Logo Heal

ART, MONEY & TECHNOLOGY

Art, Money & Technology

Apakah Lebih Banyak Uang Membuat Kita Lebih Bahagia? Ternyata Nggak Sesederhana Itu

Apakah Lebih Banyak Uang Membuat Kita Lebih Bahagia? Ternyata Nggak Sesederhana Itu

Oleh :

Kita sering tumbuh dengan satu keyakinan yang nyaris tak pernah dipertanyakan, kalau uang lebih banyak, hidup pasti lebih tenang. Tidak perlu pusing soal tagihan. Tidak cemas memikirkan besok. Bisa membeli kenyamanan, keamanan, dan kebebasan. Rasanya logis. 

Tapi semakin dewasa, semakin banyak orang justru menemukan paradoksnya bahwa penghasilan naik, kebutuhan terpenuhi, namun rasanya kita nggak selalu bahagia. Jadi, apakah anggapan yang selama ini tertanam di benak kita masih relevan? Apakah lebih banyak uang membuat kita lebih bahagia? Ternyata ukuran kebahagiaan nggak sesederhana angka di rekening ya, HEALMates. 

Uang dan Ilusi Rasa Aman

Secara psikologis, uang memang berkaitan erat dengan sense of control, perasaan bahwa hidup berada dalam genggaman kita. Menurut Wijesekera, PhD, seorang psikolog klinis sekaligus direktur Milika Center for Therapy & Resilience, kondisi ekonomi yang sulit berkaitan erat dengan stres berkepanjangan dan meningkatnya risiko gangguan kesehatan mental.

Menurutnya, hidup dalam tekanan finansial membuat seseorang jauh lebih sulit merasakan ketenangan emosional. Meski begitu, keterbatasan ekonomi tidak otomatis meniadakan kebahagiaan, hanya saja jalannya memang lebih menantang.

Sementara itu, Kristin Anderson, LCSW, pendiri Madison Square Psychotherapy, menyoroti bahwa banyak budaya masih menempatkan uang sebagai sumber utama kebahagiaan, padahal realitas psikologisnya jauh lebih kompleks.

Saat kebutuhan dasar terpenuhi, otak berhenti berada dalam mode bertahan (survival mode). Tingkat stres menurun, kecemasan soal makan, tempat tinggal, dan kesehatan berkurang. Di titik inilah, uang benar-benar berkontribusi pada kesejahteraan. Namun, setelah kebutuhan dasar aman, hubungan antara uang dan kebahagiaan pun mulai berubah. Kita tidak lagi mengejar aman, tapi mengejar “yang lebih”. Padahal,  “lebih” itu sulit diukur karena setiap manusia tidak pernah punya garis akhir untuk keinginan “lebih”.

Adaptasi Hedonik Membuat Rasa Bahagia Jadi Biasa

Dalam psikologi, ada konsep bernama hedonic adaptation, yakni kemampuan manusia untuk cepat terbiasa dengan kondisi baru, termasuk kondisi yang lebih baik. Misalnya, gaji naik kebahagiaan yang dirasakan cuma sebentar, hingga nantinya hidup yang terasa lebih nyaman ini jadi terasa normal atau biasa.

Standar kebahagiaan kita pun ikut naik. Yang dulu mewah, kini terasa biasa. Yang dulu cukup, kini terasa kurang. Akibatnya, kita terus berlari, tapi titik puas selalu bergeser. Bukan karena kita tidak bersyukur, tapi karena otak memang dirancang untuk menyesuaikan diri.

Selain itu, tekanan sosial dan perbandingan dengan kehidupan orang lain juga membuat seseorang tidak pernah merasa bahagia meski hidup dalam kelimpahan materi. Lebih banyak uang sering datang bersama standar sosial baru, ekspektasi meningkat dan perbandingan semakin sering. Alih-alih merasa cukup, kita justru lebih sering merasa tertinggal, karena selalu ada orang yang “lebih” dari kita.

Secara psikologis, social comparison adalah salah satu sumber utama ketidakpuasan. Bukan karena hidup kita buruk, tapi karena kita membandingkannya dengan versi terbaik hidup orang lain.

Pentingnya Rasa Cukup dan Syukur

Pada titik inilah, rasa cukup dan syukur akan kehidupan yang kita miliki sangat penting. Rasa cukup dan syukur bukan sekadar sikap spiritual, tetapi juga kebutuhan psikologis untuk memperoleh makna kebahagiaan yang sesungguhnya. Bukan kebahagiaan yang ditakar dengan uang. 

Secara psikologis, rasa cukup membantu otak berhenti dari siklus tanpa akhir yang selalu ingin “lebih”. Tanpa rasa cukup, kita akan terus mengejar validasi dari luar. Tanpa rasa cukup, kebahagiaan selalu ditunda ke masa depan. Rasa cukup ini membantu kita kapan waktunya harus berhenti menyiksa diri dengan perbandingan dan melindungi kesehatan mental.

Syukur bukan menutup mata dari kesulitan, tetapi memilih untuk tidak tinggal di sana. Saat kita bersyukur, fokus pikiran bergeser, dari kekurangan ke keberlimpahan, dari ancaman ke peluang, dari kecemasan ke penerimaan. Rasa cukup memberi kita batas, sedangkan rasa syukur membantu kita memaknai kedamaian dalam hidup. Keduanya membuat kita tidak lagi hidup dalam mode “kejar terus”, melainkan “hadir dan menikmati”.

Jadi, apakah lebih banyak uang membuat kita lebih bahagia? Jawabannya, nggak selalu ya, HEALMates. Uang memberi kita rasa aman “secure” sementara secara psikologis yang dapat membantu kita untuk damai dan bahagia adalah perasaan “cukup” dan “syukur”. Sudahkah HEALMates bersyukur hari ini? (RIW)

Bagikan :
Apakah Lebih Banyak Uang Membuat Kita Lebih Bahagia? Ternyata Nggak Sesederhana Itu

More Like This

Logo Heal

Kamu dapat menghubungi HEAL disini:

Heal Icon

0858-9125-3018

Heal Icon

00 31 (0) 6 45 29 29 12

Heal Icon

heal@sahabatjiwa.com

Copyright © 2023 HEAL X  Sahabat Jiwa