Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern yang semakin bising, banyak orang mencari cara sederhana untuk menenangkan pikiran. Ada yang memilih meditasi, ada yang melarikan diri ke alam, tapi tak sedikit pula yang menemukan ketenangan melalui musik, khususnya alunan soundscape dan lofi beats yang belakangan viral di media sosial. Pertanyaannya, apakah sekadar tren, atau benar-benar bisa menjadi bentuk terapi bagi tubuh dan pikiran? Yuk, HEALMates kita bahas lebih lengkap.
Apa Itu Soundscape?
Istilah soundscape ini mulanya berasal dari gabungan kata sound (suara) dan landscape (pemandangan). Jadi, soundscape sendiri bisa diartikan sebagai “pemandangan suara” atau suasana akustik tertentu yang membentuk pengalaman mendengar. Beberapa contoh yang bisa HEALMates perhatikan, misalnya suara hujan yang jatuh di atap rumah, suara ombak di pantai, suara jangkrik di malam hari, gemericik air sungai di pegunungan, dan lain-lain.
Soundscape bukan hanya sekadar rekaman suara alam. Ini bisa berupa kombinasi suara alami dan buatan manusia yang membentuk atmosfer tertentu. Dalam dunia seni, soundscape sering dipakai untuk menciptakan pengalaman imersif, sementara dalam dunia kesehatan, soundscape mulai diteliti sebagai bentuk terapi suara untuk menenangkan otak.
Apa Itu Musik Lofi Beats?
Nah, kalau bicara soal tren di media sosial, nama lofi beats tentu sudah tidak asing lagi, ya HEALMates. Lofi adalah singkatan dari low fidelity, yaitu musik dengan kualitas audio yang “tidak sempurna” atau terdengar sedikit noise. Namun justru di situlah daya tariknya.
Musik lofi biasanya berupa ketukan hip hop yang lembut, melodi sederhana dengan piano atau gitar, suara rekaman yang sengaja dibuat “kasar” atau berdesis, atau kadang disisipi efek seperti hujan, angin, atau suara kereta.
Ciri khas lofi beats adalah suasana yang santai, repetitif, dan menenangkan. Tidak ada lirik yang mengganggu, sehingga cocok dipakai sebagai background music saat belajar, bekerja, atau sekadar bersantai.
Di YouTube, ada kanal terkenal bernama Lofi Girl yang menampilkan animasi seorang gadis belajar ditemani kucing, dengan musik lofi yang diputar 24 jam non-stop. Kanal ini menjadi fenomena global, dengan jutaan penggemar.
Mengapa Lofi Beats Viral di Media Sosial?
Ada beberapa alasan mengapa musik lofi begitu populer, terutama di kalangan anak muda dan pekerja digital. Beberapa alasan paling umum yakni sebagai berikut:
- Mudah Diakses
Playlist lofi tersedia gratis di YouTube, Spotify, atau TikTok. Tinggal klik, lalu biarkan mengalun di latar.
- Memberi Rasa Nostalgia
Suara “berdesis” khas lofi memberi kesan hangat dan retro, seperti kaset lama. HEALMates akan merasakan nuansa seperti sedang bernostalgia sehingga memberikan kenyamanan emosional.
- Ritme Lambat dan Konsisten
Musik lofi beats tidak memiliki perubahan tempo yang drastis, sehingga otak tidak terganggu saat ingin fokus.
- Estetika Visual
Lofi sering dipadukan dengan ilustrasi cozy seperti ruangan yang homey, hujan di jendela, atau seseorang sedang membaca. Visual ini juga turut menambah nuansa damai dan menenangkan
- Meningkatkan Produktivitas
Banyak orang mendengarkan lofi untuk menemani belajar atau bekerja, sehingga muncul asosiasi bahwa lofi sama dengan fokus. Artinya, jika ingin lebih fokus dalam bekerja atau belajar, banyak orang memilih mendengarkan musik ini.
Focus Music untuk Konsentrasi
Selain lofi beats, ada lagi istilah lain yang juga banyak dicari orang, yakni focus music. Sesuai namanya, focus music adalah jenis musik yang dirancang atau dipilih secara khusus untuk membantu seseorang meningkatkan konsentrasi dan produktivitas.
Berbeda dengan musik hiburan yang biasanya punya lirik dan perubahan tempo dinamis, focus music cenderung berupa:
- Instrumental: tanpa vokal agar otak tidak terdistraksi kata-kata.
- Minimalis: dengan pola repetitif dan harmonisasi sederhana.
- Tempo stabil: biasanya berkisar 60-80 beats per minute (mirip detak jantung normal saat istirahat).
- Efek menenangkan: kadang dipadukan dengan suara alam atau soundscape.
