Logo Heal

ART, MONEY & TECHNOLOGY

Art, Money & Technology

Dampak Perselingkuhan pada Aset dan Keuangan Keluarga

Dampak Perselingkuhan pada Aset dan Keuangan Keluarga

Oleh :

Ada pepatah yang bilang kalau perselingkuhan itu penyakit hati. Tapi, nggak cuma penyakit hati ya HEALMates, karena efek sampingnya bukan cuma bikin dada sesak dan kepala pening. Pengkhianatan ini juga bisa bikin tabungan hilang, sertifikat rumah tergadai, sampai motor yang baru lunas leasing tiba-tiba berpindah tangan.

Cinta memang butuh komitmen, tapi rekening tabungan juga butuh disiplin. Lucunya lagi, begitu hati seseorang berbelok arah, uang sering ikut jalan bareng. Karena ternyata, sebagian besar perselingkuhan bukan hanya pengkhianatan rasa, tapi juga pengkhianatan finansial. Apalagi, kalau yang punya kendali finansial jadi pelaku pengkhianatan ini, hmm.

Ibarat nonton sinetron jam tujuh malam, awalnya pelakor atau pebinor cuma minta perhatian. Lama-lama? “Minta pulsa dong sayang,” “Mau skincare nih,” “Pinjem bentar ya mobilnya.” Hingga akhirnya, si pasangan tergelincir pun jadi walking ATM. Tapi, bedanya dengan ATM beneran, ATM yang ini bisa keluarin saldo tanpa password. Lalu, tahukah kamu siapa yang paling merasakan gejolak neraka setelah perselingkuhan ini? pasangan yang diselingkuhi, anak-anak, keuangan rumah tangga, cicilan sekolah, sampai rencana masa depan.

Uang Belanja Bocor Tanpa Notifikasi

Sudah jadi rahasia umum ya, HEALMates kalau perselingkuhan jarang datang tanpa biaya. Cinta terlarang itu ternyata butuh budget, mulai dari makan malam berdalih “meeting kerja”, transfer “buat jajan”, ongkos ojek online ke tempat rahasia, biaya hotel yang tagihannya disamarkan jadi “meeting room”, dan lain-lain. 

Lucunya, alasan klasik dari upaya pengkhianatan ini selalu sama. Kalau ditanya, “Kok uang belanja dikurangi?” Jawabanya pasti sambil ngamuk, “Kamu tuh kurang bersyukur banget, banyak kebutuhan!” Iya, kebutuhan cinta dan nafsu.

Utang Tiba-Tiba Muncul Entah dari Mana

Drama berikutnya yang bisa saja terjadi akibat perselingkuhan apalagi bagi mereka yang memiliki kemampuan finansial menengah adalah utang yang tiba-tiba membengkak. Parahnya lagi ketika tiba-tiba ada debt collector mampir padahal pasangan sah tidak merasa meminjam uang. 

Saat ditanya, “Kamu utang buat apa kok nggak ngasih tahu?” Pelaku yang selingkuh ini sudah pasti mengelak dengan sejuta dalih. Ada yang bilang buat usaha, buat keperluan kantor, dan lain-lain. 

Alhasil, aset rumah tangga mulai hilang satu per satu untuk menutup utang-utang yang nggak jelas. Rumah? Motor? Sertifikat tanah? Aset-aset yang dikumpulkan bersama ini sering kali harus direlakan. 

Rasanya akan sangat menyakitkan ketika pasangan berdalih semua utang-utang nggak jelas itu demi “masa depan kita”, padahal “kita” yang dimaksud bukan lagi pasangan sah dan anak-anaknya, melainkan dirinya dan orang lain yang tiba-tiba hadir. 

Lalu, begitu ketahuan? Jawabannya, “Maaf, aku khilaf”. Ya Allah, khilaf kok pasangan dan anak-anak dikorbankan.

Anak Ikut Jadi Korban Finansial

Ini mungkin jadi bagian paling menyayat dari sebuah perselingkuhan jika rumah tangga sudah dikaruniai anak. Bukan hanya hubungan yang rusak, tapi pendidikan dan masa depan anak juga ikut goyah. Padahal, sebelumnya mungkin sudah merencanakan tabungan pendidikan, asuransi kesehatan, baju-baju seragam, jatah susu anak, dan lain-lain. Semua bisa raib untuk membiayai operasional perselingkuhan. Bagi pasangan dari kalangan atas mungkin kondisinya tidak akan semenyayat jika perselingkuhan ini dilakukan mereka yang secara finansial menengah ke bawah. 

Yang lebih aneh dan bikin gemas, setelah ketahuan pelakunya sering kali bilang, “Aku tetap sayang anak-anak kok.” Sayang? Kalau benar sayang, kenapa masa masa depan anak dikorbankan?

Perceraian Jadi Harga yang Harus Dibayar Tunai 

Ada sebagian kasus perselingkuhan yang akhirnya saling memaafkan dan memperbaiki diri demi keutuhan rumah tangga. Namun, ada juga yang memilih untuk bercerai karena merasa rumah tangga sudah tak bisa diselamatkan. Siapa bilang bercerai tidak membutuhkan uang? Tentu saja perceraian ini memerlukan biaya dan proses yang nggak sebentar, seperti biaya pengacara, pengadilan, pembagian harta gono-gini, dan lain-lain. 

Jadi, sebaiknya kita benar-benar harus berpikir secara logis karena perselingkuhan itu mahal. Bukan hanya biayanya yang mahal, tapi juga efek emosionalnya pastinya nggak bisa disembuhkan dalam waktu sebentar. 

Ingat ya, HEALMates! Perselingkuhan itu bukan sekadar dosa hati, tapi juga pengkhianatan ekonomi keluarga, perampokan finansial, kejahatan terhadap masa depan anak, dan bom waktu yang tagihannya jatuh tempo di dunia dan akhirat. Sekali lagi, dunia dan akhirat. 

Keuangan keluarga itu dibangun di atas beberapa komitmen bersama mulai dari disiplin dan kejujuran. Jadi, kalau salah satu hilang, bukan hanya rumah tangga yang retak, tapi rekening pun ikut menangis. Karena pada akhirnya, kesetiaan bukan hanya perkara moral, tapi juga strategi finansial keluarga paling dasar.

Ada pepatah mengatakan, “Cinta yang tulus membangun rumah. Nafsu yang liar menghancurkannya sampai pondasi”. Semoga kita termasuk orang-orang yang selalu menjaga kesetiaan dan didekatkan dengan mereka yang juga memiliki kesetiaan ya, HEALMates. Amiiin…(RIW)

Bagikan :
Dampak Perselingkuhan pada Aset dan Keuangan Keluarga

More Like This

Logo Heal

Kamu dapat menghubungi HEAL disini:

Heal Icon

0858-9125-3018

Heal Icon

00 31 (0) 6 45 29 29 12

Heal Icon

heal@sahabatjiwa.com

Copyright © 2023 HEAL X  Sahabat Jiwa