Logo Heal

MENTAL HEALTH

Mental Health

Cara Security Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Hidup yang Nggak Mudah

Cara Security Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Hidup yang Nggak Mudah

Oleh :

HEALMates, pernah nggak sih kamu memperhatikan sosok security yang berjaga di pos seharian penuh?. Saat kita keluar masuk gedung, mereka ada. Saat kita pulang larut malam, mereka masih ada. Mereka gercep banget berdiri dan menyapa. Meskipun lelah seharian berjaga, mereka tetap melempar senyum dan sigap membantu. 

Profesi security adalah profesi yang sama mulianya dengan Guru. Security Bekerja keras untuk keperluan keluarga dan istri sambil mengerjakan tugas-tugas dari penghuni dengan imbalan yang kurang banyak. Profesi ini sebanding dengan ART (Asisten Rumah Tangga) yang rela bekerja jauh dari keluarga. Pekerjaan dengan tuntutan berat, namun berbanding terbalik dengan imbalan yang diterima. Di balik seragamnya, banyak security menjalani hidup yang bisa dibilang nggak gampang. Jam kerja mereka panjang, bisa sampai 12 jam per hari. Gaji yang diterima sering kali pas-pasan. Mereka memikul tanggung jawab besar untuk menjaga keamanan dan mengayomi warga tanpa senjata. Tapi entah kenapa, sebagian dari mereka tetap bisa tertawa, bercanda, dan terlihat baik-baik saja.

Dari situ muncul pertanyaan tentang bagaimana para security ini menjaga kesehatan mental mereka di tengah hidup yang keras?

Untuk mencari jawabannya, tim riset HEAL berkesempatan mewawancarai tiga orang security, yaitu Pak Wahyudin, Pak Taufik, dan Pak Mardi. Mereka memiliki tantangan yang beragam saat bekerja. Namun, satu benang merah langsung terasa sejak awal. Mereka tampak bahagia dan sehat di tengah kesibukan. Yuk kita simak rutinitas para security agar pikiran tetap waras di tengah tekanan hidup.

Membiasakan Olahraga, Ibadah, dan Hiburan Kecil

Pak Wahyudin percaya bahwa menjaga kesehatan mental itu sebenarnya tidak perlu ribet. Baginya, dua hal paling dasar sudah cukup membantu: olahraga dan ibadah. Setelah berjaga seharian, tubuh perlu digerakkan agar tidak kaku, sementara ibadah menjadi ruang tenang untuk menata pikiran. Di sela-sela itu, ada satu hal yang ia anggap sebagai hiburan, yaitu rokok. Ia menilai rokok bisa menjadi penguat dan penyemangat saat bertugas. Bahkan, rokok yang ditemani kopi manis menurutnya membantu mengusir rasa kantuk ketika harus tetap siaga. Baginya, rokok menjadi teman yang menemani kejenuhan. Setiap orang punya pusing masing-masing, dan tanpa hiburan kecil, pikiran bisa terasa semakin sesak. Pandangan ini menarik karena menggambarkan realitas di lapangan. Rokok diposisikan sebagai teman sementara, bukan penopang utama kesehatan mental.

Cerita Pak Wahyudin sejalan dengan berbagai penelitian yang menunjukkan bahwa aktivitas fisik atau olahraga memiliki hubungan positif dengan kesehatan mental. Olahraga membantu menurunkan stres, kecemasan, dan gejala depresi dengan cara memicu pelepasan hormon endorfin yang berperan dalam menstabilkan emosi dan memperbaiki suasana hati. Bagi pekerja dengan jam kerja panjang seperti security, olahraga menjadi salah satu bentuk pertahanan diri yang paling realistis.

Menerapkan Pola Pikir Tenang 

Sementara itu, Pak Taufik menyoroti pentingnya menjaga pola pikir. Menurutnya, hidup akan terasa jauh lebih berat jika semua hal dipikirkan terlalu dalam. Tenang bukan berarti menyerah ya HEALMates,  melainkan tahu batas kemampuan diri. Pak Taufik juga merokok, namun dengan prinsip tidak sampai kecanduan. Kesadaran untuk memberi batas ini menjadi poin penting dalam menjaga keseimbangan mental dan fisik.  Hal lain yang cukup menonjol dari Pak Taufik adalah kebiasaannya berbagi. Saat ada rezeki lebih, ia memilih menyisihkan untuk orang yang membutuhkan. Berbagi, menurutnya mendatangkah berkah tersendiri.

