Halo HEALMates! Semoga kalian dalam keadaan baik. Yuk, tetap jaga kesehatan, karena itu adalah prioritas utama. Semangat, HEALMates!
Kali ini, kita akan membahas dampak bullying terhadap kesehatan mental. Apakah di antara kita ada yang pernah menjadi pelaku atau korban bullying? Semoga tidak. Faktanya, kasus bullying tidak hanya melanda Indonesia, tetapi juga negara lain seperti Tiongkok, Korea, AS, dan lainnya, dengan dampak yang signifikan terhadap kesehatan mental.
Manusia, sebagai ciptaan Tuhan yang sempurna, tidak bisa menghindar dari aktivitas bersosialisasi. Bersosialisasi bukanlah pilihan, melainkan suatu kebutuhan untuk perkembangan diri, identitas, dan memberikan makna pada kehidupan.
Namun, dengan kenyataan sosial yang semakin kompleks, fenomena bullying menjadi perhatian utama, terutama ketika melihat dampaknya terhadap kesehatan mental korban. Memahami kekuatan psikologis dari intimidasi dapat membuka wawasan tentang perlunya upaya bersama untuk melindungi kesejahteraan mental dalam masyarakat.
Seseorang yang sering menjadi korban bullying dapat mengalami emosi tidak stabil dan kehilangan rasa percaya diri. Dampaknya pada psikologi termasuk mudah menangis, mudah marah, bahkan trauma yang membuat takut bertemu orang dan merasa sendiri. Dikhawatirkan, balas dendam terhadap bullying dapat membekas dalam pikiran.
Pelaku bullying seringkali menunjukkan perilaku memarahi, mengumpat, bahkan kekerasan fisik. Perilaku ini sering dianggap sebagai candaan, bahkan orang yang melihatnya ikut tertawa, yang semakin mempermalukan korban tanpa memperhatikan perasaan dan kesehatan mentalnya. Pengaruh perilaku bullying dapat berakhir pada depresi.
Penting untuk mendidik sejak dini guna mencegah kasus bullying melalui pengajaran di sekolah. Mulai dari sekolah dasar, anak-anak perlu diajarkan tentang interaksi sosial yang baik dan dilarang, dengan adanya pelajaran konseling untuk memutus hubungan baik antar teman.
Di dalam keluarga, penting bagi orang tua menciptakan komunikasi yang baik, mengajarkan sikap saling peduli dan berbagi kepada anak-anak. Menciptakan budaya anti-bullying dengan sering menyuarakannya di sekolah, keluarga, dan tempat lainnya, agar setiap orang selalu merasa memiliki derajat yang sama.