Nah, lofi beats juga termasuk dalam salah satu kategori focus music, lho HEALMates. Selain itu, ada juga musik klasik seperti karya Mozart atau Bach yang dipercaya membantu spatial reasoning; ambient music berupa atmosferik yang tidak memiliki melodi dominan, binaural beats yakni musik dengan dua frekuensi berbeda yang diyakini memengaruhi gelombang otak.
Di berbagai platform streaming, bahkan ada playlist khusus dengan judul “Focus”, “Deep Work”, atau “Study Vibes” yang dikurasi oleh algoritma. Popularitasnya meningkat seiring budaya remote working dan belajar daring.
Musik Sebagai Terapi
Sejak lama, musik memang dipercaya mampu menyentuh sisi terdalam manusia. Bahkan, ada istilah music therapy yang sudah diakui secara ilmiah dan digunakan dalam berbagai pendekatan penyembuhan. Beberapa manfaat terapi musik menurut penelitian antara lain:
- Mengurangi stres dan kecemasan,
- Membantu tidur lebih nyenyak,
- Meningkatkan fokus dan konsentrasi,
- Mengurangi rasa sakit kronis,
- Membantu pemulihan pasien stroke atau gangguan neurologis.
Soundscape masuk ke dalam salah satu bentuk terapi suara karena memberikan efek menenangkan. Misalnya, mendengarkan suara hujan terbukti mampu menurunkan aktivitas gelombang otak yang berhubungan dengan kecemasan. Tak heran, banyak orang memilih playlist rain sound atau forest ambience saat ingin tidur.
Apakah Soundscape, Focus Music, dan Lofi Bisa Jadi Terapi?
Pertanyaan menariknya, apakah soundscape dan lofi hanya sekadar tren, atau memang bisa menjadi terapi? Menurut sejumlah sumber, musik memang bisa menurunkan stres. Musik dengan tempo lambat (seperti lofi) dapat menurunkan detak jantung dan tekanan darah. Banyak orang merasa lebih produktif dengan lofi karena ritmenya yang stabil. Soundscape seperti suara hujan atau ombak juga bisa menjadi “white noise” yang menenangkan. Mendengarkan repetisi musik lofi dapat menciptakan kondisi mirip meditasi, otak bisa lebih rileks tapi tetap terjaga.
Namun, tentu saja efeknya subjektif. Artinya, tidak semua orang bisa merasakan manfaat yang sama. Ada yang lebih suka musik klasik, ada juga yang lebih tenang tanpa suara apapun, dan ada juga orang yang lebih suka musik dengan lirik. Sebab, masing-masing orang memiliki preferensi masing-masing.
Fenomena “Self-Therapy” di Era Digital
Menariknya, generasi sekarang banyak menggunakan musik lofi, focus music, atau soundscape sebagai bentuk self-therapy. Di tengah jadwal yang padat, tidak semua orang punya akses ke psikolog atau ruang meditasi. Maka, menyalakan playlist di Spotify atau YouTube menjadi cara sederhana untuk merawat kesehatan mental.
Di TikTok misalnya, banyak video belajar ditemani musik lofi yang viral. Ada juga konten kreator yang mengunggah soundscape khusus untuk tidur. Hal ini menunjukkan bagaimana teknologi membawa musik terapeutik ke ruang pribadi setiap orang.
Meskipun soundscape dan lofi membantu, namun HEALMates juga perlu memahami bahwa jenis musik ini bukanlah pengganti terapi medis. Jika seseorang mengalami depresi berat atau gangguan kecemasan kronis, musik hanya bisa menjadi pelengkap, bukan solusi utama.
Namun, sebagai pendukung gaya hidup sehat, musik ini memang terbukti bermanfaat. Bahkan, WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) pernah merilis laporan tentang bagaimana seni, termasuk musik, dapat meningkatkan kesehatan masyarakat.
Jadi, apakah soundscape bisa jadi terapi? Jawabannya ya, dengan catatan! Meski bukan obat mujarab untuk semua masalah, soundscape, focus music, dan lofi beats terbukti mampu menenangkan, membantu fokus, dan meningkatkan kualitas hidup sehari-hari.
Di era digital yang penuh distraksi, mungkin kita memang butuh sesuatu yang sederhana namun efektif. Siapa sangka, alunan ketukan lofi dan suara hujan buatan bisa menjadi “pelukan suara” yang membantu kita bertahan?
Pada akhirnya, musik selalu punya cara unik untuk menyembuhkan. Entah itu simfoni klasik, dentingan gitar akustik, atau sekadar desiran hujan yang diputar dari speaker. Menarik ya, HEALMates? (RIW)

