Memoar Broken Strings karya Aurelie Moeremans baru-baru ini viral dan membuat publik terkejut. Buku ini mengungkap pengalaman traumatis Aurelie ketika remaja. Ia menjadi korban child grooming oleh pacarnya yang usianya jauh lebih tua.
Broken Strings seakan membuka percakapan yang selama ini sering disimpan rapat-rapat oleh banyak perempuan, terutama remaja. Dari buku ini, kita bisa mengambil pelajaran berharga bagaimana perhatian, pujian, dan hubungan yang tampak romantis, justru bisa jadi jalan manipulatif dan kekerasan seksual yang sistematis. Dari buku ini, pembaca bisa belajar tentang bahaya grooming, manipulasi emosional, dan toxic relationship yang dialami penulisnya sejak usia belia.
Lantas, apa itu child grooming? Mengapa remaja perempuan rentan terkena child grooming? Yuk HEALMates, kita ulas selengkapnya dalam artikel berikut ini!
Apa Itu Child Grooming?
Mengacu pada penjelasan UNICEF, child grooming adalah upaya membangun kedekatan dengan anak secara bertahap untuk melibatkan mereka dalam aktivitas seksual melalui bujuk rayu, manipulasi, atau pengaruh tertentu. Proses ini dapat terjadi secara langsung maupun melalui ruang digital, termasuk media sosial dan platform daring lainnya.
Pada mulanya, proses ini nggak tampak sebagai ancaman karena sering dibungkus dalam bentuk perhatian, kepedulian, atau relasi yang terlihat aman. Karena aksinya yang cukup halus, banyak korban pun baru menyadarinya setelah dampaknya terasa di kemudian hari.
Dalam praktiknya, child grooming biasanya memiliki pola yang relatif serupa, meskipun konteks dan mediumnya berbeda-beda. Beberapa pola yang biasanya muncul dan patut diwaspadai antara lain:
- Membangun komunikasi intens dan membuat korban merasa spesial.
- Memberikan pujian, hadiah, atau dukungan emosional yang berlebihan.
- Meminta korban menyimpan rahasia sebagai bentuk ikatan khusus antara mereka.
- Perlahan melanggar batas, mulai dari obrolan pribadi hingga konten atau sentuhan bernuansa seksual.
- Menciptakan rasa bersalah, takut, atau ketergantungan agar korban sulit menolak atau melapor.
Nah, pola ini bisa terjadi baik secara tatap muka maupun melalui ruang digital seperti media sosial, gim online, dan aplikasi pesan. Banyak orang yang nggak menyadari bahwa mereka sedang terkena child grooming karena ‘dibungkus’ dengan perhatian yang terlihat hangat.
Bahayanya Child Grooming
Yang membuat child grooming sangat berbahaya adalah dampaknya yang tidak selalu langsung terlihat. Korban, terutama remaja perempuan, bisa mengalami kebingungan emosional, rasa bersalah, dan konflik batin karena relasi tersebut terasa “nyaman”, tapi juga menyakitkan.
Dalam jangka panjang, pengalaman grooming dapat memicu trauma psikologis, gangguan kecemasan, depresi, kesulitan membangun relasi sehat, hingga kehilangan kepercayaan pada diri sendiri dan orang lain.
Anak yang mengalami child grooming juga bisa terganggu tidurnya. Mereka bisa sulit tidur atau mimpi buruk yang terus berulang. Di lingkungan sekolah, anak juga bisa mengalami penurunan fokus dan motivasi belajar, yang akhirnya berujung pada merosotnya prestasi akademik.
Selain itu, perubahan pada pola makan juga bisa terjadi, baik dalam bentuk hilangnya nafsu makan maupun kebiasaan makan berlebihan sebagai respons emosional. Secara perilaku, anak mungkin tampak lebih mudah takut, menarik diri dari lingkungan sosial, atau justru menunjukkan sikap agresif yang tidak biasa. Jika grooming disertai dengan kekerasan fisik atau seksual, risiko kesehatan seperti infeksi menular seksual juga dapat muncul.
Dampak psikologis akibat child grooming ini sering kali tidak berhenti dalam waktu singkat, HEALMates. Tapi, dampaknya juga bisa terbawa hingga usia dewasa. Karena itu, peran orang tua dan lingkungan terdekat sangat penting untuk tetap peka terhadap perubahan perilaku anak dan segera mengambil langkah perlindungan ketika ada tanda-tanda yang mencurigakan.
Mengapa Remaja Perempuan Lebih Rentan?
