Pernahkah HEALMates memperhatikan bagaimana mata anak berbinar saat melihat warna-warna cat yang berpadu di atas kertas? Ya, dunia anak memang lekat dengan corat-coret warna, seolah dunia kecil mereka sedang belajar bicara lewat setiap goresan. Di balik coretan yang tampak sederhana, tersimpan imajinasi, emosi, bahkan cara mereka memahami hidup.
Karena itulah, melukis bisa jadi salah satu cara untuk mengasah kreativitas mereka nih, HEALMates. Melukis bukan cuma kegiatan untuk mengisi waktu luang, lebih dari itu bisa jadi jendela menuju dunia batin yang jujur, spontan, dan penuh rasa ingin tahu. Lewat warna-warna yang mereka pilih dan bentuk yang mereka buat, anak-anak sesungguhnya sedang belajar mengenal diri sendiri sekaligus dunia di sekitarnya.
Nah, supaya proses itu tumbuh lebih maksimal, orang tua dan guru bisa membantu mengasah kreativitas anak lewat aktivitas melukis dengan cara yang sederhana tapi bermakna. Yuk HEALMates, kita ulas beberapa tipsnya!
1. Sediakan Ruang dan Waktu Khusus untuk Melukis
Salah satu hal penting adalah memberi anak ruang bebas untuk bereksplorasi tanpa takut salah atau dikoreksi setiap saat. Ketika anak diberi kesempatan melukis di waktu yang cukup (misalnya 30 – 60 menit seminggu) dan di ruang yang nyaman, mereka bisa lebih fokus dan kreatif. Menurut artikel di Parenta, aktivitas melukis memungkinkan anak “Menjadi benar-benar tenggelam dalam proses kreatif” sehingga membantu regulasi perhatian dan emosi. Orang tua atau guru mungkin bisa menyediakan meja kecil dengan cat air, kuas, kanvas atau kertas besar, dan biarkan anak memilih warna serta tema sendiri.
2. Biarkan Anak Mengeksplorasi Media dan Teknik Sendiri
Tidak semua lukisan anak harus “bagus” atau menyerupai objek nyata ya, HEALMates. Penelitian menunjukkan bahwa dengan memberi anak berbagai media (cat air, akrilik, spidol, cat jari) dan membiarkan mereka bereksperimen, maka kreativitas serta imajinasi mereka justru bisa tumbuh lebih optimal. Ajak anak mencoba cat jari (finger painting), kuas besar, cat semprot (spray), atau kombinasi media. Yang terpenting adalah hindari memberikan komentar “Ini kurang bagus, ini nggak mirip, ini harus begini, dan lain-lain.” Sebab, komentar ini bisa menghambat eksplorasi dan kreativitas mereka.
3. Hubungkan Melukis dengan Cerita dan Emosi
Melukis juga bisa jadi jembatan antara apa yang dirasakan anak dengan bagaimana mereka mengekspresikan diri. Dalam bidang psikologi seni, disebutkan bahwa aktivitas seni, termasuk melukis dapat membantu anak mengenali emosi, mengolahnya, dan membangun kepercayaan diri serta kemampuan ekspresi. Nah, sebagai pendamping kita mungkin bisa mengajak anak menceritakan karya mereka setelah mereka selesai melukis. Misalnya, tanyakan kepada anak “Kenapa kamu memilih warna merah di sana?”, “Apa yang kucing itu lakukan, ya?” dan lain-lain.
4. Jadikan Melukis Sebagai Aktivitas Rutin
Ketika menemani anak melukis, kita perlu ingat bahwa konsistensi lebih penting daripada teknik yang sempurna. Jadi, kita bisa buatkan jadwal rutin untuk aktivitas melukis anak. Sediakan kotak cat dan kertas tersendiri, dan biarkan anak memilih tema sendiri setiap sesinya.
5. Beri Apresiasi
Sebuah studi oleh Crayola mengungkap bahwa 92% anak usia 6-12 tahun menganggap kreativitas membantu meningkatkan kepercayaan diri mereka. Jadi, kita mungkin bisa memberikan anak apresiasi tanpa harus memberikan tekanan bahwa mereka harus “bagus”. Gunakan kalimat seperti “Aku senang kamu mencoba warna ini”, “Cerita di lukisanmu menarik”. Dibanding menanggapi lukisan anak harus seperti ini dan itu, kita mungkin bisa fokus pada usaha dan keberanian anak dalam bereksperimen.
Nah, itulah beberapa tips mengasah kreativitas anak lewat aktivitas melukis yang bisa HEALMates terapkan. Pada akhirnya, yang paling berharga bukan seberapa indah hasil lukisannya, tapi seberapa bebas anak merasa saat menuangkan imajinasinya ke atas kanvas. (RIW)

