Logo Heal

ART, MONEY & TECHNOLOGY

Art, Money & Technology

Budaya Hustle vs Work-Life Balance, Mana yang Lebih Sehat?

Budaya Hustle vs Work-Life Balance, Mana yang Lebih Sehat?

Oleh :

“Kerja keras itu penting, tapi apakah hidup hanya tentang kerja?”

Pernahkah HEALMates mendengar kalimat “sleep is for the weak”? Atau quotes di media sosial yang mengatakan kalau kita harus kerja keras dari muda, nanti tuanya tinggal menikmati hasil? Kalimat semacam ini cukup populer di era 2010-an, terutama ketika budaya hustle alias “kerja tanpa henti” jadi tren.

Namun, semakin ke sini, terutama dengan hadirnya generasi Z di dunia kerja, tren baru pun muncul seolah menjadi perlawanan terhadap budaya hustle ini. Banyak anak muda yang terang-terangan menyatakan bahwa “Hidup bukan cuma kerja. Aku nggak mau jadi budak korporat.” Dari sinilah lahir fenomena anti hustle movement yang mendorong populernya istilah work-life balance.

Tapi, sebenarnya budaya hustle itu apa sih? Lalu, apakah work-life balance benar-benar lebih sehat? Yuk, kita bahas lebih dalam di artikel ini HEALMates. 

Apa Itu Budaya Hustle?

Budaya hustle atau sering disebut hustle culture adalah gaya hidup yang menempatkan kerja keras, produktivitas, dan pencapaian materi sebagai prioritas utama. Istilah ini populer di kalangan entrepreneur, pekerja kreatif, hingga karyawan yang sedang mengejar jenjang karier.

Hustle culture ini juga bisa didefinisikan sebagai pola pikir atau gaya hidup yang menempatkan kerja keras secara berlebihan sebagai nilai utama. Dalam budaya ini, seseorang cenderung selalu ingin terlihat sibuk, terus produktif, dan tidak berhenti mengejar kesuksesan.

Dalam budaya ini, ada mindset bahwa semakin banyak waktu yang kita curahkan untuk bekerja, semakin cepat kita mencapai kesuksesan. Karena itulah, mereka yang memiliki pola pikir atau gaya hidup hustle culture cenderung menganggap lembur sebagai sebuah kewajaran, tidur sedikit dianggap pengorbanan, dan “sibuk” seakan jadi simbol keberhasilan.

Ciri-ciri orang yang terjebak dalam budaya hustle biasanya:

  • Kerja lebih dari 8 jam sehari dan merasa bersalah kalau santai.
  • Multitasking berlebihan dan merasa harus selalu produktif.
  • Mengukur nilai diri dari pencapaian kerja (jabatan, gaji, prestasi).
  • Mengorbankan kesehatan dan hubungan personal demi kerja.

Sederhananya, hustle culture ini membuat kita berpikir bahwa hidup adalah untuk bekerja, bukan kerja untuk hidup.

Apa Itu Work-Life Balance?

Berbeda dengan hustle culture, work-life balance adalah konsep keseimbangan antara dunia kerja dengan kehidupan pribadi. Prinsipnya sangat sederhana, yakni menganggap bahwa kerja itu memang penting, namun hidup di luar pekerjaan juga sama pentingnya.

Dalam konsep ini, orang akan berusaha memastikan waktu, energi, dan perhatian mereka bisa terbagi dengan adil antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Ada waktu untuk pekerjaan dan ada juga waktu untuk keluarga, istirahat, hobi, kesehatan, bahkan self-care.

Ciri orang yang menerapkan work-life balance misalnya:

  • Punya batasan jelas antara jam kerja dan jam pribadi.
  • Tidak merasa bersalah saat istirahat, karena sadar istirahat juga produktif.
  • Menikmati hidup di luar pekerjaan, entah jalan-jalan, olahraga, atau quality time.
  • Lebih sadar kesehatan mental, bukan sekadar fisik.

Kalau hustle culture adalah maraton tanpa berhenti, work-life balance lebih mirip perjalanan hiking yang dinikmati dengan jeda. 

Work-life balance telah menjadi tren gaya hidup yang populer dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini terutama didorong oleh semakin banyak orang yang bergulat dengan burnout, stres, dan masalah kesehatan mental. Orang-orang yang menerapkan gaya hidup ini berpendapat bahwa dengan memisahkan waktu antara pekerjaan dan kehidupan pribadi tidak hanya akan membuat kita lebih bahagia, tetapi juga lebih produktif dan kreatif. Intinya, kita bisa bekerja dengan baik, tapi juga perlu menyeimbangkannya dengan kehidupan pribadi tanpa harus mengorbankan salah satunya.