Banyak studi yang mencatat bahwa remaja perempuan cenderung lebih rentan terhadap perilaku child grooming. Ini tentu bukan tanpa alasan, beberapa penyebabnya antara lain sebagai berikut:
- Sosialisasi Emosional sejak Dini
Remaja perempuan umumnya dibesarkan untuk bersikap ramah, empatik, dan tidak enakan, termasuk pada orang yang lebih tua atau dianggap berotoritas. Nilai ini kerap membuat mereka sulit menolak perhatian, permintaan, atau kedekatan yang sebenarnya sudah melanggar batas, karena takut dianggap tidak sopan atau menyakiti perasaan orang lain.
- Kebutuhan Validasi
Kebutuhan akan validasi dan penerimaan sosial pada masa remaja sering kali lebih dibebankan pada perempuan. Tekanan terhadap penampilan, popularitas, dan pengakuan sosial, terutama di media sosial membuat pujian dan perhatian terasa sangat berarti. Kondisi inilah yang pada akhirnya dapat dimanfaatkan pelaku grooming untuk membangun kedekatan emosional dan ketergantungan secara perlahan.
- Kesenjangan Pengetahuan Orang Tua
Banyak orang tua merasa anak “lebih paham internet” sehingga mengurangi pengawasan. Padahal, bisa jadi sang anak justru terpapar risiko tanpa bekal penanganan. Di sisi lain, kurangnya ruang aman untuk bercerita juga memperbesar risiko bagi anak remaja ini menjadi korban. Mereka tidak bisa bercerita pada orang tua, takut, tidak dipercaya, disalahkan, atau dihakimi ketika mengungkap pengalaman tidak nyaman. Ketakutan ini membuat mereka memilih diam, yang justru memperpanjang proses grooming.
- Relasi Kuasa Berbasis Gender dan Usia
Dalam banyak budaya, termasuk di Indonesia, remaja perempuan masih diajarkan untuk patuh pada figur yang lebih tua, laki-laki, atau dianggap “berpengalaman”. Ketimpangan kuasa ini memberi ruang bagi pelaku untuk mengontrol, membungkam, atau menyalahkan korban ketika terjadi pelanggaran.
- Peran Platform Digital
Aplikasi chatting, media sosial, dan game online menyediakan pintu komunikasi yang mudah bagi pelaku untuk mengidentifikasi dan menjalin relasi dengan korban.
Pentingnya Pola Asuh dan Pembekalan Emosi dari Orang Tua
Pola asuh bukan soal mengawasi setiap gerakan anak, melainkan membekali mereka dengan keterampilan menghadapi relasi berisiko dan memberikan ruang aman untuk bicara. Beberapa langkah yang bisa dilakukan orang tua agar anaknya tidak menjadi korban child grooming antara lain:
1. Memberi Ruang Dialog Terbuka
Buat anak merasa bisa bercerita tanpa takut dimarahi. Jadi, ketika anak melapor, orang tua perlu bereaksi dengan tenang agar bisa mendeteksi dan melakukan penanganan lebih dini.
2. Pendidikan Literasi Digital dan Batasan Privasi
Ajarkan pada anak tentang batasan-batasan privasi yang tidak boleh dilihat dan disentuh oleh orang lain. Selain itu, orang tua juga perlu memberikan pemahaman tentang dunia digital kepada anak agar anak tahu risiko dan bahayanya.
3. Meningkatkan Keterampilan Asertivitas Anak
Latih anak untuk mengatakan “tidak” pada sesuatu yang sudah melanggar batas. Dengan begitu, anak tidak akan mudah dimanipulasi.
4. Berikan Pengawasan yang Proporsional
Orang tua memiliki peran penting sebagai pengawas dan pelindung, namun itu tidak selalu berarti harus mengontrol setiap aspek kehidupan anak. Cobalah untuk memberikan pengawasan sehat yang dibangun melalui kepercayaan, komunikasi terbuka, dan kehadiran emosional, bukan lewat pembatasan berlebihan yang membuat anak merasa diawasi tanpa dipahami.
Pada akhirnya, Broken Strings mengajarkan bahwa child grooming bukan selalu hadir sebagai kekerasan yang mudah dikenali, melainkan sering bersembunyi di balik perhatian, kedekatan, dan relasi yang tampak aman. Kisah yang dibagikan Aurelie Moeremans menjadi pengingat bahwa luka akibat grooming bisa bertahan lama, terutama ketika korban tidak memiliki ruang untuk didengar dan dilindungi. Dari cerita ini, kita belajar bahwa pencegahan tidak cukup dengan kewaspadaan semata, tetapi juga dengan membangun lingkungan yang berani membuka percakapan, mempercayai suara anak, dan berpihak pada pemulihan, bukan pada pembungkaman. (RIW)

