagai kalangan. 

Kenapa Digital Art Bisa Jadi Ruang Emosi?

Kalau dulu seni identik dengan kanvas, kuas, dan cat minyak, sekarang medium itu sudah bergeser ke layar. Tablet, stylus, bahkan aplikasi gratis di smartphone bisa jadi jalan keluar dari penat. Kenapa bisa begitu? Beberapa alasannya antara lain seperti berikut. 

  • Aksesibel

Nggak perlu studio besar atau cat mahal, hampir semua orang bisa mulai membuat digital art dari device yang mereka punya. Buat yang lagi suntuk kerja, menggambar di aplikasi seperti Procreate, IbisPaint, atau bahkan doodling di Notes aja bisa jadi pelepas emosi. Hadirnya AI art generator seperti Stable Diffusion, Starry AI, dan Midjourney juga turut menjadi sarana bagi para penggunanya untuk menghasilkan gambar atau image generation secara mudah.

  • Fleksibel

Digital art nggak mengenal batas ruang dan waktu. Mau bikin karya jam 2 pagi? Bisa. Mau eksplor gaya visual dari realis ke kartun dalam sehari? Bisa. Fleksibilitas ini bikin proses kreatif terasa lebih personal.

  • Media Katarsis

Banyak orang menemukan digital art sebagai cara jujur mengekspresikan perasaan. Saat kata-kata nggak cukup, warna, garis, dan bentuk bisa jadi bahasa alternatif. Bahkan, goresan sederhana bisa terasa melegakan.

Era Burnout dan Seni yang Menyembuhkan

Burnout sering kali bikin kita kehilangan arah. Tapi menariknya, banyak penelitian menyebut aktivitas kreatif, termasuk seni digital ini bisa membantu menurunkan stres dan mengaktifkan sisi otak yang bikin kita lebih rileks.

Misalnya, saat kita menuangkan rasa cemas dalam bentuk visual, ada semacam “dialog” antara pikiran dan karya. Kita jadi bisa melihat emosi itu di luar diri, bukan cuma berkecamuk di kepala. Dengan begitu, perasaan berat bisa sedikit lebih ringan.

Bahkan, komunitas online seperti DeviantArt, ArtStation, hingga Instagram atau TikTok kini jadi tempat berbagi karya sekaligus cerita. Banyak seniman yang mengaku bahwa mereka merasa seen dan heard lewat dukungan komunitas digital.

AI Art: Antara Teman atau Ancaman?

Nah, ngomongin era digital art di 2025 rasanya nggak lengkap tanpa membahas tren AI art. Gimana nggak, sekarang tools seperti MidJourney, DALL-E, atau Stable Diffusion sudah semakin canggih. Dalam hitungan detik, sebuah prompt bisa jadi karya visual yang detail dan menakjubkan.

Buat sebagian orang, AI art terasa seperti ancaman. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, “Kalau semua bisa bikin gambar dengan AI, apa kabar seniman manual?” Pertanyaan ini masih sering jadi perdebatan.

Tapi di sisi lain, AI art juga bisa jadi alat bantu untuk bereksperimen. Banyak juga seniman yang justru pakai AI sebagai titik awal, misalnya untuk brainstorming ide, eksplorasi gaya visual, atau menciptakan moodboard. Setelah itu, mereka tetap melakukan fine tuning dengan sentuhan personal.

Yang menarik, AI art juga membuka ruang baru buat orang-orang yang sebelumnya nggak punya skill menggambar. Dengan AI, mereka bisa tetap mengekspresikan ide dan emosi dalam bentuk visual. Jadi, alih-alih mematikan kreativitas, AI justru memperluas siapa saja yang bisa berkreasi.

NFT Revival: Seni Digital Bernilai Lagi

Kalian mungkin masih ingat hype NFT (Non-Fungible Token) di 2021–2022 kan, HEALMates? Saat itu, karya digital bisa terjual ratusan ribu dolar. Tapi setelah “crypto winter”, banyak yang bilang NFT sudah mati. Eh, siapa sangka 2024–2025 justru jadi momen revival?

NFT sekarang nggak cuma soal spekulasi harga, tapi mulai kembali ke akar, yakni apresiasi seni digital. Banyak platform NFT mengusung konsep art-first, menekankan nilai karya, bukan sekadar aset investasi. Seniman digital pun mulai dapat ruang untuk hidup dari karya mereka.

Bayangin deh, karya yang lahir dari proses healing pribadi, misalnya ekspresi visual tentang kecemasan atau kelegaan setelah melewati burnout, bisa diapresiasi dalam bentuk nyata, dikoleksi, dipamerkan, bahkan jadi sumber penghasilan. Menarik ya, HEALMates?

Digital Art Sebagai Self-Care di Era Burnout

Jadi, bagaimana digital art bisa kita posisikan di tengah era burnout ini? Kuncinya ada pada self-care. Digital art ini bisa jadi jurnal visual, mindful activity, atau bahkan koneksi dengan komunitas. 

Alih-alih menulis diary, coba bikin visual diary. Gambar mood kamu hari itu. Warna gelap untuk hari yang berat, warna cerah untuk hari yang lega. Selain itu, saat fokus menggambar, otak kita juga ternyata masuk ke kondisi flow, semacam meditasi aktif yang menenangkan. Selanjutnya, kamu juga upload karya di media sosial atau platform berbasis komunitas. Kamu bisa dapat komentar positif atau menemukan orang lain yang relate dengan perasaan kita. Nah, itu bikin rasa lelah jadi lebih tertahankan.

Meski demikian, tentu ada juga tantangan yang nggak bisa diabaikan. Digital art masih sering dianggap “kurang serius” dibanding seni tradisional. Belum lagi isu plagiarisme, hak cipta, hingga perdebatan soal karya AI.

Tapi kalau kita lihat lebih luas, digital art sedang membentuk ekosistem baru, tempat di mana teknologi, seni, dan emosi saling bertemu. Tempat di mana kita bisa belajar menerima bahwa burnout itu nyata, tapi juga bisa dikelola lewat ekspresi kreatif.

HEALMates, hidup di era serba cepat memang bikin kita gampang kewalahan. Tapi ingat, kita selalu punya ruang untuk bernafas, salah satunya lewat seni. Digital art dengan segala bentuknya (manual, AI, atau bahkan NFT), bisa jadi cara kita berdialog dengan diri sendiri.

Di balik setiap garis, warna, atau prompt AI, ada emosi yang jujur, ada rasa lelah, ada kegelisahan, ada harapan. Mungkin saja lewat karya ini kita bisa bilang ke dunia, “Hei, aku masih di sini. Aku lelah, tapi aku tetap berkarya.”

Jadi, kenapa nggak coba buka aplikasi menggambar malam ini? Siapa tahu, kamu menemukan versi diri yang lebih lega di layar itu. (RIW)

Bagikan :
Digital Art, AI Art, dan NFT Revival: Tren Baru untuk Menghadapi Burnout 

More Like This

Logo Heal

Kamu dapat menghubungi HEAL disini:

Heal Icon

0858-9125-3018

Heal Icon

00 31 (0) 6 45 29 29 12

Heal Icon

heal@sahabatjiwa.com

Copyright © 2023 HEAL X  Sahabat Jiwa