Gen Z dan Fenomena Anti Hustle Movement

Generasi Z, yang lahir sekitar tahun 1997–2012, dikenal sebagai generasi yang lebih vokal soal kesehatan mental dibanding generasi sebelumnya. Mereka juga tumbuh di era digital, di mana informasi soal burnout, depresi, dan toxic productivity mudah ditemukan.

Makanya, Gen Z cenderung skeptis dengan budaya hustle. Mereka melihat bagaimana kebanyakan generasi sebelumnya, Gen X dan sebagian besar milenial, tampak kelelahan karena bekerja tanpa henti, hanya untuk mengejar “kesuksesan” yang kadang tak pernah datang. 

Di kalangan Gen Z, ada juga yang masih mencoba mengikuti pola hustle culture. Tapi menariknya, generasi ini tidak serta-merta menelannya mentah-mentah. Banyak di antara mereka yang mulai sadar akan dampak negatif dari gaya hidup yang terlalu menekan diri sendiri.

Salah satu dampak yang paling sering muncul adalah burnout di usia muda. Banyak Gen Z yang sudah merasa kelelahan, baik fisik maupun mental, bahkan sebelum menginjak usia 25 tahun.

Terlalu ambisius dan selalu terburu-buru justru membuat mereka abai pada kebutuhan diri sendiri. Padahal, fase usia tersebut seharusnya menjadi masa penting untuk mengenal diri dan menemukan jati diri dengan lebih matang.

Beberapa fenomena yang muncul dari anti hustle movement ini antara lain:

  • Quiet Quitting

Quiet quitting ini bukan berarti resign diam-diam. Tapi, mereka lebih memilih bekerja sesuai jobdesk tanpa harus “all out” melebihi tanggung jawab. Intinya, kerja secukupnya, bukan hidup untuk kerja.

  • Bare minimum Monday

Bare minimum monday adalah tren dari TikTok yang mengajak pekerja memulai hari Senin dengan santai, tanpa beban berlebihan. Ini bentuk protes terhadap tekanan kerja di awal minggu.

  • Career Cushioning

Gen Z nggak mau loyal buta pada satu perusahaan. Mereka lebih suka punya backup plan, entah side hustle, freelance, atau skill lain untuk jaga-jaga.

  • Work to Live, Not Live to Work

Bagi Gen Z, kerja hanyalah salah satu bagian hidup, bukan pusat hidup.

Fenomena ini bikin banyak perusahaan mulai mengubah cara pandang, dari menuntut loyalitas penuh menjadi memberi fleksibilitas lebih.

Jadi, Hustle vs Work-Life Balance Mana yang Lebih Sehat?

Jika dilihat dari sisi kesehatan fisik dan mental, pemenangnya jelas work-life balance. Tubuh yang sehat bikin kita lebih tahan lama dalam berkarier. Hustle culture kerap membuat kita kurang tidur, pola makan berantakan, stres tinggi, bahkan  rawan sakit. Sebaliknya, work-life balance memberi ruang untuk olahraga, makan teratur, dan tidur cukup. Selain itu, dari sisi kesehatan mental, work-life balance membuat kita lebih tenang, punya energi untuk hubungan sosial, serta tidak merasa hidupnya habis untuk kerja.

Akan tetapi, dari sisi karier gaya hidup work-life balance ini kerap menjadi tantangan. Apalagi, jika diterapkan terlalu berlebihan. Sebab, banyak perusahaan yang kemudian merasa bahwa loyalitas karyawannya sangat lemah. Karena itulah, tak sedikit yang menerapkan gaya hidup work-life balance kerap mengalami perlambatan karier. Meski tidak semua seperti itu karena pada dasarnya hasilnya akhirnya tetap tergantung tujuan hidup masing-masing orang. Kalau mau hasil instan, hustle culture bisa jadi jalan. Tapi kalau bicara maraton kehidupan, work-life balance lebih sustainable.

Kalau ditanya secara hitam-putih, jelas work-life balance lebih sehat. Tubuh, pikiran, dan hubungan sosial lebih terlindungi. Tapi, tidak bisa dipungkiri, ada kalanya kita butuh “mode hustle” untuk mengejar target tertentu.

Bedanya, jangan jadikan hustle sebagai gaya hidup permanen. Gunakan seperlunya, lalu kembalilah ke ritme seimbang. Karena pada akhirnya, hidup bukan hanya soal seberapa cepat kita sampai, tapi seberapa kita bisa menikmati perjalanan. (RIW)

Bagikan :
Budaya Hustle vs Work-Life Balance, Mana yang Lebih Sehat?

More Like This

Logo Heal

Kamu dapat menghubungi HEAL disini:

Heal Icon

0858-9125-3018

Heal Icon

00 31 (0) 6 45 29 29 12

Heal Icon

heal@sahabatjiwa.com

Copyright © 2023 HEAL X  Sahabat Jiwa