Menariknya, Pak Taufik punya prinsip yang selalu ia pegang dalam hidup. Prinsipnya yaitu DUIT (Doa, Usaha, Ikhtiar, dan Tawakal). Empat hal ia anggap sebagai fondasi hidup. Usaha tanpa doa terasa kosong, doa tanpa usaha juga tidak cukup, dan tawakal menjadi kunci untuk menerima hasil dengan lapang dada. Secara ilmiah, praktik doa, rasa syukur, dan tawakal memang terbukti memiliki dampak positif terhadap kesehatan mental. Penelitian menunjukkan bahwa ibadah dan doa dapat membantu mengurangi stres dan kecemasan, meningkatkan regulasi emosi, serta memberi rasa aman dan optimisme. Tawakal membantu seseorang melepaskan kekhawatiran berlebih terhadap hal-hal yang berada di luar kendali.

Senantiasa Bersyukur

Pak Mardi membawa sudut pandang lain. Ia menegaskan bahwa security adalah garda terdepan, baik di masyarakat maupun di lingkungan kerja, meski sering kali diremehkan. Namun, alih-alih larut dalam rasa kecewa, ia memilih fokus pada tanggung jawabnya dan tetap bersyukur.  Saat kondisi ekonomi sedang sulit, Pak Mardi memaknainya sebagai belum saatnya rezeki datang. Kondisi kekurangan bukan alasan untuk berhenti berusaha, justru menjadi pengingat untuk terus bekerja keras dan memperkuat doa. Apapun hasilnya, ia memilih menerimanya dengan syukur.

Rasa syukur ini juga diperkuat oleh temuan penelitian yang menyebutkan bahwa bersyukur secara konsisten berkaitan dengan tingkat kesejahteraan mental yang lebih baik. Syukur membantu individu memusatkan perhatian pada hal-hal positif walaupun hal kecil sekalipun. Dampaknya, tekanan hidup terasa lebih ringan.

Menjadikan Rokok Hiburan Sesaat, Bukan Ketergatungan

Ketiga narasumber memiliki pandangan yang sama terhadap rokok. Rokok dipahami sebagai hiburan sesaat untuk mengusir jenuh, bukan solusi utama menjaga kesehatan mental. Rokok bisa membuat perasaan lebih tenang dan tidak mudah marah. Keberadaan rokok di sela-sela pekerjaan dibutuhkan karena perlunya ketenangan dalam menghadapi berbagai kendala. Secara ilmiah, nikotin memang dapat memberikan efek rileks sementara karena mempengaruhi sistem saraf dan pelepasan dopamin. Namun, berbagai studi juga menegaskan bahwa efek ini bersifat jangka pendek. Dalam jangka panjang, konsumsi rokok justru berisiko meningkatkan kecemasan dan ketergantungan. Belum lagi, ancaman besar untuk organ pernafasan. Kesadaran untuk tidak berlebihan yang disampaikan para security menunjukkan pemahaman akan batas aman bagi diri mereka sendiri.

Dari hasil wawancara yang kemudian dikuatkan dengan teori, satu hal jadi makin jelas, HEALMates. Menjaga kesehatan mental tidak selalu membutuhkan cara yang rumit atau mahal. Justru, bisa datang dari hal-hal paling sederhana yang dilakukan dengan konsisten. Bagi para security, ketenangan itu datang dari olahraga ringan setelah berjaga. Dari ibadah dan doa yang menenangkan hati. Dari rasa syukur atas rezeki sekecil apa pun. Dari berbagi ketika ada kesempatan, kemudian dari hiburan yang tidak berlebihan. Semua dijalani apa adanya, tanpa banyak tuntutan pada hidup.

Satu kalimat dari Pak Taufik terasa merangkum semuanya, “Kalau hari ini dikasih rezeki sedikit, ya disyukuri. Yang penting usaha, doa, dan tawakal.”

HEALMates, mungkin dari mereka kita bisa belajar satu hal penting. Kesehatan mental bukan tentang hidup tanpa masalah. Tapi tentang bagaimana kita memperlakukan diri sendiri saat masalah itu datang. Menarik nafas sebentar, menguatkan hati, Lalu melangkah lagi.  (MAY)

Bagikan :
Cara Security Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Hidup yang Nggak Mudah

More Like This

Logo Heal

Kamu dapat menghubungi HEAL disini:

Heal Icon

0858-9125-3018

Heal Icon

00 31 (0) 6 45 29 29 12

Heal Icon

heal@sahabatjiwa.com

Copyright © 2023 HEAL X  Sahabat Jiwa