Di mata banyak orang tua, uang saku sering dianggap sebagai hal kecil, sekadar lembaran ribuan yang diselipkan setiap pagi supaya anak bisa jajan di sekolah. Tapi, tahukah HEALMates kalau dari “uang kecil” ini sebenarnya ada pelajaran besar yang bisa anak pelajari?
Yes, uang saku bukan cuma alat transaksi untuk jajan di kantin. Lebih dari itu, uang saku bisa jadi kelas mini yang mengajarkan manajemen keuangan, disiplin, hingga pengendalian diri, lho.
Menariknya lagi, kebiasaan anak mengelola uang sejak usia dini ini terbukti punya pengaruh jangka panjang terhadap kemampuan mereka mengambil keputusan finansial saat dewasa. Oleh karena itu, artikel ini akan mengajak HEALMates untuk menggali lebih dalam tentang apa sih yang bisa anak pelajari dari uang saku mereka. Yuk, simak HEALMates!
Kenapa Anak Perlu Belajar Kelola Uang Sejak Dini?
Menurut American Psychological Association, kebiasaan finansial seseorang sudah mulai terbentuk pada usia 7 tahun. Ini juga sejalan dengan sejumlah studi dari University of Cambridge (2013) bahwa konsep dasar finansial, seperti menabung, menunda keinginan, dan memahami nilai uang ini sejatinya telah mulai mengakar sejak usia sekolah dasar.
Jadi kalau selama ini kita berpikir, “Ah, nanti aja deh anak belajar keuangannya pas gede,” risikonya justru kebiasaan konsumtif atau impulsif sudah kadung terbentuk duluan. Kalau sudah begini, bisa lebih repot ya, HEALMates?
Karena itulah, belajar mengelola uang saku bisa jadi titik awal yang tepat bagi anak untuk belajar manajemen keuangan.
Apa yang Bisa Anak Pelajari dari Uang Saku?
Sebagai gambaran, berikut ini beberapa hal yang bisa anak pelajari dari uang saku mereka.
1. Mengenal Perbedaan Butuh dan Ingin
Uang saku memungkinkan anak belajar membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Misalnya, mereka harus memilih antara membeli air mineral yang memang sehat dan dibutuhkan tubuh atau es teh jumbo dengan topping jeli yang lebih menggoda tapi belum tentu sehat. Nah, tantangan sederhana ini bisa membantu mereka untuk lebih memahami prioritas.
Menurut psikolog anak, Elizabeth Gershoff, anak-anak yang terbiasa diberi kesempatan mengambil keputusan finansial kecil cenderung lebih percaya diri dan lebih bertanggung jawab terhadap pilihannya di masa depan.
2. Manajemen Keuangan Dasar
Dari uang saku harian atau mingguan, tanpa disadari anak akan belajar beberapa hal:
- Membuat anggaran sederhana: apakah uang ini cukup sampai Jumat?
- Menghitung pemasukan dan pengeluaran: habis digunakan untuk apa saja?
- Menabung: kalau ingin beli sesuatu yang lebih mahal, mereka harus konsisten menyisihkan sebagian.
Pelajaran ini bahkan lebih praktikal dibandingkan rumus matematika yang kadang mereka sendiri bingung kapan dipakainya.
3. Melatih Kemampuan Menunda Kepuasan
Salah satu fondasi terkuat dalam kecerdasan finansial adalah kemampuan delayed gratification atau menunda kesenangan saat ini demi tujuan lebih besar. Konsep ini diperkenalkan lewat eksperimen Marshmallow Test oleh Walter Mischel, salah satu psikolog dari Stanford yang menemukan bahwa anak-anak yang mampu menunda keinginannya cenderung memiliki prestasi akademik dan kontrol diri lebih baik saat dewasa. Uang saku memberi ruang praktik nyata untuk mendapatkan kemampuan ini.
4. Menumbuhkan Rasa Tanggung Jawab
Ketika anak diberi uang saku, mereka punya rasa “kepemilikan.” Ini bukan uang mama atau papa lagi, tapi ini uang mereka. Pada titik inilah, konsep tanggung jawab mulai terbentuk. Mereka belajar bahwa kalau uangnya habis, konsekuensinya harus menunggu sampai jatah berikutnya, bukan merengek supaya ditambah. Dengan kata lain, uang saku membantu anak belajar menghadapi konsekuensi finansial secara aman, terkontrol, dan tidak menyakitkan.
5. Membangun Kebiasaan Finansial yang Lebih Sehat
Dari praktik mengelola uang saku setiap harinya, anak akan mulai membangun kebiasaan keuangan yang sehat, seperti:
- Tidak membeli sesuatu secara impulsif.
- Terbiasa menyisihkan sebagian uang.
- Menetapkan tujuan finansial.
- Membuat rencana sebelum membeli.
Kebiasaan ini bisa jadi dasar dari literasi keuangan yang sehat. Dibanding memberikan pengetahuan keuangan lewat teori, anak bisa berpraktik sendiri sehingga akan lebih mudah dipahami.
6. Memahami Nilai Usaha dan Apresiasi terhadap Uang
Beberapa keluarga memberi uang saku tambahan jika anak melakukan tugas tertentu, seperti membantu pekerjaan rumah atau menunjukkan kedisiplinan tertentu. Ini mengajarkan anak bahwa uang harus dihasilkan, bukan sekadar diberikan. Konsep sederhana ini membangun rasa apresiasi terhadap kerja keras, dan itu akan jadi bekal penting saat mereka tumbuh.
Pada akhirnya, orang tua bisa mengoptimalkan uang saku anak dan membersamai mereka dalam mengambil keputusan pemanfaatan uang saku mereka. Di dunia yang makin konsumtif seperti saat ini, memberi anak uang saku bukan sekadar memberi mereka alat untuk jajan. Lebih dari itu, langkah ini bisa jadi cara sederhana namun efektif untuk membangun generasi yang lebih bijak secara finansial.
Nah kalau HEALMates sendiri, dulu belajar apa dari uang saku pertamamu? (RIW)

